Kita hidup di zaman ketika banyak hal tampak berjalan, tetapi arah semakin kabur. Informasi berlimpah, teknologi maju, dan wacana berganti setiap hari. Namun di balik itu, makna terasa menipis, keseimbangan hidup goyah, dan manusia makin mudah lelah. Bukan karena kurang daya, melainkan karena kehilangan pijakan. Bisakah kita mengkalkulasi ulang langkah dan menggali makna lebih dalam dari tiap perjalanan?
Manusia bukan sekadar makhluk yang bertahan hidup secara fisik atau menjalani aturan tanpa pemaknaan. Kehilangan makna bukan perkara sepele, ia membentuk watak sosial. Ketika jutaan individu hidup dalam kondisi serupa. Lelah secara mental, lapar pengakuan, dan kebingungan arah, maka masyarakat menjadi rapuh menghadapi tekanan. Dari sini, persoalan keseharian perlahan naik kelas menjadi masalah publik.
Simbah pernah memberikan kunci hidup “Manusia menggali jawaban dari pertanyaan yang dihadirkan Allah kepadanya melalui manusia lain. Seorang kuli bengkel motor belajar dari setiap kerusakan motor. Universitas manusia adalah problemnya. Di sisi itu semua ada rumus: Kalau Tuhan mengamanatkan problem, Ia menyertakan fasilitas atau rezekinya, berupa apapun”. Sebagai pejalan Maiyah, sudahkan kita erat memegang kunci itu?
Ngeduk jero dimaknai dengan proses memulai perubahan dengan mengelola kesadaran supaya tepat mengambil keputusan. Maiyah menjadi ruang belajar bersama yang merdeka, ruang menguji pemahaman dengan pengalaman satu sama lain, dan menemukan langkah nyata yang paling mungkin dilakukan pada pribadi dan di tengah masyarakat. Dari proses inilah perubahan yang lebih nyata bisa tumbuh.
Jika ngeduk jero berarti berani menggali ke dalam diri, sampai di titik mana kita sungguh melakukannya?
Dari diri, ke laku, ke masyarakat, hingga ke negara, apakah perubahan yang kita inginkan sedang berjalan, atau baru berhenti di permukaan wacana?
Kita sering merasa sudah belajar dan paham, tetapi bagaimana praktiknya dalam hidup sehari-hari?
Hari: Sabtu, 14 Februari 2026
Waktu: 20.00 WIB
Lokasi: Toko AA Mejasem Pandaan Pasuruan
Tema: Ngeduk Jero








