Berakar dari kata wit dalam Bahasa Jawa Kuno dan Sansekerta, ia menunjuk pada pokok, pangkal, atau garis awal yang menumbuhkan segala cabang. Dalam Bahasa Sunda, kawitan juga berarti mengawali—sebuah tindakan sadar untuk memulai, bukan sekadar kejadian yang terjadi begitu saja membawa kita kembali pada makna paling dasar dari perjalanan hidup: asal mula. Dari sini, kawitan bukan hanya perkara masa lalu, melainkan juga sikap batin untuk menengok dari mana sesuatu berasal sebelum melangkah lebih jauh
Dalam perjalanan kehidupan sehari-hari kadang langkah kita terjeda, ada proses yang terhenti, ada niat yang tertunda, ada kesadaran yang perlahan kabur oleh rutinitas dan tuntutan zaman. Maka berbicara tentang kawitan bisa dimaknai sebagai keberanian untuk mengawali lagi—bukan mengulang secara mekanis, melainkan memulai dengan pemahaman baru. Mengawali lagi setelah terhenti bukan tanda kegagalan, tetapi justru bagian dari proses pendewasaan hidup.
Kawitan dalam perspektif “ngelmu Jawi” bersinggungan dengan upaya mengenali “sangkan paraning dumadi”: dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju. Pertanyaan ini tidak selalu menuntut jawaban pasti, melainkan kejujuran dalam menelusuri diri. Kawitan hidup bisa hadir dalam rupa tradisi, ingatan keluarga, laku spiritual, bahkan kegelisahan yang terus mengetuk batin. Semua itu muncul dari “laku” interaksi setiap kita yang beragam, sehingga perlu dihayati sebagai proses pencarian yang personal sekaligus komunal.
Maka, setelah Sinau Bareng Majelis Masyarakat Maiyah Waro’ Kaprawiran terjeda oleh pandemi corona, lantas memasuki fase dormant—diam sejenak di tengah pancaroba eskalasi politik. Berhibernasi masuk rahim “Al-Kahf”, menyimpan energi, menata ulang kesadaran, di musim ketidakpastian yang terasa semakin pasti menuju ketidakpastian yang pasti. Dengan Sengkalan Trusthaning Indriya Dwaraning Jagad, KAWITAN hadir sebagai ikhtiar untuk “ngawiti njangkah sak titah”, melangkah, bersama-sama menata hati dan menjernihkan pikiran, sinau bareng merangkai nilai dan merajut makna menemukan titik Kawitan kita—entah itu berakar pada iman, bersumber dari budaya, tumbuh dari rasa syukur, atau bahkan lahir dari luka yang pernah kita alami.
Dari sinilah kebersamaan menjadi penting: bukan untuk saling mengoreksi, melainkan untuk saling menerangi. Barangkali, dengan duduk bersama dan berbagi sudut pandang, kita bisa sama-sama mengawali (kembali) perjalanan memahami hidup, dari titik yang paling jujur—kawitan kita masing-masing.
(Redaksi Waro’ Kaprawiran)








