Bertemu lagi di bulan Agustus, bulan di mana merah-putih berkibar di setiap sudut, dan lampu hias meriah di sepanjang jalan desa hingga kota. Maiyahan kali ini bertempat di Gubuk Kuliner Ati Jembar, Suwayuwo. Malam itu jalanan utama Pandaan padat, ramai, tidak seperti biasanya. Beberapa jamaah menginfokan kalau akan datang agak larut, tersendat oleh tumpah ruah warga yang menonton sound karnaval yang horeg mendentum sampai jauh.
Satu per satu jamaah berdatangan, disambut hangat oleh Gus Ishom selaku tuan rumah. Obrolan ringan mengalir—menanyakan kabar, berbagi cerita, hingga sesekali menyinggung topik hangat yang sedang ramai di linimasa media sosial. Menjelang larut, acara Maiyahan khidmat dibuka dengan pembacaan Tawashshulan oleh Mas Jufri, kemudian langsung berlanjut ke diskusi utama sesuai tema malam.
Mas Ari selaku moderator membuka diskusi dengan pertanyaan tentang asal-usul tema “Equilibrium Perjuangan.” Mas Rizal menjelaskan bahwa equilibrium berasal dari kata aequs dan libra, yang berarti “keadaan seimbang.” Kata “perjuangan” dipilih karena bertepatan dengan momentum bulan Agustus. Keseimbangan bisa diibaratkan seperti papan yang sama beratnya di kedua sisi. Dalam perumpamaan lain, ia bisa juga seperti mengayuh pedal sepeda. Begitu berhenti, keseimbangan hilang dan kita akan jatuh. Solusinya adalah tetap waspada sambil tetap bergerak.

Indonesia, dengan sejarah perjuangannya, sumber daya yang melimpah, semangat “Bangunlah jiwanya, bangunlah badannya”, serta Pancasila yang nilainya tak tertandingi di dunia, seharusnya sudah menjadi modal yang sangat besar untuk makmur. Namun, dalam konteks kebangsaan, menemukan titik keseimbangan bukanlah hal mudah. Situasi yang dinamis dan beragam kepentingan mengharuskan setiap pemimpin bijak dalam mengambil keputusan. Bahkan, terkadang dibutuhkan sosok pemimpin dengan kebijaksanaan “setengah dewa” dan “setengah wali” untuk mampu mengurai kompleksitas permasalahan di negeri ini.
Gus Ishom kemudian menjelaskan poster tema Maiyahan, terpampang seorang kakek bersama cucunya di pematang sawah saat senja, dengan bendera merah putih yang berkibar, dan awan gelap bajak laut. Menurutnya, akan ada masa dimana saat cahaya usai, kegelapan akan muncul. Tapi jangan lupa, cahaya akan datang lagi, dan pagi akan datang mengusir gelap. Cahaya itu adalah tumbuhnya orang-orang baru, jiwa yang terbangun.
Mas Yudi menambahkan, dalam keseimbangan perjuangan, kita perlu menakar kapan gas dan kapan rem. Indonesia saat ini banyak lengah, tetapi rakyatnya punya daya survival luar biasa. Bertahan, beradaptasi, bahkan menciptakan cara hidup baru. Keseimbangan adalah hukum alam. Segala sesuatu, cepat atau lambat, akan menuju titik seimbang. Alam memberi contoh: reaksi kimia yang bergerak menuju keseimbangan terus-menerus.
Jamaah lain melanjutkan, hari ini kita melihat ada ketidakseimbangan besar di negeri ini. Tambang batu bara dan kekayaan alam lain mengalir entah ke mana. Indonesia seperti didukung sekaligus dikutuk oleh sumber dayanya sendiri. Sumberdaya yang seharusnya menyejahterakan, malah memancing ketimpangan dan perebutan.

Pembicaraan malam itu juga menyinggung soal pendidikan. Ada kebijakan home schooling yang dipaksakan tanpa dialog dengan komunitas masyarakat yang bergerak di bidangnya. Berlangsung 1 arah hanya dari sudut pandang pemerintah. Pendidikan seharusnya dibangun bersama, sesuai konteks sosial. Equilibrium adalah ketika perjuangan di usahakan bersama untuk kebaikan bersama.
Banyak hal yang kami diskusikan malam itu, meski tidak semuanya sempat tercatat di sini. Waktu berjalan tanpa terasa, hingga jarum jam menunjuk setengah dua pagi. Ada banyak persoalan bangsa yang belum tentu seluruhnya sanggup kami pahami. Namun kami berusaha untuk terus mengingat pesan simbah: terus mencintai Indonesia.
Bahwa Jamaah Maiyah sudah dilatih simbah menjadi man for all seasons. Terbiasa menghadapi situasi penuh ketidakseimbangan dan gejolak apa pun tanpa goyah atau bimbang. Selalu berusaha bergembira, terbuka pada ilmu baru, dan di setiap kondisi yang tak seimbang, senantiasa mengingat bahwa kita selalu punya sandaran hati: kepada-Nya.
Bismillah, terus berjalan.
(Redaksi Paseduluran Maiyah Pasuruan)








