Ada masa dalam hidup manusia ketika langkah terasa berat, doa terasa pendek, dan dunia terasa terlalu bising. Hati ingin diam, tapi keadaan memaksa berlari. Di saat seperti itulah kita sering lupa: bahwa Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya menanggung beban sendirian. Isra Mi’raj bukan hanya kisah langit, tapi kisah tentang Tuhan yang mendatangi manusia yang sedang lelah. Itulah Ajibatullah, keajaiban dari Allah.
Nabi Muhammad SAW mengalami Isra Mi’raj bukan di saat beliau sedang jaya, tapi justru setelah luka demi luka menimpa hidupnya. Orang-orang yang beliau cintai wafat, dakwah ditolak, tubuh dan batin sama-sama diuji. Dan di titik itulah Allah “mengajak naik”. Bukan untuk pamer mukjizat, tapi untuk menyembuhkan jiwa Rasul-Nya. Maka Mi’raj sesungguhnya adalah terapi dari Allah.
Di zaman kita hari ini, manusia memang tidak ditolak di Thaif, tapi ditolak oleh keadaan. Kita tidak dilempari batu, tapi dilempari tuntutan hidup. HP kita pintar, informasi berlimpah, tapi hati sering kehabisan tenaga. Kita cepat sampai ke mana-mana, tapi sering tidak tahu sedang menuju ke mana. Barangkali, luka kita hari ini berbeda bentuknya, tapi kelelahan jiwa kita sama.
Mi’raj mengajarkan satu hal penting: jarak yang tak terhingga bisa ditempuh dalam waktu yang sangat singkat jika Allah yang menghendaki. Ilmu pengetahuan baru mulai memahami bahwa waktu dan ruang tidak mutlak. Teknologi berusaha mengejar kecepatan, tapi Mi’raj menunjukkan bahwa kedekatan dengan Allah jauh lebih cepat daripada mesin mana pun. Di sinilah iman, sains, dan kemanusiaan bertemu dalam satu titik hening.
Dalam diskusi ini, kita tidak akan membicarakan Mi’raj sebagai cerita masa lalu yang jauh dari hidup kita. Kita akan membicarakannya sebagai pola hidup, sebagai cara Allah menenangkan manusia yang nyaris putus asa, sebagai jalan pulang bagi jiwa-jiwa yang terlalu lama sibuk mengurusi dunia. Shalat tidak akan kita bahas sebagai kewajiban kaku, tapi sebagai ruang terapi yang sering kita abaikan.
Maka, Jamaah Maiyah Sulthon Penanggungan, mari kita duduk bersama, menurunkan ego, dan membuka hati. Kita rawat kembali makna Mi’raj sebagai obat, bukan sekadar peristiwa. InsyaAllah, pada Sabtu malam, 31 Januari 2026, kita akan belajar pelan-pelan: bagaimana caranya tetap menjadi manusia utuh di tengah dunia yang makin cepat. Karena bisa jadi, yang paling kita butuhkan hari ini bukan naik jabatan, bukan naik penghasilan, tapi naik menghadap Allah. #Redaksi_SP








