Tulisan ini merupakan refleksi (dan reportase) atas tema Sinau Bareng rutin teman-teman Ma’syar Mahamanikam pada Oktober 2025 silam. Tema yang diangkat adalah Garuda Sejarah. Sesuai tema, ada 2 kata yang perlu kita tadabburi yakni “Garuda” dan “Sejarah”.
Kalau misal judulnya adalah “Sejarah Garuda”, berarti fokus yang kita bahas itu sejarah tentang garuda. Dalam konteks keindonesiaan, mungkin pertanyaannya tentang bagaimana asbabun nuzul-nya garuda kita jadikan sebagai icon atau lambang negara, apa dasar filosofinya, apa maksud tujuannya, kenapa garuda yang kemudian dipilih, dst.
Tetapi, jika “Garuda Sejarah”? Karena bahasa Indonesia memakai pola DM bukan MD, maka judul yang diangkat ini mungkin nanti perlu dijelaskan oleh teman-teman Ma’syar Mahamanikam dengan segala elaborasinya. Tapi kalau kita bedah tiap kata, berarti kita coba membabar tentang “garuda” dan “sejarah”.
Menurut KBBI, kata sejarah mengandung arti 1) asal-usul (keturunan) atau silsilah, 2) kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau, atau riwayat, dan 3) pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi di masa lalu.
Kata “sejarah” ini adalah kata yang kita ambil dari bahasa Arab “sejarah” (syajaratun) yang berarti pohon kayu. Inilah uniknya, kita mengambil tidak menyerap dari denotatif bahasa aslinya. Kata asli sejarah dalam bahasa arab adalah tarikh, bukan syajaratun yang artinya “pohon”.
Bahasa kita memang kaya konotasi, sehingga ketika kita menggunakan kata “sejarah” sebagai sebuah peristiwa masa lalu, yang artinya pohon, maka kalau kita lihat pohon, yang merupakan kisah masa lalu dari pohon itu apanya? Yang tidak terlihat dari pohon itu apanya?
Tentu yang tidak terlihat itu adalah benih yang sudah hilang dan akar yang masih ada tapi tersembunyi dari penglihatan. Kabarnya keistimewaan penggunaan konotasi dalam bahasa kita menyebabkan sejarah bangsa kita lebih bergerak menuju masyarakat yang punya cita rasa seni dan kebudayaan yang tinggi ketimbang teknologi. Itulah mungkin juga mengapa kosa kata bahasa Indonesia asli tentang teknologi, jauh lebih sedikit ketimbang kosa kata untuk membuat syair dan puisi.
Sejarah Indonesia
Sejarah sebagai suatu ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa masa lalu tentu memiliki akar (asal-usul) yang terus bercabang hingga ke masa kini. Harusnya selalu ada kesinambungan dari mata rantai cerita kita hari ini dengan asal-usulnya, sesuatu yang terputus kita sebut “ahistoris”. Bagaimana dengan sejarah kita, bangsa Indonesia ? Jika saya bertanya malam ini (tanpa teman-teman membuka chat GPT, meta-AI atau bertanya pada google) siapakah yang memberi nama negeri kita menjadi INDONESIA? Ada yang tahu tidak ?
Nama Indonesia pertama kalinya dicetuskan oleh James Richardson Logan, seorang editor asal skotlandia tahun 1850 dalam jurnal ilmiahnya “The Journal of Indian Archipelago and Eastern Asia”. Sementara George S.W. Earl yang mengusulkan pertama kali istilah resmi “Indonesia”. Dia mengartikan Indonesia sebagai “kepulauan India”, (Indos = India, Nesos = pulau). Apa hubungannya kita dengan India? Lalu kenapa nama negara kita, bukan kita sendiri yang membuatnya? kapan sejarah Indonesia dimulai? Tahun 1945 atau jau..uuh sebelumnya, yang kita kenal dengan istilah nusantara?
Mbah Nun sering melempar pertanyaan, apakah 1945 yang telah melahirkan bangsa Indonesia ataukah bangsa Indonesia yang melahirkan 1945? Lebih mendasar lagi, apakah kita memiliki potret yang lengkap tentang siapa kita?
Sejarah Garuda
Nyambung juga, kenapa garuda dipilih sebagai ikon negara? Secara mitologis, burung Garuda adalah kenderaan (wahana) Dewa Wisnu, yang diambil dari khazanah mitologi Hindu-Budha. Tampaknya kita memang beririsan dengan India ??? Informasinya, simbol garuda ini banyak ditemukan dalam jejak peradaban silam kita pada relief-relief yang terpahat di candi Borobudur dan Prambanan. Mungkinkah simbol itu terinspirasi dari sejarah tsb? Lalu kenapa Garuda yang dipilih, bukan sosok-sosok hewan lainnya?

Burung Garuda tidak identik dengan Elang, Garuda berasal dari ranah dunia mitologi. sebagai makhluk simbolik yang kaya akan nilai filosofis. Burung Garuda dijadikan lambang negara Indonesia karena dimaknai melambangkan berbagai nilai luhur seperti kebijaksanaan, kesetiaan, kekuatan, dan keberanian—karakteristik yang diharapkan dimiliki oleh bangsa Indonesia. Simbol ini diusulkan oleh Sultan Abdul Hamid II, sultan di Pontianak yang di kemudian hari ironisnya dicatat sejarah sebagai pemberontak NKRI.
A-Historis
Dari uraian di atas, tampaknya ada semacam ketidaksambungan antara realitas dengan konsep asal-muasal. Keterputusan ini diantaranya mungkin disebabkan tidak populernya budaya literasi dalam sejarah bangsa kita. Jika kita mencoba membandingkan dua peninggalan monumental yang dimiliki bangsa kita dan bangsa lain (mesir), misalnya antara Candi Prambanan dengan Piramida di Mesir, cerita populer yang sampai kepada kita tentang candi Prambanan diperoleh dari legenda Roro Jonggrang ketimbang sumber prasasti Siwagraha. Sementara piramida mesir mewariskan tulisan hieroglif yang memuat detail sejarah pembangunan Piramida dan kerajaan Mesir kuna. Kita sebutlah lebih “mewarisi mitologi-nya” dan bukan jejak arkeologis historisnya.
Antara Historis dan Legenda
Bagaimana kalau Nabi Yahya a.s kita sebut sebagai tokoh historis, sementara Nabi Idris a.s tidak? Apa yang membedakan kedua tokoh tersebut? Setidaknya ada 2 hal, kejelasan makam dan bukti tertulisnya. Makam Nabi Yahya ada di Masjid Umayah Damaskus dan relik potongan tangan besinya tersimpan di museum topkape Istanbul, sementara dimana makam Nabi Idris? Kisah Nabi Yahya (Yohanes Pembaptis) pernah direkam oleh penulis sejarah Yunani dan Romawi pada abad ke-1 Masehi seperti dokumen milik Flavius Josephus dan Pliny the Elder, sementara kisah Nabi Idris hanya bersandar informasi dari kitab suci. Disini kita dapat menyebutkan bahwa keberadaan penulisan sebagai “marker” sesuatu itu masuk dalam kategori sejarah atau hanya sebatas legenda.

Dalam konteks sejarah yang lebih jauh lagi, kita dapat memasukkan Nabi Adam a.s dalam kategori tokoh legenda. Adam bukan figur historis, dalam arti keberadaannya tidak terlacak dalam dokumen, prasasti atau temuan arkeologis manapun. Tidak ada catatan atau saksi mata yang dapat menerangkan secara saintifik hingga hari ini siapa Adam itu? Dimana dulu persisnya ia berdomisili hingga di mana makamnya?
Orang beriman pada posisi menyandarkan kepercayaannya pada informasi yang disampaikan Kitab Suci. Adam diceritakan berasal usul dari surga. Tidak ada penjelasan, dimana lokasi surga yang Adam diami dahulu, sebelum akhirnya dia “terusir ke bumi”. Apakah surga itu suatu tempat nun jauh diluar planet bumi atau berada di suatu dimensi lain? Atau apakah surga yang dimaksud merupakan bagian petak kecil yang subur nan hijau di salah satu bagian wilayah bumi?
Al-Qur’an mengisahkan sekilas kehidupan Adam semasa berada di surga, bahwa Ia telah dibekali ilmu mengenal nama-nama benda (fenomenologi) sehingga bisa jadi nenek moyang manusia ini secara keilmuan jauh “lebih maju” dibandingkan manusia-manusia selanjutnya yang hidup di zaman modern sekalipun. Wallahu’alam. Sekali lagi, tidak ada kisah rinci yang menjelaskan tentang kehidupannya.
Untuk menegaskan bahwa betapa pentingnya sejarah, setiap hari minimal 17 kali dalam sehari kita diwajibkan membaca Al-Fatihah yang redaksi berupa doa bernuansa sejarah.
اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَۙ
Bimbinglah kami ke jalan yang lurus,
صِرَاطَ الَّذِيْنَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ ەۙ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّاۤلِّيْنَࣖ
(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat,
bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) orang-orang yang sesat
Kalimat “jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat”, adalah kumpulan perjalanan hidup manusia-manusia baik yang pernah hidup di masa lalu. Dalam konteks ini, menjadi teramat penting bagi kita mempelajari Sirah Nabawi (Biografi kehidupan Nabi Muhammad Saw) yang menjadi uswah teladan mutiara keteladanan hidup bagi kita umat Islam. Secara apologetik, kita mungkin dapat mengatakan bahwa tidak ada seorangpun manusia yang kisah hidupnya dari kelahiran hingga wafatnya yang dicatat oleh ratusan sejarawan, dari zaman ke zaman seperti kisah hidup Nabi Muhamad Saw.
Estimasinya ada lebih 200 karya Sirah Nabawi yang pernah ditulis. (Ada 3 judul film dramatik layar lebar dan ada 10 judul film dokumenter yang pernah dibuat). Setiap ucapan Nabi, tindakan Nabi bahkan diamnya Nabi, semuanya terekam dengan baik oleh pena para sahabat. Dan pada kenyataannya, Rasulullah saw sendiripun, dididik Allah Swt lewat kisah-kisah Nabi dan umat terdahulu.
وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَاۤءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ وَجَاۤءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ
Semua kisah rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu (Nabi Muhammad),
yaitu kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.
Didalamnya telah diberikan kepadamu (segala) kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang-orang mukmin.
(QS Hud 120)
Jika mau melihat Islam dalam wujud praksis, kita juga perlu mengenal kehidupan Sahabat Nabi. Jumlah sahabat Nabi menurut Hadish ada 114.000. Ibn Hajar al Asqalani, sejarawan dan Ulama yang pernah menulis tentang sahabat Nabi mengatakan bahwa sahabat Nabi yang memiliki catatan kehidupannya hanya 11.000 orang (10 % saja). Maka alangkah lebih lengkap lagi jika kita meneruskannya dengan tadabbur sirah para sahabat Nabi. Karena sahabat Nabi adalah generasi yang paling penting dalam sejarah Islam, yang lewat kehidupan mereka praktik dan kelestarian ajaran Islam termanifestasikan. Sahabat Nabi adalah sosok yang punya memori sangat kuat dan paling terpercaya tentang kehidupan Rasulullah Saw.
Pentingnya sejarah juga menjadi salah satu tema yang membangun pilar dalam bagian rukun Islam kelima, yakni Haji. Praktik ibadah haji, seolah memasuki kembali mesin waktu masa silam tidak lain adalah napak tilas sejarah kehidupan Nabi Ibrahiem a.s dan keluarganya.
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ
“Sesungguhnya Safa dan Marwah merupakan sebagian syi‘ar (agama) Allah. (QS 2: 158)
Safa dan Marwah adalah landmark sejarah, tempat dimana siti Hajar berjuang untuk menyelamatkan putra semata wayangnya Nabi Ismail mencari air. Safa, Marwah, Mina, lokasi jumrah sebagai monumen atau sebutlah seperti “museum” tempat kita kembali merefleksikan dan menggali makna dari perjuangan Nabi Ibrahiem dan keluarganya.
Sepertiga isi Al-Qur’an adalah kisah sejarah. Hal itu semakin mempertegas betapa pentingnya sejarah dalam kehidupan. Al-Qur’an bicara tentang sosok-sosok historis seperti Fir’aun, Qarun, Hamman, Namrudz dll, informasi sejarah tersebut sebenarnya bukan terhenti pada data historisnya saja bahwa mereka semua itu pernah ada, tapi yang lebih penting lagi adalah pesan moralnya. Bukan bukti objektif empirisnya saja yang harus ditonjolkan, tapi tadabbur subjektif nya juga diperlukan. Bahwa esensi dari peristiwa-peristiwa sejarah tersebut bersifat universal dan abadi. Sejarah adalah pola, sejarah adalah arah yang sifatnya akan berulang di masa depan
فَاقْصُصِ الْقَصَصَ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ
Maka, ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berpikir (QS 7:176).
قُلۡ سِيۡرُوۡا فِى الۡاَرۡضِ ثُمَّ انْظُرُوۡا كَيۡفَ كَانَ عَاقِبَةُ الۡمُكَذِّبِيۡنَ
Katakanlah (Muhammad), “Jelajahilah bumi, kemudian perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu! (QS 6:11).
Sejarah Asal-Usul
Bahkan kesalahan memahami sejarah terutama sejarah asal muasal dapat menyebabkan kesalahan fundamental dalam menjalani hidup. Semua dari kita yang pernah hidup di dunia ini memiliki awal, tapi bagaimana awal mula pertama kali semua kehidupan ini adalah sesuatu yang sukar sekali untuk dicari jawabannya. Kita semua menanti jawaban dari teka teki kuno sepanjang masa tentang: “ darimana kita berasal, mengapa kita dapat ada disini sekarang, dan akan kemana kita akan pergi?”. Diskusi tentang asal usul ini bahkan kini jauh ke titik paling mendasar, bagaimana kehidupan ada di planet bumi? Bagaimana alam semesta ini tercipta?

Kini pertanyaan-pertanyaan yang sifatnya filosofis itu, bukan menjadi pertanyaan eksklusif kalangan filsuf dan agamawan saja, namun dari barisan para ilmuwan seperti astronom, kosmolog, fisikawan hingga biolog abad 20 juga mulai membangun berbagai teori, prediksi dan observasi untuk mencoba menjawab pertanyaan paling mendasar itu. Atheisme adalah gagasan yang lahir dari kesalahpahaman memahami sejarah, terutama sejarah asal usul (sangkan paraning dumadi).
Wallahualam
Sangatta, 19 Oktober 2025








