Manusia terbiasa bertanya: apa, siapa, mengapa, kapan, di mana, dan bagaimana. Enam pertanyaan itu sering kita arahkan pada peristiwa di luar diri. Kita ingin tahu apa yang terjadi, siapa pelakunya, mengapa itu muncul, kapan dan di mana berlangsung, serta bagaimana prosesnya.
Namun jarang sekali pertanyaan itu kita tujukan ke dalam.
Apa yang sebenarnya sedang kita bangun dalam hidup ini?
Siapa diri kita ketika tidak sedang tampil?
Mengapa kita mudah terusik?
Kapan kesabaran kita mulai retak?
Di mana batas toleransi kita?
Dan bagaimana kita merespons ujian serta perbedaan?
Kita hidup di zaman yang gemar mengukur. Mengukur jabatan, pengaruh, capaian, bahkan mengukur seberapa luas nama kita dikenal. Seolah hidup adalah proyek statistik. Padahal ada wilayah yang memang tidak diciptakan untuk dihitung.
Seperti pertanyaan tentang jumlah pasir di Sahara. Secara teori mungkin bisa dihitung. Tetapi secara eksistensial kita tahu ada keterbatasan yang tak sanggup dijangkau oleh kalkulasi manusia. Luas seringkali melampaui alat ukurnya.
Begitulah batin manusia.
Di sinilah kita sampai pada dua gambaran: manusia seluas daratan dan manusia seluas samudra.
Manusia seluas daratan itu luas, tetapi ia memiliki batas. Ia memiliki kontur yang jelas. Prinsipnya tegas. Posisinya terdefinisi. Ia memberi pijakan dan struktur. Dalam menghadapi ujian, ia mampu bertahan sampai ambang tertentu. Namun daratan selalu memiliki garis tepi. Ada batas kesabaran. Ada wilayah “aku” yang dijaga.
Ketika ujian menyentuh wilayah itu, ia mudah retak. Ketika kritik melampaui batasnya, ia mudah defensif.
Dalam pengetahuan pun demikian. Ia belajar dengan sistem dan peta yang rapi. Ia memahami dalam batas disiplin ilmunya. Tetapi ketika berhadapan dengan sesuatu yang di luar wilayahnya, ia bisa merasa terganggu.
Daratan penting. Tanpa daratan, manusia tidak punya pijakan. Tetapi daratan selalu memiliki batas.
Sebaliknya, manusia seluas samudra tidak sibuk memastikan batasnya. Ia menjadi ruang itu sendiri. Sungai yang keruh pun diterima tanpa ditanya asalnya. Ombak boleh tinggi di permukaan, tetapi kedalaman tetap tenang.
Dalam menghadapi ujian, ia tetap merasakan sakit, tetapi tidak mudah tumpah. Kedalamannya lebih besar daripada gelombangnya. Dalam pengetahuan, ia tidak panik pada perbedaan. Ia sadar bahwa ilmu bukan untuk mempersempit diri, melainkan untuk memperluas daya tampung.
Logika daratan berkata: yang diisi akan penuh, yang dibagi akan berkurang.
Logika samudra justru terbalik: ilmu tidak habis ketika dibagikan, dan jiwa tidak penuh meski terus belajar.
Dan mungkin di titik ini kita teringat satu ajakan yang sering diulang oleh Mbah Nun,
”Jangan sibuk mencari ruang, tetapi belajarlah menjadi ruang. Karena kalau kita memiliki jiwa ruang, maka kita akan sanggup menampung dan makin akan luas hatinya”.
Karena pada akhirnya, luas bukan soal seberapa besar wilayah yang kita kuasai, melainkan seberapa banyak kehidupan yang bisa kita terima layaknya samudra.








