Sebuah dongeng, seekor anjing besar milik seorang raja mengamuk di jalanan. Ia menghancurkan, menggingit, menakuti siapa saja yang ia temui. Di dalam sebuah surau (mushola jaman mbien), ada seorang santri alim – si ustadz, sebut saja. Ia baru saja pulang belajar pada seorang Syaikh di puncak gunung. Belajar kesabaran, hukum-hukum, bahkan “melihat Tuhan”, sebagai kekasih abadinya, di mana pun ia berada. Melihat warga yang ketakutan, ia bertekad menenangkan anjing itu.
”Dasar warga awam, tidakkah kalian melihat Allah yang menggerakkan anjing itu?” bisik si ustadz di dalam hati.
Sebelum si ustadz bertarung dengan anjing, warga sudah mengingatkan, melarang, agar tetap di surau saja. Biar petugas kerajaan yang akan menangkap anjing gila itu. Tapi, hatinya sudah jadzab, ia merasa Tuhan memanggilnya untuk menaklukan anjing itu.
Lalu pergilah si ustadz berhadapan dengan anjing gila. Belum apa-apa, dzikir dan doa belum sempat ia rapalkan, anjing itu menggonggong keras. Mengejar, menyeruduk, merobek sarung dan pantat kurusnya. Ia berteriak minta tolong, tapi warga tak ada yang berani mendekat. Untung saja, petugas kerajaan datang sebelum si ustadz babak belur oleh “Tuhan yang menggerakkan anjing itu”.
Setelah satu bulan penyembuhan, si ustadz datang ke puncak gunung menemui Syaikh-nya.
”Jenengan salah, Syaikh,” kata muridnya itu, setelah merenungi perkelahian dengan anjing. “Aku “melihat” Allah di anjing itu, tapi mengapa anjing itu tetap menerkam-ku?”
”Goblok!” seru gurunya si ustadz. “Kau melihat Allah di anjing itu, tapi tak melihat Allah pada warga yang mengingatkan-mu!”
Si ustadz yang petakilan itu akhirnya sadar, betapa belagu hatinya, merasa telah paham ilmu dari gurunya itu.
”Bagaimana kau akan menaklukan sesuatu diluar dirimu, jika anjing (nafsu) di dalam dirimu belum mampu kau tundukkan?” kata gurunya si ustadz lagi. “Kau sudah benar, bahwa apa yang dilakukan anjing itu bukan sebuah keburukan. Tapi kesombongan-mu itu lebih buruk dari apa yang anjing itu lakukan. Kau mendaki gunung ini dengan keyakinan yang salah : setiap apa yang tidak sesuai pemahaman-mu kau sebut sebagai keburukan. Belajarmu masih gagal,”
Kisah si ustadz newbi seperti itu seakan menjadi kelumrahan di masyarakat. Orang-orang yang baru ngaji, baik itu pada tren hijrah modern atau belajar tasawuf awal, umumnya mabuk. Tidak kuat menerima getar cinta dari Sang Kekasih, meski itu belum seberapa. Maka cinta yang benar adalah cinta yang disertai ilmu. Bagaimana mungkin seseorang tidak mau mengenali kekasihnya lebih jauh? Begitu juga dengan kekasih abadi, lewat legacy terpercaya, yaitu Muhammad rasulullah sebagai perwujudan Sang Kekasih Abadi itu.
Agar ngaji, belajar kita tidak mabuk seperti kisah di atas, belajarlah lebih dulu, baca, miliki data sebelum berdiskusi dengan yang lainnya. Mengenali Kekasih Abadi, sejak dari mencintai diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan dunia. Adil pada diri sendiri – pada nafsu, akal dan hati, adil pada keluarga, masyarakat dan alam semesta. Jika menggunakan konsep matematika, maka dunia, termasuk keluarga dan diri kita sendiri, adalah akar turunan dari Sang Kekasih Abadi itu. Jika mencintai dengan benar – dengan ilmu, pada diri sendiri dan keluarga saja belum mampu, bagaimana bisa mencintai sesuatu yang lebih tinggi dari itu. Jika bahasa-bahasa Sang Kekasih Abadi yang tersimbolkan pada lingkungan terdekat kita saja tak mampu membaca itu, bagaimana kita bisa berbincang dengan-Nya secara tatap muka? Jika bahasa-bahasa Sang Kekasih Abadi yang terwujud pada diri kita saja tak mampu terbaca, maka bagaimana kita akan mengenali-Nya?
Fa adzkuruni, adzkurkum
Wahai kekasih, Aku menyebut-Mu tiap saat, tapi mengapa kau tak menyebut nama-Ku juga di tiap saat hidupmu? Tidak mungkin kau mampu mengingat-Ku, kecuali Aku yang lebih dulu. Maka ingatlah selalu Aku – Kekasih Abadi-mu, sebab Aku juga tak pernah melupakanmu.
Yuk, bissmillah, mulai sinau barengnya…
Tegal, 5 November 2025
(Redaksi Poci Maiyah/Abdullah Farid)








