Tidak semua resah berasal dari kekurangan. Kadang ia tumbuh dari kesadaran bahwa ada yang lebih besar, yang belum kita jalani.
Setiap dari kita membawa keresahan. Ada yang menyeretnya seperti beban. Ada pula yang menjadikannya jalan. Keresahan bukan tanda kelemahan. Ia justru kompas—penanda arah—bahwa ada sesuatu yang tidak beres, ada sesuatu yang ingin disuarakan, meskipun tak tahu harus ke mana.
Seperti kata Mas Sabrang pada Silaturahmi Penggiat Maiyah 2025 lalu: keresahan adalah sistem alarm bawaan manusia. Ia bukan gangguan, tapi karunia. Ia bukan kelemahan, tapi kode bahwa kita masih hidup. Bukankah Mbah Nun memulai semuanya karena resah? Bukan karena ingin tampil, tapi karena ingin menemani dan memperbaiki keadaan. Dari resah itu, lahirlah jalan sunyi: menemani yang tertindas, menyuarakan yang dibungkam, menyambung yang diputuskan.
Keresahan yang dikelola bisa menjadi amunisi perubahan. Bahkan Tuhan pun menyuruh manusia mulai dari dirinya sendiri. QS Ar-Ra’d ayat 11 tidak sedang menggertak. Membacanya, kita seolah sedang dibisiki halus sebuah nasihat ; jangan harap keadaan berubah, sebelum kamu sendiri bergerak mengubahnya.
Demikian pula QS Al-Hasyr ayat 18, bukan sekadar ayat motivasi. Tapi ia adalah perintah. Perintah untuk memeriksa. Mengoreksi. Mempersiapkan diri. Karena hidup bukan semata tentang hari ini. Tapi tentang apa yang akan kita bawa esok hari.
Setelah sembilan tahun sinau bareng, Damar Kedhaton bukan lagi sekadar tempat berkumpul. Ia sudah menjadi cermin. Tempat kita belajar menakar diri—siapa kita sebenarnya, dan apa yang bisa kita kontribusikan.
Mari bertanya pada diri masing-masing :
Apa dampakku di lingkar terkecil: diriku sendiri?
Lalu di lingkar pengaruh: terhadap Damar Kedhaton?
Setelah itu, bisakah kita membawa napas Maiyah ke lingkungan yang lebih luas?
Tak perlu buru-buru merasa besar. Dua ayat tadi tidak butuh dikutip kalau cuma jadi poster. Ia harus ditanam, lalu tumbuh dalam laku. Ia harus hidup dalam setiap pilihan sehari-hari. Di sinilah kita diuji—bukan saat ceramah, tapi saat sendirian.
Bersama kita sudah punya banyak bekal dari Maiyah. Lantas, kenapa masih diam? Apakah nilai-nilai Maiyah sudah menjelma dalam laku sehari-hari? Atau sekadar euforia semalaman saat duduk bersama lalu menguap ketika hari mulai terang?
Tidak cukup hanya duduk khusyuk dalam wirid, melantun sholawat, dan tertawa bersama. Karena cinta juga butuh tanggung jawab. Karena nikmat juga butuh keberanian.
Karena kekhalifahan bukan hanya status spiritual, tapi mandat sosial.
Jamaah Damar Kedhaton sudah mulai membuktikan. Ada yang bergerak lewat produksi Merch DK, mengelola nilai dalam bentuk barang. Ada pula yang merintis DamPro: sebagai cara menciptakan ruang belajar, berkarya, dan berdaya bersama.
Semua itu berawal dari satu hal; keresahan yang tidak disimpan sendirian.
Maka malam ini, mari kendurikan keresahan itu bersama. Mari olah ia jadi formulasi masalah yang lebih jernih untuk dibaca dan dipahami. Agar kita pulang bukan cuma dengan kepala penuh, tapi dengan hati yang pulang ke arah yang lebih teguh.
Mari melingkar di Majelis Ilmu Maiyah Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-109 bertema “Mengolah Keresahan, Meneguhkan Laku”, pada :
Hari/Tanggal : Minggu, 11 Januari 2025
Waktu : 19.23 WIB
Tempat : Rumah Cak Ghozi, Emerald Blok C1 No 5, Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas, Gresik
(Redaksi Damar Kedhaton)








