Akhir-akhir ini dunia tengah riuh. Banyak suara saling bersahut-sahutan, klaim kebenaran berlomba menjadi yang paling diamini. Ada negara adidaya yang merasa sah menculik presiden negara lain. Ada komedian yang yakin sentilannya adalah bentuk keberpihakan paling benar. Entah di dalam negeri maupun luar, di mana-mana orang merasa benar, dan wajib diamini pembenarannya.
Di tengah kebisingan itu: “Kapan terakhir kita berhenti sejenak sebelum merasa benar?”.
Kita hidup di zaman yang alergi pada jeda. Segalanya dituntut cepat dan tegas. Keraguan dianggap kelemahan, diam disalahpahami sebagai ketertinggalan. Padahal tanpa jeda, kebenaran mudah berubah menjadi fanatisme buta.
Maka barangkali yang kita perlukan bukan sikap terburu-buru, melainkan ruang untuk menepi. Bukan untuk lari dari dunia, tetapi untuk menata ulang kesadaran sebelum kembali masuk ke dalamnya.
Dalam tradisi Maiyah, menepi sering dilakukan dengan cara yang sangat sederhana. Duduk melingkar lalu menyeruput kopi. Qahwah (kopi) hampir selalu hadir dalam kegiatan Maiyah, entah itu: Sinau Bareng, Tadabburan, atau Tawasulan. Bukan sebagai suguhan, melainkan sebagai teman laku.
Kopi itu pahit, hitam, dan jujur. Ia tidak menawarkan pelarian, justru membangunkan. Kaum sufi menyebutnya: “api kecil yang mengusir kantuk panjang bernama kelengahan”. Ia tidak menenangkan dengan tipu daya, tetapi menyadarkan dengan kejujuran. Pahitnya bukan untuk ditolak, melainkan diterima sebagai bagian dari proses sadar.
Dari sini muncul pertanyaan berikutnya, yang mungkin sering kita hindari: “Pernahkah kita jujur pada diri sendiri bahwa sebagian dari apa yang kita anggap benar sebenarnya lahir dari emosi, bukan dari kesadaran?”.
Dalam salah satu sesi Sinau Bareng pada pertengahan November 2017, Mbah Nun menyampaikan bahwa iman bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari siklus kesadaran hidup. Keduanya saling terkait dan membentuk satu kesatuan yang utuh, bukan dua hal yang terpisah antara keyakinan dan kejernihan berpikir.
Ketika kesadaran benar-benar dilibatkan, manusia tidak lagi sekadar bereaksi terhadap keadaan, tetapi mulai menimbang dengan jernih. Ia tidak buru-buru membenarkan, melainkan berusaha memahami. Pada titik inilah iman berhenti menjadi slogan dan mulai bekerja sebagai laku.
Dan saat kesadaran dijalankan secara penuh, manusia perlahan kembali pada fungsi dasarnya sebagai khalifah. Bukan sebagai makhluk yang paling nyaring suaranya, tetapi sebagai manusia yang mampu menjaga keseimbangan, merawat makna, dan bertanggung jawab atas sikap serta pilihannya.
Sejarah menunjukkan, kesadaran memang kerap dianggap berbahaya. Di Inggris, kedai kopi pernah dicurigai karena orang-orang di dalamnya berpikir terlalu jernih untuk ditenangkan. Di Prancis, kafe menjadi ruang berkumpulnya kesadaran-kesadaran kecil yang perlahan menggoyang kekuasaan. Revolusi tidak lahir dari kopi, tetapi dari manusia yang terjaga setelah meminumnya.
Pola itu ternyata tidak hanya hidup di Barat. Dalam kebudayaan kita sendiri, kesadaran juga dirawat melalui laku yang tampak sederhana. Di Jawa, ngopi sering dikenal sebagai ngolah pikir. Ngopi bukan sekadar minum, melainkan mengaduk diri. Menata ulang yang kusut di kepala, merawat rasa agar tidak mudah terseret emosi.
Jika kesadaran dirawat sedemikian rupa, maka pertanyaannya pun bergeser lebih dalam: “iman itu sekadar taklid, ataukah buah dari kesadaran?”.
Mbah Nun dalam salah satu sesi Sinau Bareng pernah mengingatkan:
“Apakah kamu benar-benar paham, atau kamu hanya memahami pemahamanmu sendiri?”.
Dan barangkali, dari situlah perjalanan ini bermula.
Redaksi Tembang Pepadhang, Danang Afi.








