Kita sering mengeluh tentang zaman yang kering kasih sayang, seolah dunia semakin gaduh oleh kebencian, saling mencurigai, dan kelelahan hati. Namun jarang kita bertanya: sudahkah kita menanam cinta hari ini? Sudahkah kita nandur tresno, atau kita hanya sibuk memanen luka?
Cinta bukan warisan. Ia bukan sesuatu yang turun dari langit begitu saja. Tresno itu benih yang harus ditanam di tanah diri: di pikiran yang jernih, di laku yang sabar, di tutur yang santun, dan di dada yang berani memaafkan. Tanpa kesediaan menanam, kita hanya akan menjadi penonton dari ladang-ladang yang mengering.
Nandur tresno bukan pekerjaan besar yang harus menunggu hebat. Ia bermula dari hal paling kecil: menahan diri untuk tidak menyakiti, memilih kata yang tidak melukai, mendengar tanpa ingin menang, dan memberi tanpa ingin dikenang. Di situlah cinta menemukan rumahnya.

Di Forum Maiyah Sendhon Waton kita tidak sedang mencari siapa yang paling benar, tidak pula berlomba siapa yang paling pintar bicara. Kita sedang belajar menjadi petani hati: membersihkan gulma ego, menggemburkan tanah batin, lalu menanam benih-benih tresno dengan sabar tanpa pamer, tanpa pamrih.
Sebab hanya mereka yang menanam dengan ikhlas yang kelak berhak memetik buah peradaban yang teduh. Dan bila suatu hari dunia kembali ramah, mungkin itu bukan karena sistem yang sempurna, melainkan karena ada sekelompok manusia yang diam-diam setia nandur tresno di ladang hidupnya masing-masing.
REMBANG, 12 Januari 2026
Simpul Maiyah Sendhon Waton








