Budaya sudah mengalami degradasi makna yang perlahan tercerabut dari akar pengertiannya. Bisa dibuktikan, ketika mendengar kata budaya pasti asosiasi yang muncul hanya terbatas pada seni pertunjukan seperti Reog Ponorogo, jathilan, ludruk, atau dalam bentuk arsitektur seperti candi atau tempat-tempat bersejarah yang memiliki makna. Tidak salah berpikir seperti itu. Namun, lebih tepatnya semua simbol dan kesenian itu adalah output dari yang namanya “budaya”.
Kita tahu Mbah Nun juga sering disebut budayawan. Tapi tahukah kita bagaimana sebenarnya Mbah Nun memahami budaya dan apa arti penting budaya menurut beliau? Dalam sebuah esai “apa pentingnya budaya?” beliau Memberikan pintu masuk yang sangat fundamental untuk memahami arti budaya. Bahwa salah satu pengertian budaya adalah mutu berekspresi manusia.
Ekspresi apa yang dimaksud oleh Mbah Nun sebagai elemen penting dalam budaya? Lalu, bagaimana ekspresi itu dipraktekkan dalam kehidupan sehari hati sehingga kita bisa secara sempurna “ngabudaya”?
Jawaban itu akan kita temukan bersama sama dalam forum bangbang wetan edisi bulan Februari 2026 di pendopo Cak Durasim. ” Mari memaknai budaya bukan sebagai kegiatan insidental. Tetapi sebagai laku kita setiap hari ”
Teko yo rek, Ngabudaya bareng-bareng.(Redaksi Bangbang Wetan)








