Isra’ Mi‘raj sering dipahami sebagai peristiwa spektakuler yang melampaui hukum ruang dan waktu. Namun Al-Qur’an sejak awal menegaskan bahwa hakikatnya bukanlah keajaiban fisik, melainkan mi‘raj kehambaan—kenaikan seorang hamba menuju Tuhan melalui kepasrahan total.
Ayat pertama Surah Al-Isra dibuka dengan satu kata yang mengguncang cara kita memandang realitas: Subḥana. Maha Suci. Seolah Allah mengajak manusia membersihkan seluruh prasangka tentang apa yang mungkin dan tidak mungkin, karena yang akan ditampakkan bukanlah prestasi manusia, melainkan kemurnian kehendak Ilahi yang senantiasa luar biasa. Isra’ Mi‘rāj adalah deklarasi bahwa keterbatasan manusia tidak pernah menjadi batas bagi Tuhan, dan bahwa yang diangkat oleh Allah bukanlah kekuatan, melainkan ketundukan.
Karena itu, Allah tidak menyebut Nabi Muhammad sebagai rasul atau nabi, tetapi sebagai ‘abdihi—hamba-Nya. Dalam satu kata itu terkandung seluruh rahasia Mi‘raj. Puncak kedekatan dengan Allah tidak dicapai oleh orang yang merasa paling suci atau paling berjasa, tetapi oleh mereka yang paling lepas dari klaim atas dirinya sendiri.
Kehambaan adalah keadaan di mana manusia berhenti menuhankan identitas, peran, dan pencapaiannya, lalu sepenuhnya menyadari bahwa dirinya hanyalah milik Allah. Nabi tidak naik ke langit karena statusnya di mata manusia, melainkan karena kedalaman penyerahannya di hadapan Tuhan.
Di titik inilah konsep Abdan–Abdiyya dalam Maiyah menemukan cerminnya. Abdan–Abdiyya adalah kesatuan antara manusia sebagai tubuh sosial dan manusia sebagai hamba. Abdan adalah diri kita yang hadir di dunia: bekerja, berperan, bermasyarakat, dan memikul tanggung jawab kemanusiaan. ‘Abdiyya adalah kesadaran bahwa seluruh keberadaan itu hanyalah sarana pengabdian kepada Allah. Keduanya tidak boleh terpisah.
Spirit tanpa peran sosial melahirkan kesalehan yang steril, sedangkan peran sosial tanpa kehambaan melahirkan kesombongan yang halus. Isra’ Mi‘raj menunjukkan bahwa yang diangkat ke langit adalah manusia yang utuh: yang abdan-nya hidup di dunia dan abdiyya-nya tenggelam dalam Tuhan.
Perjalanan itu terjadi pada malam hari, dalam ruang sunyi di mana topeng sosial runtuh dan yang tersisa hanyalah diri yang rapuh di hadapan Allah. Malam adalah waktu ketika manusia berhenti berpura-pura dan mulai jujur. Dalam kesunyian itulah Nabi diperjalankan, seolah Allah sedang mengajarkan bahwa setiap mi‘rāj sejati selalu dimulai dari keberanian untuk masuk ke dalam keheningan batin.
Allah memperjalankan Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, dari pusat tauhid menuju pusat sejarah kenabian. Ini bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan penyatuan antara spiritualitas dan tanggung jawab peradaban. Masjidil Haram melambangkan hubungan manusia dengan Allah, sedangkan Masjidil Aqsha melambangkan amanah terhadap umat, sejarah, dan keadilan. Mi‘raj yang sejati tidak memutus seseorang dari dunia, tetapi justru mengikatnya lebih dalam kepada tugas-tugas kemanusiaan.
Karena itu Nabi tidak tinggal di langit. Beliau kembali. Kembalinya Nabi setelah Mi‘raj adalah puncak makna kehambaan: bahwa kedekatan tertinggi dengan Allah justru melahirkan komitmen tertinggi untuk melayani manusia. Inilah teladan Abdan–Abdiyya dalam bentuk paling sempurna—setelah tenggelam dalam hadirat Tuhan, Nabi turun kembali ke bumi untuk mengajar, membela, menuntun, dan mengasihi.
Di zaman yang penuh kebisingan dan kelelahan makna, Isra’ Mi‘raj bertanya kepada kita: sejauh mana jiwa kita telah naik, dan sejauh mana kita bersedia turun untuk melayani? Shalat, doa, dan kesadaran bukanlah jalan melarikan diri dari dunia, melainkan energi untuk kembali ke dunia dengan hati yang lebih jernih. Setiap kali seorang hamba berdiri menghadap Allah dengan khusyuk, sejatinya ia sedang melakukan mi‘raj kecilnya sendiri, agar setelah itu ia bisa hadir sebagai manusia yang lebih sabar, lebih adil, dan lebih berguna.
Isra’ Mi‘raj bukan peristiwa masa lalu. Ia adalah undangan yang terus terbuka bagi siapa pun yang mau hidup dalam jalan Abdan–Abdiyya: hadir sepenuhnya di dunia, dan bersandar sepenuhnya kepada Allah. Sebab Dia yang memperjalankan Nabi di malam itu adalah Tuhan yang sama yang hari ini masih Maha Mendengar dan Maha Melihat setiap langkah pengabdian para hamba-Nya.
Bontang, 15 Januari 2026








