Tidak semua pertemuan lahir dari rencana yang tersusun rapi. Sebagian hadir sebagai momen ketepak’an: datang tanpa undangan atau diundang, tetapi justru meninggalkan jejak kesan yang mendalam. Resah pun demikian. Ia tidak selalu menuntut adanya jawaban, terkadang hanya ingin diakui jujur apa adanya dan diolah secara sadar, agar tidak membusuk di dalam batin.
Berangkat dari kesadaran itulah Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi Januari 2026 dihadirkan. Bukan semata sebagai agenda rutin, melainkan sebagai ruang jeda. Tempat di mana keresahan dipeluk bersama, sebelum ia diterapkan menjadi laku dalam kehidupan sehari-hari.
Di sudut kota Gresik yang akrab dengan sesak. Rumah-rumah berdiri rapat berdesakan. Menjamurnya kompleks perumahan menjadi pemandangan lumrah. Namun, pada Ahad malam, 11 Januari 2026, di tengah kepadatan itu, sinau bareng justru terasa menyejukkan sekaligus menggembirakan.
Pada malam itulah, Telulikuran kembali digelar. Kedatangan RedMa, Cak Harianto, menambah khazanah keilmuan. Juga pengalaman batin yang tak ternilai harganya.
Bisa dibilang kehadiran beliau bersifat dadakan. Cak Harianto menghubungi salah satu penggiat Damar Kedhaton pada Sabtu sore, sehari sebelum pelaksanaan. Tentu saja, kabar ini menjadi kegembiraan tersendiri untuk mengawali rutinan di awal tahun 2026.
Kehadirannya terasa seperti perjumpaan yang serba “kebetulan”. Cak Harianto menyebut sebagai “ketepak’an”. Istilah itu disampaikan di awal sebelum sesi elaborasi tema dimulai. Satu kata yang langsung tercatat di bawah alam sadar beliau begitu mendengar dan berjumpa dengan nama “Damar Kedhaton”.
Buktinya, istilah itu segera dicatat. Satu kata atau istilah yang berulang kali terdengar, lalu ditulis seketika. Buku catatan berukuran kecil, dan bolpoin menjadi arsip sekaligus alat setia beliau sepanjang momen sinau bareng malam itu.
Ungkapan spontan yang muncul sontak disambut gelak tawa belasan dulur Damar Kedhaton yang hadir. Cak Harianto lalu mengajak siapa pun yang hadir untuk berhenti sejenak dan memaknai kata tersebut. Berkaca pada khazanah Jawa, istilah “kebetulan” atau “ketepak’an”, bagi Cak Harianto, merupakan bentuk peristiwa batin. Dalam hidup ini, sambung Cak Har, sejatinya tidak ada peristiwa yang benar-benar “kebetulan”. Dan itu hanya bisa dialami oleh mereka yang punya fondasi batin yang ridho.
Tema yang dikaji malam itu sejatinya cukup berat. Menguras pikiran dan memeras kinerja otak: “Mengolah Keresahan, Meneguhkan Laku”. Bertempat di rumah Cak Ghozi, Perumahan Emerald Residence Blok C1 No. 5, Desa Kedanyang, Kecamatan Kebomas, Majelis Ilmu Telulikuran diselenggarakan. Sebuah rumah di dalam kompleks perumahan malam itu menjelma sebagai tempat singgah bersama dulur Damar Kedhaton.

Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Nadjib di Gresik ini layak disebut sebagai ruang jeda. Ruang yang memberi keluasan antara lelah ikhtiar duniawi dan kebutuhan untuk menata ulang arah gerak batin kolektif.
Resah, sebagaimana yang disampaikan Mas Sabrang dalam agenda Silatnas Penggiat Maiyah 2025, menjadi titik pemantik sinau bareng kali ini. Keresahan tidak diposisikan sebagai masalah, tetapi sebagai bekal. Sebab, gejala keresahan adalah tanda bahwa batin kita masih hidup dan aktif bekerja.
Ini juga seturut dengan apa yang disampaikan Mas Sabrang: Menjadikan Resah Sebagai ‘Ilmu (Baca selengkapnya: https://mymaiyah.id/menjadikan-resah-sebagai-ilmu/). Keresahan menjadi pintu masuk sesi elaborasi tema yang meluas dan melebar. Keresahan personal, keresahan bersama, bahkan keresahan yang muncul dari pertemuan batin-lahir dengan Mbah Nun. Baik itu pertemuan langsung maupun melalui jejak pemikiran dan keteladanan beliau.
Dan, sejak awal, Damar Kedhaton selalu berikhtiar setia pada proses belajar bersama. Terus- menerus sepanjang perang rakaat panjang: bagaimana merumuskan keresahan sekaligus kegelisahan untuk diolah bersama. Dalam konteks Majelis Ilmu, Cak Harianto mengajak dulur Damar Kedhaton mengingat kembali luberan sangu dari Mbah Nun. Terutama tentang dunia pendidikan hari ini. Ada beberapa hal yang kerap luput kita sadari.

Kemajuan dunia pendidikan hari ini memang tampak berkembang pesat dengan segala instrumen dan indikator pendukungnya: kurikulum modern, gelar-gelar prestisius, sertifikasi, dan beragam “gincu” lainnya. Namun, Majelis Ilmu yang kita ikhtiari agar istiqomah berjalan rutin—disadari ataupun tidak—justru menghadirkan kedalaman yang berbeda.
Apa yang dibicarakan bukan perkara fakultatif, melainkan universal. Bukan tentang siapa paling pandai atau pintar, melainkan tentang kesadaran untuk menata batin dengan kejujuran, kebeningan, dan kemurnian.
“Sejatinya, tidak ada teman yang benar-benar bisa menemani kita,” ujar Cak Har.
Sontak, kalimat itu membuat dulur Damar Kedhaton penasaran. Lingkaran sinau bareng semakin hening dan terfokus pada apa yang disampaikan Cak Harianto. Pada titik tertentu, lanjutnya, kita akan berjalan sendiri—bahkan kelak di hari akhir. Yang bisa menemani hanya amal dan kejernihan batin kita sendiri.
Maka, majelis ilmu seperti ini bukan semata ruang diskusi terbuka untuk beradu argumentasi isi kepala, tetapi juga ruang belajar bersama untuk merawat kesadaran dan fondasi utama hidup-kehidupan.
Dari keresahan itulah berbagai gerakan padatan di Damar Kedhaton lahir: Lumbung Al-Mutahabbina Fillah (LAM-F), Merchandise DK (Merch-DK), dan Damar Produktif (DamPro). Padatan itu lahir bukan untuk dibanggakan, tetapi wajib untuk terus dievaluasi.

Cak Fauzi menegaskan bahwa ketiganya tidak berdiri sendiri. Semuanya lahir dari keresahan yang sama, dirumuskan bersama, lalu diwujudkan dalam bentuk aplikasi yang berbeda. Keterbukaan proses menjadi bahan sinau agar langkah eksekusi tetap setia pada value Maiyah.
Usai pemaparan progres dari perwakilan padatan itu, rencana jangka pendek dan panjang, serta transparansi tata kelola keuangan, Cak Harianto menanggapi dengan contoh sederhana yang sering kita jumpai—namun kerap luput dari kesadaran.
Ia menggambarkan ada tiga orang yang berangkat ke masjid dari titik awal yang sama: waktu dan jarak. Langkah kaki dan kecepatannya serupa. Tujuannya sama. Namun, setiba di masjid, orientasinya berbeda: ada yang buru-buru ke kamar mandi untuk buang hajat, ada yang mengambil sandal, ada pula yang mengejar barisan shaf jamaah sholat.
Dari situ kita ketahui: langkahnya sama-sama menuju ke masjid. Tapi ternyata orientasinya berbeda. Di situlah manusia diuji. Termasuk dalam lingkungan sosial.
Lalu, Kamituwa Damar Kedhaton, Wak Syuaib mengajak menarik garis mundur ke belakang: bagaimana membaca sekaligus meneladani laku hidup yang dijalani Mbah Nun selama ini. Bahwa, meneladani bukan sekadar membaca apa yang tampak. Yang perlu ditekankan adalah pada keteguhan yang bersumber dari nilai yang dihidupi beliau.
Karena padatan Damar Kedhaton beririsan dengan ekonomi, Cak Har berbagi perspektif yang jarang diketahui banyak orang. Dengan latar belakang pendidikan ekonomi syariah, juga sempat mencicipi dunia perbankan: banyak hikmah diulas secara detail.
Islam, kata Cak Har, bukan agama pengentasan kemiskinan. Islam justru mewajibkan orang kaya untuk berderma. Kaya tidak selalu identik soal uang ataupun harta benda. Menurut Cak Har, interpretasi terhadap kata “kaya” bisa diperluas: kaya waktu, kaya tenaga, atau kaya ilmu. Semua orang pasti punya satu di antara itu semua.
Karena itu, Islam berfokus pada bagaimana keberlebihan itu memberi manfaat kepada sekitar. Dalam hal ini, Islam menawarkan tiga konsep aplikasi : zakat, shodaqoh, dan infaq. Tentu dengan pemahaman yang tepat dan empan papan.
Menariknya, Cak Har membeberkan fakta yang jarang diketahui banyak orang. Pada titik ini, masih banyak salah kaprah dalam menginterpretasikan maksud, tujuan, hingga peruntukan zakat, shodaqoh, dan infaq.
Zakat dibayarkan ketika telah mencapai nisab. Orientasinya bukan semata angka, melainkan upaya membersihkan kotoran harta duniawi. Zakat itu resik-resik diri.
Sementara shodaqoh memiliki konsep yang berbeda. Ia bukan sekadar memberi harta, melainkan ikhtiar membangun ikatan batin dalam praktiknya. Tidak perlu koar-koar. Idealnya, shodaqoh mengalir langsung dari individu yang memiliki keberlebihan kepada individu yang benar-benar membutuhkan, karena memang kondisinya kekurangan.
Misalnya, ketika melihat seorang teman sedang kesulitan, tidak perlu berbelit menunggu “uang bantingan”. Di situlah roso ikatan batin bisa tumbuh secara organik. Adapun infaq diperuntukkan bagi kepentingan publik atau kebersamaan: fasilitas umum, kebutuhan komunitas, serta ruang-ruang sosial kolektif.
Cak Har menekankan, sejatinya yang dibutuhkan manusia bukan hanya uang atau bantuan yang sifatnya charity semata. Lebih dari itu, manusia membutuhkan pelukan secara kemanusiaan—hati beserta segenap jiwa. Karena itulah, sambungnya, Rasulullah membangun ikatan batin terlebih dahulu. Baru kemudian hadir Baitul Mal sebagai badan pengelola dana bersama.
Dalam praktik dan aplikasi gerakan, Cak Har menekankan pentingnya memahami perbedaan sekaligus peruntukan definisi antara tabarru’ dan tijaroh. Poinnya jelas: tabarru’ merujuk pada aktivitas sosial non-profit yang murni berorientasi kebermanfaatan, sementara tijaroh adalah aktivitas usaha yang memang diperbolehkan mengambil keuntungan.

Namun, prinsipnya sederhana sekaligus tegas: tidak boleh merugikan kedua belah pihak. Tidak boleh menentukan keuntungan di awal—misalnya bunga di muka—dalam konsep simpan-pinjam. Dan yang paling prinsipil, dua pihak tidak boleh sama-sama jatuh karena relasi atau aktivitas tersebut. Jatuh karena bangkrut, jatuh celaka, atau jatuh dalam bentuk apapun. Spiritnya adalah saling aman-mengamankan, selamat-menyelamatkan.
Sementara itu, Pak Kris Adji—budayawan sekaligus sejarawan Gresik—menambahkan pengingat dari Surat An-Najm ayat 48: bahwa sesungguhnya Dialah yang menganugerahkan kekayaan dan kecukupan. Artinya, tidak ada istilah “miskin”, yang ada adalah berkecukupan. Maka hidup bisa dinikmati hari ini, tanpa harus menunggu besok.
Majelis Ilmu Telulikuran malam itu tidak ditutup dengan hasil catatan rekomendasi atau kesimpulan yang rapi. Ia justru dibiarkan menjadi jeda. Sebagaimana resah sejak awal tidak diminta untuk segera dituntaskan. Sebab, tidak semua ilmu perlu dikupas tuntas dalam satu malam. Sebagiannya harus diendapkan, agar kelak menjelma laku.
Pukul 01.30 WIB, Telulikuran diakhiri, satu poin kesepakatan dulur Damar Kedhaton yang berangkat dari keresahan bersama, mengingat hari aktif kerja. Tidak sekadar menjadi ruang nyangkruk dan ngopi tanpa tahu batasan. Ia sebentuk ruang hening, tempat batin diberi kesempatan untuk menata ulang arah geraknya sendiri.
Barangkali, di situlah makna ketepak’an menemukan rumahnya. Bahwa perjumpaan, ketepak’an-kebetulan, keresahan, dan kebersamaan yang terjadi di Damar Kedhaton tidak hadir untuk dipamerkan, melainkan untuk terus dirawat. Perlahan-lahan. Dirawat dalam kesadaran, dalam ikhtiar hidup sehari-hari, dan dalam kesediaan untuk terus belajar meski pada titik tertentu, tetap harus sendirian—oleh masing-masing dulur DK.
Kebersamaan malam itu dipungkasi dengan kesahajaan ; makan talaman di atas pelepah daun pisang, ikan laut bakaran, dan diselingi tawa renyah bersama. Foto bersama dilakukan sebagai jejak ingatan sejarah. Selebihnya, masing-masing pulang membawa resahnya sendiri—yang semoga tidak lagi liar, karena telah diolah dan dirumuskan bersama.
Cerme, 20 Januari 2026








