Minggu malam, 28 Desember 2025, ndalem Mas Carik Sidorejo tidak menjelma menjadi ruang seremoni. Ia lebih menyerupai dapur batin: tempat orang-orang merebus pengalaman hidupnya masing-masing.
Tikar digelar, kopi diseduh, dan rasa dipertemukan. Di situlah Maiyah kembali menemukan rumahnya. Bukan pada megahnya tempat, melainkan pada kesediaan hati untuk melingkar sinau bareng.
Sebagian jamaah datang terlambat. Ada yang sedang sakit, ada yang harus menuntaskan pekerjaan. Namun jamaah tetap datang dengan semangat.
Acara dibuka oleh Mas Danang Afi selaku penyambung rasa Maiyah. Bukan dengan khotbah, melainkan dengan penataan suasana: mengajak jamaah menaruh ego di luar lingkaran, lalu masuk sebagai manusia biasa.



Doa dan shalawat kemudian mengalir dipimpin Kang Mus dan Kang Iqul sebagai penanda bahwa sinau ini tidak hanya bergerak di kepala, tetapi juga berakar di langit.
Mukadimah dibacakan oleh Kang Budi, lalu Mas Carik Sidorejo tampil sebagai narasumber pertama. Ia tidak berdiri sebagai pejabat, tetapi sebagai manusia yang setiap hari bergulat dengan kenyataan.
Filosofi “ngono yo ngono ning ojo ngono” hadir bukan sebagai slogan, melainkan sebagai pengalaman hidup: ketika menghadapi pekerjaan, menghadapi warga, dan menghadapi dirinya sendiri. Ada banyak hal yang “dimaklumi”, tetapi tidak semuanya boleh “dimaklumkan”. Di situlah dilema rasa bekerja.
Narasumber kedua, Kang Iqul, membawa falsafah itu lebih masuk ke ruang batin. Ia mengajak jamaah berkaca: jika kita tidak ingin diperlakukan dengan cara tertentu, mengapa kita ringan melakukannya pada orang lain? Kang Iqul menyebut watak Jawa yang gemar nggagapi rasane dewe mengira-ngira rasa orang lain dari rasa diri sendiri. Di situ ada empati, tetapi juga potensi keliru jika tidak disertai kejujuran dan kesadaran diri.
Kang Irfan sebagai narasumber ketiga mengencangkan refleksi. Ia mengingatkan agar jangan sampai kita fasih dalam narasi kebaikan, tetapi gagal dalam penerapan. Jangan sampai mulut lebih maju daripada laku. Karena ukuran etika bukanlah apa yang kita ucapkan, melainkan apa yang benar-benar kita jalani ketika tak ada yang menonton.
Kang Mus kemudian menarik benang sejarah. Ia mengingatkan bahwa falsafah ngono yo ngono ning ojo ngono pernah juga digunakan dalam konteks negatif oleh presiden terdahulu sebagai bahasa kekuasaan yang ambigu, yang bisa menjadi alat pembenaran. Di titik ini, jamaah diajak waspada: falsafah tidak selalu netral; ia bisa dimuliakan atau diselewengkan, tergantung siapa yang memegang dan untuk apa.



Mas Danang menutup rangkaian refleksi dengan penegasan penting: telah terjadi banyak pergeseran bahasa yang membuat falsafah ini kerap disalahpahami. Ngono yo ngono ning ojo ngono bukanlah pembenaran perilaku, apalagi lisensi moral. Ia adalah rambu etika rasa, sebuah penanda batas agar manusia tidak tergelincir terlalu jauh dari kemanusiaannya sendiri.
Forum kemudian mengalir lebih mesra. Pembahasan bergerak ke Silatnas kemarin, arah Maiyah ke depan, dan harapan agar suatu hari Redaktur Maiyah (Redma) bisa menyambangi. Tidak ada keputusan besar, tidak ada kesimpulan final. Yang ada adalah kesadaran bersama bahwa Maiyah bukan tujuan, melainkan perjalanan.
Malam itu, ndalem Mas Carik Sidorejo mengajarkan satu hal sederhana: bahwa hidup memang ngono, tetapi rasa mengingatkan kita untuk ojo ngono banget. Dan mungkin, di situlah tugas manusia menjaga jarak tipis antara memahami dan membenarkan, antara memaklumi dan membiarkan.
(Redaksi Tembang Pepadhang/Danang Afi)








