Dalam beberapa bulan yang lalu Maiyahan kami membuka diskusi tentang “Gegolet”—di mana tanpa kita sadari setiap manusia dalam proses kesadaran penuh ataupun tidak, pasti menjalankan proses itu. Kita mencari jati diri, mencari makna hidup, mencari asal-usul, dan pada akhirnya mencari Tuhan dalam denyut kehidupan sehari-hari.
Dalam proses “Gegolet” kita menanamkan niat dalam diri kita sendiri untuk mencari tahu tentang siapa kita. Maka proses selanjutnya yang harus kita lakukan setelah mempunyai niat “Gegolet” adalah “Nguculi”.
“Nguculi” merupakan frasa yang sering diucapkan oleh Masyarakat Jawa terutama Jawa Tengahan dan Banyumasan. Berasal dari kata dasar “Ucul” yang berarti lepas atau terbuka kemudian mendapat awalan “Ng” yang berarti proses melepaskan diri atau membuka diri. Kata ini digunakan dalam konteks sehari-hari untuk merujuk pada tindakan fisik melepaskan sesuatu yang terikat. Namun secara filosofis “Nguculi” sering kali dikaitkan dengan konsep pelepasan dalam kehidupan, baik secara fisik maupun mental.
Sesorang yang sedang dalam proses “gegolet” harus “nguculi” segala yang ada dalam dirinya. Melepaskan ego dan kesombongan bahwa dirinya sudah tahu segalanya. Membuka pikiran dari keterikatan duniawi, proses “gegolet” sering kali diiringi dengan usaha untuk melepaskan keterikatan berlebihan pada hal-hal material atau kedudukan sosial.
Mengosongkan diri untuk diisi kembali, mirip seperti konsep bejana seseorang perlu mengosongkan “isi” lama yang mungkin sudah tidak relevan atau menghalangi, untuk kemudian diisi dengan pengetahuan dan nilai-nilai baru yang bermanfaat. Secara keseluruhan, filosofi “Nguculi” mengajarkan bahwa dalam proses mencari atau “gegolet” bahwa bukanlah hanya sekedar menghafal fakta, tetapi merupakan perjalanan spiritual dan mental yang membutuhkan kesediaan untuk melepaskan hambatan internal demi mencapai kebijaksanaan dan kemanfaatan yang sejati.
Pada akhirnya seperti konsep “Nguculi” di atas, mari kita buka diskusi pada rutinan bulan ini dengan hati yang siap melepaskan keegoan kita, namun kita siap diisi dengan pikiran yang bebas namun tetap rendah hati, dengan semangat menuju kemanfaatan yang sejati.
(Redaksi Cirrebes/Muhammad Amrullah)








