Mari sejenak kita ingat berita-berita yang belakangan ini kerap memenuhi layar kita: banjir bandang yang menyapu permukiman, tanah longsor yang menimbun kehidupan, kabut asap yang mengganggu napas, atau cuaca ekstrem yang mengacaukan panen. Setiap kali itu terjadi, kita dengan mudah menyebutnya: “Bencana Alam”.
Namun, perlahan kita mulai bertanya: Benarkah ini murni bencana dari “alam”? Atau, jangan-jangan, alam justru sedang memberi respons, sedang membalas, atau sedang “sakit” akibat ulah kita, manusia, yang seharusnya menjadi penjaganya.
Sebuah pertanyaan reflektif: Apakah alam yang menjadi bencana, atau justru kitalah yang telah menjadikan alam tempat bencana bersemi?
Al-Qur’an dengan sangat jelas menempatkan manusia pada posisi yang mulia sekaligus berat: sebagai Khalifah fil Ardh – wakil Allah di muka bumi. Kita bukanlah turis, bukan pula penakluk yang berhak mengeksploitasi seenaknya. Kita adalah pengelola (steward) yang harus mempertanggungjawabkan setiap tindakan kita kepada Sang Pemilik sejati, Allah SWT.
Lihatlah urutan penciptaan-Nya. Langit, bumi, gunung, tumbuhan, dan hewan – semuanya diciptakan dalam keseimbangan (mizan) – sebelum manusia hadir. Alam berdiri dengan aturan-Nya yang sempurna. Lalu, di manakah posisi kita? Kita dihadirkan sebagai khalifah di dalam sistem yang sudah harmonis itu, untuk memelihara, bukan untuk mengacau.
Namun, realitanya? Seringkali kita gagal. Kita terjebak dalam pola pikir jangka pendek: mengejar keuntungan pribadi dengan mengorbankan sumber daya bersama. Inilah yang dalam literatur ekologi dikenal sebagai “Tragedy of the Commons” – tragedi kepemilikan bersama. Hutan ditebang, sungai dicemari, udara dikotori, karena masing-masing kita – atau korporasi – berpikir: “Ah, hanya saya yang melakukannya, dampaknya kecil.” Dan ketika semua berpikir demikian, maka terjadilah bencana kolektif. Ini bukan lagi dosa privat, tetapi dosa ekologis yang dampaknya dirasakan oleh semua makhluk.
Pertanyaannya, apakah benar ini bencana alam atau ketidakmampuan kita sebagai khalifah fil Ardh?
Selamat Berdiskusi.
(Redaksi Lumbung Bailorah)








