Beberapa upaya untuk memisahkan spiritualitas, dalam hal ini Tuhan dan agama, dari kepentingan publik dan politik kini semakin masif dilakukan. Terutama kepada generasi muda yang mudah di-brainwash dalam proses pencarian jati diri. Itulah sasaran empuk sekularisme. Para pemuda dibombardir narasi-narasi “Barat” agar tidak percaya diri terhadap budaya dan agamanya sendiri; didorong mengikuti arus pemikiran modern yang memisahkan hidup dari nilai-nilai ilahi. Di mana urusan agama hanya boleh berada di masjid, kuil, atau gereja; selebihnya prinsip ketuhanan dianggap tidak rasional untuk dipakai.
Bahasan semacam itu sudah menjadi “sego jangan” bagi Jamaah Maiyah, dengan nasihat yang terus-menerus dituturkan oleh Mbah Nun. Salah satu pituturnya adalah bahwa Islam merupakan agama kekhalifahan. Artinya, pekerjaan beragama bukan hanya perkara ibadah yang wajib kita jalani, tetapi juga bagaimana kita mampu mencerdasi, mengolah, dan memanfaatkan segala yang dianugerahkan Allah. Di situlah Islam menjadi agama kekhalifahan.
Lebih dalam lagi, mari sejenak memaknai kembali kata “khalifah”. Apa sebenarnya makna utuhnya? Selama ini khalifah seakan hanya menjadi mandat Allah kepada manusia, sebagaimana ibadah adalah tujuan penciptaan kita. Namun dalam kehidupan sehari-hari, apa makna khalifah yang benar-benar bisa kita jalankan?
Kita berangkat dari perkataan Mbah Nun:
“Saya tidak punya kemungkinan lain kecuali menjadi (dijadikan) Khalifah di Bumi oleh Pencipta Bumi, alam semesta. Menjadi khalifah adalah posisi khusus manusia: tugasnya adalah patuh dengan kesadaran akal. Segala sesuatu di alam patuh kepada Tuhan, namun tidak dengan kesadaran akal. Sungai, gunung, hutan, angin, dedaunan, embun, detak jantung manusia, aliran darah, kesegaran dan keausan jasad, waktu lahir dan mati—semuanya patuh pada kehendak-Nya. Tetapi patuh dengan kesadaran akal hanya dimiliki manusia, makhluk yang dibekali ‘supra-chips’ bernama akal dan cakrawala halus bernama kalbu.”
Poin pentingnya adalah bahwa tugas khalifah merupakan tugas makhluk yang harus patuh dengan kesadaran akal. Mbah Nun tidak memakai istilah “patuh pada akal”, sebab tidak semua yang muncul dari akal itu baik dan bijak. Ada unsur kesadaran: setiap produk akal harus melewati barrier muhasabah agar melahirkan tindakan yang baik dan bijak. Akal tanpa kesadaran bisa sangat liar. Orang yang korupsi, merusak alam demi ekonomi kapitalis, atau mencederai hukum demi ambisi politik—mereka “patuh pada akal”, bukan “patuh dengan kesadaran akal”. Mereka bukan orang bodoh; mereka pintar, cerdas, tetapi tanpa kesadaran. Bisakah mereka disebut “khalifah”?
Kesadaran adalah elemen penting dalam menjalankan “lakon khalifah”. Sebab manusia adalah makhluk kemungkinan, yang setiap detiknya bisa melakukan tindakan kebaikan dan keburukan. Berbeda dengan malaikat dan iblis yang merupakan makhluk kepastian, dengan tugas dan batas yang sudah ditetapkan sejak awal penciptaan. Maka “patuh dengan kesadaran akal” berarti memanfaatkan kepintaran dan kecerdasan untuk mengolah, memanage, dan memanfaatkan apa yang Allah berikan. Seperti petani yang mengkhalifahi tanahnya, pejabat yang memakai kecerdasan politiknya dengan sadar untuk negara dan rakyat, dan profesi-profesi lain yang menunaikan tindakan kekhalifahan masing-masing.
Khalifah adalah tugas wajib manusia. Bukan keniscayaan, bukan harapan, bukan pula cita-cita. Tidak etis jika kita bercita-cita “menjadi khalifah”, karena Allah telah menyematkannya sejak manusia pertama diciptakan. Kita tidak bisa mengelak dari amanah itu. Mbah Nun menegaskan bahwa para pelaku khalifah, tidak bisa pensiun dini, tidak bisa membolos dari kehidupan yang abadi. Dalam kubur, mereka memulai semester berikutnya, lalu berlanjut semester demi semester hingga babak final: Surga atau Neraka. Manusia tidak bisa lari, sebab tidak ada ruang, planet, galaksi, atau waktu yang bukan milik Tuhan. Tanggung jawab kekhalifahan berlaku hingga dua kehidupan abadi, kholidina fiha abada.
Dari penjabaran itu, dapat kita maknai bahwa kekhalifahan bukan harapan, melainkan lakon kita bersama. Ibarat wayang, lakon itu sudah ada sebelum wayang digerakkan. Dan seluruh tindak-tanduk, tutur kata, serta arah hidup kita harus sesuai dengan lakon yang diciptakan Sang Dalang Abadi yaitu Tuhan.
Untuk mendalami bersama makna khalifah, menyadari kekhalifahan kita, atau sekadar kembali menyentuh lakon khalifah yang telah disematkan kepada kita, mari bersama melingkar dalam forum pencerahan Bangbang Wetan.
Sampai berjumpa di lingkar al-mutaḥabbīna fillāh Bangbang Wetan edisi Desember 2025.
Kamis, 11 Desember 2025 / Jumada II 20, 1447 AH
📍 Pos Bloc Surabaya, Jl. Kebon Rojo, Krembangan
(Redaksi Bangbang Wetan)








