Sejak pagi, hujan turun seperti sedang menjalani tugas panjang yang tidak ia keluhkan. Tidak selalu deras, tidak juga berhenti. Dari subuh hingga malam, ia menempel di udara, membasahi jalan, meredam suara, dan memaksa orang-orang untuk sedikit lebih sabar dari biasanya. Dua hari terakhir langit seperti tidak memberi celah terang, dan malam itu hujan masih setia menggantung.
19.44
Danang dan Ikmal tiba di Kopi Sufi. Mereka masuk dengan langkah pelan, seperti tidak ingin mengganggu suasana yang masih setengah tidur. Karpet terbentang tapi kosong. Lampu-lampu memantul di lantai yang sedikit lembap. Aroma kopi belum dominan, masih kalah oleh bau hujan yang terbawa dari luar.
Tak lama, Kang Ulum menyambut. Senyumnya tipis tapi hangat. Ia mengenakan kaos hitam ber-quotes Mbah Nun dan sarung, kombinasi yang sudah seperti identitas, bukan kostum. Cara berdirinya santai, tapi matanya sigap, memeriksa sudut-sudut ruangan sambil menyapa.

Tanpa banyak aba-aba, mereka bertiga mulai bekerja. Danang membuka gulungan MMT, Ikmal menahan sisi kanan sambil sesekali melirik ponsel, Kang Ulum mengarahkan dengan isyarat tangan kecil. Konsumsi ditata, gelas-gelas dicek, meja dilap. Semua dilakukan tanpa suara keras, seperti orang-orang yang sudah paham perannya masing-masing.
Malam itu memang lebih lambat dari biasanya. Bukan karena kelalaian, tapi karena hujan yang tak juga reda dan perbaikan jalan panjang di rute Cepiring–Patebon. Jalan yang biasanya bisa dilalui dengan santai, malam itu berubah menjadi antrean panjang kendaraan yang saling mengalahkan diri.
20.30
Kang Ulum pamit. Ia mengatupkan tangan sebentar, meminta maklum. Ada rapat desa yang harus dihadiri. Sebelum pergi, ia sempat tersenyum dan berkata akan kembali sekitar pukul 22.00. Nada bicaranya tenang, seperti orang yang terbiasa berpindah dari satu tanggung jawab ke tanggung jawab lain tanpa merasa paling penting di salah satunya.
Tinggallah Danang dan Ikmal. Ikmal duduk, membuka game di ponselnya, tubuhnya sedikit membungkuk, fokus pada layar. Danang berdiri, lalu duduk, lalu berdiri lagi. Jam dinding menunjukkan pukul 21.40. Belum ada jamaah datang. Ia meraih rokok, menyalakannya, menghembuskan asap panjang ke samping. Rokok demi rokok dibakar tanpa jeda, asapnya mengepul pelan seperti cerobong kereta tua yang terus bekerja meski penumpangnya sedikit.

21.58
Suara langkah terdengar. Kang Iqul datang. Jaket hitam menutup tubuhnya, kupluk hitam melekat di kepala. Sebelum menyapa, ia menarik kupluknya sedikit ke belakang, kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan sebelum bicara. Seperti memberi ruang bagi kata-kata agar tidak terperangkap di kepala.
Ia tidak sendiri. Bersamanya dua santri dari pondok. Aris, yang langsung tersenyum dan menunduk sopan. Satu lagi, namanya luput dari ingatan penulis. Bukan karena tidak penting, hanya karena ingatan manusia kadang memilih lupa pada hal-hal yang sebenarnya ingin diingat.
Danang segera menghubungi jamaah lain. Jarum jam terasa berjalan lebih cepat. Kang Mus membalas paling awal, “Sedang di jalan, sampai Pondok Selamet.” Danang membaca pesan itu sambil mengangguk pelan, seolah akhirnya menemukan penyebab yang masuk akal: macet.
22.08
Kang Mus tiba bersama Abdur. Kang Mus mengenakan topi khas Rusia, gitar coklat kesayangannya digendong di punggung. Ia menaruh gitar dengan hati-hati, lalu merogoh saku, mengambil rokok. Seperti biasa, sebelum menanggapi apa pun, ia menghisap rokok lebih dulu. Hisapan pendek, lalu diam sejenak, baru bicara.
Abdur berdiri di sampingnya. Jaket hitamnya rapi, tapi matanya tampak lelah. Bukan lelah yang mengeluh, melainkan lelah orang yang memilih datang meski tubuhnya minta istirahat. Ia duduk, menarik napas panjang, lalu tersenyum kecil ketika disapa.

22.18
Kang Sutris datang membawa jajan. Tanpa banyak kata, ia menyodorkan bungkusan itu ke tengah. Tangannya bergerak cepat, wajahnya ramah, seperti orang yang tidak ingin kehadirannya merepotkan siapa pun.
Danang mendorong agar acara dimulai. Tidak dengan pidato, hanya dengan isyarat dan senyum kecil.
Malam itu, Tembang Pepadhang membuka sinau bareng dengan tawasulan. Sesuatu yang sudah lama jarang dilakukan. Suara doa mengalir pelan. Beberapa jamaah menunduk, ada yang memejamkan mata, ada yang memegang gelas kopi hangat. Suasana hening, hanya sesekali terdengar hujan di luar.
Mukadimah dibacakan oleh Danang. Suaranya tenang, sesekali terhenti sebentar, seperti sedang menimbang kata. Kang Mus menambahkan penjelasan, setelah satudua hisapan rokok, kalimatnya keluar lebih terukur.
Ponsel Danang berdering. Kang Ulum menanyakan kondisi Kopi Sufi dan meminta foto.
Danang memotret sudut ruangan, jamaah yang hadir, lalu mengirimkannya. Tak lama, Kang Ulum benar-benar datang. Ia membawa jajanan dan kopi dalam jumlah yang membuat orang-orang saling pandang dan tersenyum sungkan. Ia menaruhnya di meja sambil tertawa kecil, seperti merasa bersalah sudah merepotkan.

Sinau bareng malam itu terasa hidup. Kang Iqul dan Kang Mus berduet pemikiran.
Setiap kali Kang Iqul hendak bicara, kupluknya kembali ditarik ke belakang. Ia mengaku nekat membeli banyak buku sesuai tema. Jamaah tertawa bersama. Bukan tawa meledak, tapi tawa akrab, tanda saling menerima.
Pembahasan mengalir hingga menyentuh Mas Sabrang. Danang menjawab dengan hati-hati. Ia jujur, awalnya mendukung. Lalu diam sejenak, menunduk, sebelum melanjutkan bahwa ia kini melihat perlunya kembali ke khittah. Personal dan Maiyah harus dibedakan. Suaranya lebih pelan dari biasanya. Malam itu ia lebih banyak diam, bukan karena kehabisan kata, tapi karena sedang belajar mendengarkan dirinya sendiri.
Jamaah saling menguatkan. Kesimpulan muncul tanpa dipaksakan: jati diri kita ya Maiyah, ya Mbah Nun. Lepaskan Mas Sabrang, dan tetap bermaiyah.
23.37
Yahya datang dengan senyum berbinar, dengan langkah yang nampak bahagia ia perlahan melebur menanggalkan jaket kebesaranya FC Barcelona untuk bergegas duduk melingkar.
Kang Iqul mengingatkan pentingnya jeda. Ia menyebut kisah Luqman al-Hakim, bahwa kebenaran di mata manusia tidak tunggal. Kang Mus, setelah menghisap rokok, membawa sejarah Revolusi Prancis dan kisah kedai kopi yang pernah dianggap ancaman oleh Inggris.
Aris mengajukan pertanyaan tentang sistem. Ikmal, refleks, membuka AI. Beberapa jamaah tersenyum melihatnya.
Pembahasan melebar ke Amerika, elit global, dan kegaduhan bangsa. Semua sepakat pada satu hal: jangan tergesa-gesa. Tabayyun. Ambil jeda.

01.13
Asmaul Husna dibacakan. Di luar, hujan yang sejak pagi setia menemani, akhirnya reda. Udara terasa lebih ringan.
Usai penutupan, jamaah belum benar-benar pulang. Mereka duduk lagi, membicarakan rembug internal. Nada bicara lebih santai, tawa lebih sering muncul. Kesepakatan lahir: Februari nanti harus ada ruang romantis internal.
Obrolan berakhir sekitar pukul setengah tiga dini hari. Mata lelah, kopi habis, hujan reda. Orang-orang pulang dengan langkah pelan, membawa pulang sesuatu yang tidak bisa dibungkus: jeda, kesadaran, dan rasa cukup.
(Redaksi Tembang Pepadhang)








