Malam Bulan Ramadhan ke-13 (Sabtu, 23 Maret 2024) Maiyah Pasuruan Sulthon Penanggungan menggelar Sinau Bareng dengan tema OPER DOSIS yang dimulai tepat jam 21:00 WIB. Sedikit mundur satu jam karena menghormati Sholat Sunnah Tarawih dan witir yang diperjuangkan. Tawashshul dibuka oleh Cak Taufiq dan dilanjutkan membaca surat Ar-Rahman oleh Cak Rohim sebagai tanda pembuka jalan tebaran kasih sayang antar pegiat Maiyah Pasuruan.
Selanjutnya sholawat serta salam di dengungkan oleh Cak Luqman dan para tim penabuh Banjari yang sudah mengisi area yang telah disiapkan. Lantunan syahdu dan ketukan penuh improvisasi oleh Mas Zaki menjadi deru energi semangat bersama meminta syafaat Baginda Rasulullah SAW.
Kemudian Do’a Khotmil Qur’an sebagai puncak rasa syukur atas pasukan pembaca Al-Qur’an dengan menghatamkan Al-Qur’an setiap dua minggu sekali yang sudah bergulir pada seri ke-170 dan bersama-sama membacakan Wirid Padhang Mbulan sebagai penutup sesi pertama sebelum diskusi.
Malam hari itu Cak Taufiq yang didapuk menjadi moderator menggantikan Cak Hasan yang sedang berhalangan untuk membuka sesi berikutnya. Sapa salam Cak Taufiq kepada para pegiat yang sudah hadir sembari me-review prolog yang sudah dipublikasikan sebelumnya dan kemudian mempersilahkan Cak Umar untuk memberikan pondasi beberapa point terkait konteks tema “OPER DOSIS”.
Cak Umar memberi gambaran ringkas pada kata OPER DOSIS yang berarti mengendalikan sesuatu “Hawa Nafsu” yang sudah melebihi kadarnya. Beliau memberi makna hakikat sebuah nafsu yang sudah melekat pada hidup manusia bahkan saat tertiupnya ruh. Oleh karena itu hawa nafsu adalah fitrah manusia yang diperjuangkan untuk dikendalikan agar tidak menjadi sembilan penyakit hati yang terkadang tertanam pada diri manusia namun tidak terdeteksi bahkan penyakit tersebut menjadi laku kendali langkah manusia hidup di dunia. Sembilan penyakit hati itu adalah Ujub, Riya’, Al Hiqh wal Hasad, Ghadab, Tamak, Al Ya’s, Lalai-lupa, Was-was, dan Al Ghurur. Penyakit tersebut bisa kita deteksi dan kita ambil alih menjadi manfaat baik dengan cara meningkatkan Kesadaran Diri, Kesadaran Spiritual, maupun Disiplin Diri.” Ujar Cak Umar sekaligus menutup pointnya.

Sebelum memasuki sesi diskusi selalu ada jeda sebagai penyegar suasana karena pengetahuan akan diserap lebih sempurna jika disampaikan dengan cara memberi kabar gembira yang menggembirakan. Sesi kali ini diisi perform oleh Cak Ulum yang menyanyikan sebuah lagu berjudul “Rana Duka” Ciptaan Bang Haji Rhoma Irama dengan versi musik kekinian. Kemudian dilanjutkan perform kedua oleh Cak Khoirul yang menyanyikan lagu berjudul “Panggung Sandiwara” versi Sheila on 7 yang juga pernah dipopulerkan oleh mendiang Nike Ardila.
Pada sesi diskusi banyak yang mempertanyakan batas sembilan penyakit hati karena begitu samar dan halus pada diri sampai tak terasa terkadang kita dalam kendalinya. Namun di situlah peperangan sampai akhir hayat manusia yaitu mujahadah melawan keniscayaan hawa nafsu yang melekat pada diri manusia. Muhasabah terus menerus setiap waktu dan laku kita dengan menata niat dan juga menimbang dampak sosial yang terjadi di sekitar kita, apakah nafsu itu mengarah pada mudharat ataukah sebagai ladang selamat untuk diri dan di luar diri kita.
Sebelum ditutup diskusi, Cak Luthfi menambahkan sedikit terkait kata DOSIS dengan perpektif medis yang meng-elaborasi logo apotik bersimbol seekor ular dan sebuah gelas yang berasal dari mitologi Yunani. Maknanya bahwa takaran itu harus tepat karena jika berlebihan akan termakan oleh ular tersebut akan menjadi racun. Begitu juga api nafsu yang harus kita kendalikan agar tidak membakar hati kita. Beliau juga memaknai Puasa Ramadhan adalah ajang kita berlatih seimbang dengan tujuan mempuasakan hidup kita tidak hanya pada bulan puasa Ramadhan namun sepanjang zaman seperti tulisan Mbah Nun di Harian Jawa Pos tahun 1997 kala itu dalam kolom Tafakkur Ramadhan.
Selanjutnya menggemakan wirid Hasbunallah yang dipimpin oleh Cak Sule sebagai sikap rengkuh rendah hati meminta perlindungan Allah SWT. Kemudian dipungkasi dengan doa oleh Cak Luthfi sebagai gong penutup acara Sinau Bareng malam hari itu. Satu-persatu berjibaku membungkus perlengkapan acara dan pulang bagi yang punya keperluan, namun sebagian lainnya masih melanjutkan bersenda-gurau hangat hingga waktu sahur bersama tiba.
(Redaksi Sulthon Penanggungan)








