Melihat postingan sebuah tulisan temanya di sosial media yang berisi kritikan dan gugatan terhadap kompetensi guru, Pak Daurin yang sekarang menjadi guru di sekolah dasar tidak langsung mendadak emosi, tidak melihatnya dengan sinis, tidak langsung melewati postingan tersebut ke postingan berikutnya. Ia bahkan membacanya dengan pelan-pelan, mencoba memahami kalimat demi kalimat di dalamnya dengan teliti, apa muatan isinya, dan kira-kira apa maksud tujuannya.
Konsep tulisannya menyalahkan guru dengan lantaran nilai rata-rata Tes Kompetensi Akademik (TKA) hasilnya jeblok. Guru sering menuntut kesejahteraan hidupnya, dinaikan gajinya, ditambah tunjangannya, tapi kompetensinya tidak ada perubahan, sehingga siswanya jadi korban. Juga ditambahkan; guru sekarang enggan menerima kritikan, seolah-olah guru harus selalu dibela dan dibenarkan.
Setelah selesai memahaminya, Pak Daurin langsung berkomentar di postingannya; “Saya sangat senang dan bahagia. Terimakasih telah membantu memperbaiki dunia pendidikan, walaupun hanya sebatas saran ataupun kritikan”. Selanjutnya Pak Daurin langsung mengintropeksi kebenaran yang diyakininya selama ini dalam menjalani pengabdiannya di dunia pendidikan sebagai seorang guru.
Di setiap awal langkah, apapun dalam kehidupannya, yang dituding dan dicari kesalahannya adalah dirinya sendiri. Kemudian ia merumuskan apa kesalahannya, di mana letak permasalahannya, bagaimana merumuskan solusinya, dan apa yang harus dilakukannya.
Sebenarnya Pak Daurin mengerti bahwa ia adalah bagian kecil dari problematika dunia pendidikan yang memiliki permasalahan teramat besar. Mbah-nya Pak Daurin sendiri pernah berkata, “Dunia pendidikan kita ini seperti lahan-lahan pertanian. Tak tahu tradisional atau modern, tetapi pokoknya lahan-lahan itu diindustrialisasikan oleh petani-petani pendidikan.”
Jangankan memperbaiki sistem dunia pendidikan, memperbaiki kehidupan sendirinya saja Pak Daurin sangat susah payah. Modal hidupnya hanyalah introspeksi, bangun, dan jalani. Setelah itu tumbang, introspeksi lagi dan terus berjalan kembali. Seperti itu terus, tidak tahu sampai kapan ujungnya nanti, mungkin sampai ia mati.
Pak Daurin hanya sebatas orang kecil, ia menjadi guru karena perintah ibunya. Perintah ibunya nilainya jauh lebih besar ketimbang hidupnya sendiri. Karena ia sadar bahwa ia orang kecil dengan kemampuan kecil, maka yang dilakukanya hanya sebatas dalam skala kecil pula.
Pak Daurin sendiri sebenarnya tidak mau disebut dengan sebutan “guru”. Guru identik dengan atasan dan murid jadi bawahannya. Hal ini dikarenakan, ketika ia kecil sering didongengin oleh ayahnya tentang kisah Nabi dan para sahabatnya. Dalam setiap kisahnya Nabi tidak pernah menggelari dirinya sebagai guru, ia adalah sahabat bagi siapa saja yang ingin mengambil teladan darinya, bagi siapa saja yang ingin menimba ilmu pengetahuan dari keluarbiasaan kecerdasannya, dan bagi siapa saja yang ingin mendapatkan bimbingan menjadi manusia yang utuh dan berguna di masa depannya. Sehingga bersamanya lahirlah Abu Bakar yang as-Shiddiq, Umar yang al-Faruq, utsman yang dermawan, dan ‘Ali yang bergelar Babul’ilmi.
Dari kisah-kisah itu juga Pak Daurin lebih senang menyebut sahabat kecil belajarnya itu dengan sebutan murid. Murid (مريد) memiliki makna orang yang berkehendak, menginginkan, bersungguh-sungguh. Hubungan dengannya bersifat personal, sebagai manusia yang utuh, berdaulat untuk menapaki peradaban kehidupannya. Tidak memilih sebutan siswa yang hubungan dengan gurunya bersifat instruksional, dan juga bukan peserta didik yang bersifat administratif formal, yang ukuran keberhasilannya dipatok kompetensi dan standar kelulusan.
Dari kisah Nabi dan sahabatnya juga menjadikan Pak Daurin membersamai murid-muridnya untuk menemukan fadhilahnya masing-masing, tidak diseragamkan. Itu adalah konsep kurikulum Tuhan.
ٱنظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍۚ وَلَلْـَٔاخِرَةُ أَكْبَرُ دَرَجَٰتٍ وَأَكْبَرُ تَفْضِيلًا
“Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Dan pasti kehidupan akhirat lebih tinggi tingkatannya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isrā’ : 2)
Jangankan tentang kurikulum. Mengenai Sekolah dengan pendidikan saja Pak Daurin memaknainya berbeda. Sekolah hanya sebatas lembaga formal, tempat kecil bagian dari pendidikan yang bersifat terencana dan terbatas waktunya. Sedangkan menurutnya pendidikan adalah proses luas sepanjang hayat. Ilmu pengetahuan hanya sebagian kecil dari pendidikan yang bisa didapatkan kapan saja dan dimana saja. Kehidupan adalah kelas pendidikan, waktu adalah jadwalnya, peristiwa materinya, takwa ujiannya, hisab raportnya, kembali selamat pada-Nya adalah kelulusannya.
Walaupun kurikulumnya terus berganti-ganti, bahkan hampir disetiap pergantian mentri. Pak Daurin tetap memegang nilai-nilai yang diyakininya. Apakah Pak Daurin memberontak? Jelas saja tidak. Demi ibunya ia tetap tetap menghormati dan melaksanakan peraturan sistem pendidikan yang menimpa padanya. Nilai-nilai yang diyakininya tetap terus berjalan selama hidupnya, lebih-lebih ketika ia membersamai belajar dengan sahabat kecilnya di sekolah dasar.
Yang ditempuh Pak Daurin adalah bukan perang pendek untuk perpolitikan yang mengakibatkan kurikulum terus berganti-ganti. Bukan juga kenaikan pangkat status jabatan yang memfokuskan pada materi duniawi. Tetapi yang ditempuhnya adalah perang panjang, laku kehidupan untuk peradaban manusia, untuk bangsanya, untuk negaranya, untuk ibunya, untuk Tuhanya.








