Pandaan, 8 November 2025
Sabtu malam di Pandaan menyambut dengan udara yang tak biasa. Jika biasanya hujan turun membasahi, malam itu langit justru cerah, seakan turut mendukung semangat para pejalan Maiyah yang hendak berkumpul.
Suasana hangat dan penuh keakraban segera terasa di kediaman Mas Wira, yang juga merupakan Toko Asa Alami Mejasem. Sinau bareng malam itu dibuka dengan obrolan ringan namun bernas: seputar kecerdasan buatan (AI), dinamika, serta proses riset kecil-kecilan menggunakan teknologi tersebut.
Mas Wira, yang tengah mendalami vibe dunia coding, berbagi pengalaman tentang proses belajarnya. Ia menekankan pentingnya first principles thinking, berpikir dari akar persoalan, sebagai kemampuan krusial di era AI yang serba otomatis ini. Menurutnya, kemampuan itulah yang menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin.
Pembicaraan kemudian dilanjutkan oleh Mas Rizal, yang menambahkan sudut pandang lain. Di tengah maraknya kehadiran AI, katanya, keterampilan berikutnya yang perlu diasah adalah kemampuan untuk “mengorkestrasi” AI. Yakni bukan sekadar menjadi pengguna, tetapi menjadi konduktor yang mampu mengarahkan berbagai alat AI agar bekerja selaras menuju tujuan yang diinginkan.
Dari perbincangan seputar teknologi, acara pun beralih menuju tema utama malam itu: “Negeri Imitasi.”

Mas Rizal membuka pemaparannya dengan melihat fenomena imitasi dari sudut pandang alam. Setiap makhluk hidup, katanya, memiliki kemampuan alami untuk meniru. Dari mimikri pada hewan seperi bunglon misalnya, ketika satu spesies meniru lingkungan atau hewan lain demi bertahan hidup hingga proses seorang anak yang belajar dengan meniru orang tuanya. Dalam dunia industri, dikenal pula istilah reverse engineering: meniru dengan cara membongkar ulang untuk memahami komponen dan interaksinya. Dalam skala yang lebih besar, sebuah bangsa pun kerap mengimitasi bangsa lain sebagai bagian dari dinamika peradaban. Negeri imitasi disini, bisa dimaknai sebagai negeri yang hanya meniru budaya dan bangsa lain. Bisa juga berarti negeri yang penuh kepalsuan, kehilangan keaslian, dan menjauh dari jati dirinya. Contohnya seperti pejabat yang tidak berlaku sebagai pejabat yang harusnya menunaikan hak rakyatnya. Pejabat yang menggunakan kekuasaannya untuk berdagang.
Di akhir pemaparannya, Mas Rizal menutup dengan sebuah refleksi yang mendalam. Imitasi, katanya, adalah keniscayaan, bagian tak terpisahkan dari proses belajar dan evolusi peradaban. Persoalannya bukan apakah kita meniru, tetapi “big why”, mengapa, bagaimana, dan baru apa yang kita tiru.
Pemahaman yang mendalam menjadi kunci. Tanpa pemahaman, kita hanya menangkap bentuk luarnya, tanpa pernah menyentuh inti atau hakikatnya. Mas Rizal kemudian menganalogikannya dengan konteks keberagamaan: syariat adalah bentuk atau “imitasi” dari ajaran, sementara hakikat adalah ruh di dalamnya. Jika kita berhenti pada syariat tanpa menyelami hakikat, kita akan terjebak dalam formalitas yang hampa.

Sinau bareng malam itu ditutup dengan diskusi hangat dan penuh keakraban. Malam yang cerah itu tak hanya membawa pulang angin sejuk, tetapi juga seberkas harapan bahwa di tengah “negeri imitasi” ini, semoga kita menjadi peniru yang gigih menelusuri akar dari apa yang kita tiru, hingga akhirnya menemukan keaslian dan jati diri kita sendiri dan menyambut masa depan dengan lebih bijaksana.
(Redaksi Paseduluran Maiyah Pasuruan)








