Keseimbangan bukanlah sebuah hasil akhir atau titik henti dan ia tidak pernah hadir secara tiba-tiba, Keseimbangan adalah sebuah garis yang mesti kita perjuangkan dan kita tempuh secara sadar dan terus menerus. Dalam ruang Sinau Bareng dan Taddabbur ini, kita diajak untuk terus mengolah kebenaran subjektif masing-masing agar tidak berhenti disitu saja. Melalui ruang ini kita mencoba menyusun dan mencari kembali kepingan-kepingan puzzle kebenaran yang berserakan.
Melatih keseimbangan tentu tidak bisa dilakukan jika kita hanya bersandar pada satu variabel. Ia menuntut keluasan berpikir dan kerendahan hati untuk membuka diri terhadap berbagai kemungkinan kebenaran baru, termasuk kesediaan untuk menerima informasi yang mungkin tidak kita senangi. Kita membutuhkan semua spektrum informasi sebagai bahan pertimbangan yang utuh. Tanpa keterbukaan ini, kita hanya akan terjebak dalam kesempitan wacana keilmuan yang justru menjauhkan kita dari hakikat keseimbangan itu sendiri.
Tantangan terbesar dalam proses ini adalah bias kognitif yang barangkali sudah mengakar kuat dalam perjalanan hidup kita, prasangka-prasangka tersembunyi inilah yang mungkin sering membuat eksplorasi kita menjadi sempit dan kaku. Maka, pengikisan bias-bias juga menjadi bagian penting dalam hal ini yang harus dilakukan secara aplikatif dan istiqomah. Dengan keberanian untuk keluar dari zona itu, kita melatih diri agar tidak mudah menghakimi sesuatu hanya berdasarkan apa yang ingin kita lihat saja.
Berangkat dari itu, Edisi kali ini mecoba menjembatani juga menjadi ruang bersama dalam mencari dan memformulasi “kuda-kuda” yang tepat untuk keseimbangan yang sedang kita perjuangkan. (Redaksi Suluk Surakartan)








