JUGURAN SYAFAAT | Edisi : 153 | DEMOKRASI LA ROIBA FIH | Jumat, 26 Desember 2025, 20.00 WIB | Hetero Space Banyumas, Purwokerto. #JSDes
Di tengah kehidupan berbangsa hari ini, kita semua berdiri di sebuah ruang yang penuh tanda tanya: sampai sejauh mana demokrasi yang kita junjung benar-benar memanusiakan manusia? Demokrasi kerap diumpamakan sebagai rumah besar tempat semua orang boleh masuk, bicara, didengar, dan dihargai. Namun sering kali, rumah itu lebih mirip serambi depan—kita dipersilakan berdiri, tapi tidak benar-benar diberi tempat duduk. Cak Nun, dalam kumpulan tulisannya, menyebut demokrasi sebagai kebenaran yang la roiba fih—tak ada keraguan padanya—karena nilai dasarnya adalah kesetaraan dan kemerdekaan manusia. Akan tetapi, beliau juga mengajak kita jujur melihat bahwa antara konsep dan kenyataan selalu ada celah, dan di celah itulah kita diuji sebagai warga sekaligus sebagai manusia.
Kita hidup di zaman ketika demokrasi bisa dirayakan besar-besaran, namun sekaligus dirusak perlahan oleh ketakutan, keseragaman, dan kepentingan-kepentingan yang bekerja secara senyap. Di satu sisi, rakyat diminta menggunakan hak suara; di sisi lain, suara itu sering tidak dianggap ketika hasilnya tak sesuai selera para pemilik panggung. Maka lahirlah paradoks: sistem yang sejatinya mempersilakan justru dipenuhi praktik meminggirkan. Cak Nun menggambarkan demokrasi sebagai “perawan” yang merdeka dan memerdekakan, sebuah metafora yang menegaskan bahwa demokrasi seharusnya menghadirkan kelapangan, bukan penyeragaman; keberanian, bukan ketakutan; keluasan ruang bicara, bukan pembungkaman yang halus.
Karena itu malam ini kita melingkar bukan hanya untuk membincang demokrasi sebagai istilah politis, tetapi sebagai laku hidup. Demokrasi bukan milik negara; ia hidup dalam cara kita mendengar, bertanya, mempersilakan orang lain berbeda. Ia tumbuh dalam keberanian warga untuk jujur pada hati nuraninya tanpa kehilangan rasa hormat pada sesama. Kita mungkin tidak bisa mengubah sistem dalam semalam, tetapi kita bisa mengubah cara kita hadir sebagai manusia di dalamnya. Semoga perjumpaan ini menjadi ikhtiar kecil untuk merawat akal sehat, memelihara kesadaran, dan menjaga harapan—agar demokrasi tidak hanya menjadi kata yang dihapal, tetapi napas yang kita hidupi bersama.
(Redaksi Juguran Syafaat)








