Sabtu malam, 27 Desember 2025. Kami berkumpul di Gubug Kuliner Ati Jembar dengan Gus Ishom sebagai tuan rumah. Hujan sempat singgah sebentar di Pandaan, seolah membersihkan hari sebelum malam benar-benar dimulai.
Setelah itu langit cerah, dan satu per satu sedulur datang saling bersalaman dan bertukar kabar. Sebelum memulai diskusi, acara dibuka dengan mengirimkan doa Al-Fatihah kepada Mbah Nun dan semua pejalan Maiyah. Kemudian membaca Tawashshulan, dipimpin Mas Jufri dan Mas Rizal, sebagai cara Maiyah mengawali segala sesuatu: menautkan langkah kepada sumbernya.
Tema malam itu adalah “Titik Balik”, tema yang selalu menandai Desember, sekaligus sebagai siklus refleksi kami semua selama setahun ini.
Mas Ari mengajak jamaah memaknai titik balik yang bukan sekadar perubahan arah yang bertolak belakang dari sebelumnya, tetapi kesadaran untuk beranjak dari kondisi yang berlawanan menuju keadaan yang lebih benar. Pembicaraan kemudian mengalir membahas konsep 5 Prinsip Majelis Ilmu Maiyah yang meliputi segitiga Maiyah (Allah-Rasulullah-Hamba), Al-Mutahabbina Fillah (rasa sambung sedulur karena Allah semata), ghuroba (terasing atau mengasingkan diri dengan tidak mengikuti arus mainstream), ‘Abdan ‘Abdiyya (pelayan yang melayani, menyentuh masyarakat), dan yang terakhir adalah kesetiaan untuk kembali kepada Al-Qur’an.
Melalui pembacaan poster diskusi, Mas Wahyudi mengajak melihat kerusakan ekosistem sebagai cermin relasi manusia dengan alam. Bukan sekadar soal bencana, tetapi soal lupa fungsi dan lupa batas. Alam bergerak untuk menyeimbangkan dirinya, sementara manusia sering merasa menjadi pusat segalanya.
Maka penting untuk mengembalikan fungsi alam masing-masing sesuai dengan fitrahnya. Dan dari bencana kemarin, sangat nyata tidak ada kesadaran dari Pemerintah karena tidak ada keseriusan menangani sebagai satu bangsa dan satu kesatuan yang kolektif.
Mas Ari mengaitkan refleksi pada berbagai peristiwa di negeri ini—bahwa bencana kerap membuka kenyataan pahit: rapuhnya kesadaran kolektif dan lemahnya ketahanan komunal. Dalam keseharian, kita hidup berdekatan, namun tidak selalu saling terhubung. Dalam artian tidak ada “Maiyah” dalam keseharian kita. Maiyah adalah ikhtiar sekaligus respons Mbah Nun atas keadaan, kelemahan, sekaligus sakit bangsa Indonesia. Membangkitkan bawah sadar apa yang perlu diperbaiki.

Gus Ishom menyinggung paradoks modernitas, yang kemudian dipertanyakan lebih jauh oleh Mas Jufri: apakah kecanggihan selalu berarti kemajuan, atau justru mempercepat kerusakan bila tak disertai kebijaksanaan. Ada masyarakat yang menganggap Barat sebagai kiblat modernitas, tapi coba lihat ekspresi budaya mereka dengan pakaian yang makin terbuka, bukankah itu seperti budaya jaman purba yang belum mengenal etika.
Dalam hal kecil lainnya, modernitas Barat masih menggunakan tisu toilet untuk kebersihan, bukankah itu jauh tertinggal dan tidak higienis daripada budaya kebanyakan masyarakat Indonesia. Diskusi merambah ke pemahaman tentang waktu. Mas Yudi memberikan menjelaskan bahwa waktu tidak selalu linier, melainkan siklikal—masa lalu, kini, dan yang akan datang saling bertaut.
Astronomi juga berkata seperti itu, bahwa cahaya semesta yang kita lihat adalah cahaya dari masa lalu. Menggunakan kerangka ini, maka dimaknai bahwa sholawat adalah doa yang terus mengalir, karena perjuangan Rasulullah selalu berlangsung, tidak pernah benar-benar selesai.
Pembicaraan lanjut ke religiusitas. Bukankah masyarakat kita adalah masyarakat yang sangat religius, kegiatan agama banyak, dan seharusnya tercermin dengan perilakunya terhadap alam yang harusnya dijaga menurut Al-Quran.
Mas Rizal coba menjelaskan dengan sederhana, religiusitas itu seperti perilaku kita sehari-hari di lampu merah. Kadang termasuk dia sendiri, saat lampu merah dan tidak ada motor, maka terus saja di-trabas. Religiusitas itu seperti laku puasa. Ada tidak ada orang, saat kita meniatkan puasa maka kita tidak akan makan sebelum waktunya makan. Religiusitas sebenarnya adalah perilaku ikhsan, jauh ada dalam kesadaran, dan tidak bisa semerta-merta diukur dari jumlah masyarakat yang menganut agama atau dari aktivitas agama yang dilakukan.
Mas Ubaid dan Mas Jufri menggarisbawahi kembali bahwa istilah “bencana alam” yang dipakai adalah istilah yang keliru. Alam tidak sedang menghukum, melainkan menata ulang keseimbangannya, karena air secara sunnatullah selalu mengalir dari hulu ke hilir. Yang adalah adalah “bencana manusia” karena manusialah yang bertindak sebagai perusak. Berkaitan dengan bencana, mas Zuhri menambahkan tentang dinamika takdir dan refleksi hidup manusia dalam ruang waktu, tentang karma dan dharma dalam wacana adiluhung.
Semakin malam diskusi semakin hangat, menyentuh berbagai dimensi namun tetap tersambung pada tema. Dengan menarik kesimpulan pada konsep segitiga yang banyak dipakai sebagai simbol, mas Ubaid menarik kesimpulan elaborasi malam itu dengan tiga konsep dalam Islam; tajdid (pembaruan), taghyir (perubahan), dan hijrah (perpindahan kesadaran) sebagai bentuk dari titik balik.

Waktu menunjukkan jam setengah dua malam, Diskusi yang hangat harus dipungkasi. ditutup doa yang dipimpin oleh mas Ubaid. Kami menutup perjumpaan kebahagiaan ber-Maiyah yang susah untuk diungkapkan dengan kata-kata. Membawa rasa syukur dan nilai-nilai Maiyah yang perlu terus dihidupi di tahun berikutnya.
Bismillah, terus berjalan lebih baik di 2026.
(Redaksi Paseduluran Maiyah Pasuruan)








