Setiap hari, pikiran sadar kita memainkan peran sebagai sutradara yang percaya diri, mengira dialah yang mengendalikan alur cerita hidup. Namun, benarkah demikian? Bagaimana jika kita sadar bahwa 90% dari tindakan, kepercayaan, dan ketakutan kita justru digerakkan oleh sang dalang tak terlihat: pikiran bawah sadar? Ia menyusun skenario dari memori yang terlupakan, trauma yang dikubur, dan impian yang tak diakui. Mampukah kita menarik tirai dan melihat wajah sebenarnya dari dalang yang menentukan jalan hidup kita?
Di manakah sebenarnya takhta keputusan kita bersemayam? Apakah di jaringan saraf otak yang rumit, tempat logika dilahirkan, ataukah di ruang gelap hati yang sunyi, tempat emosi mengalir deras? Jika otak adalah sang kaisar yang tegas dengan hukum sebab-akibatnya, maka hati adalah sang pemberontak yang bisikannya mampu menggulingkan kekuasaan rasio. Lalu, ketika kita memilih, suara siapakah yang sebenarnya kita dengarkan—penguasa atau pemberontak itu?

Jika realitas hanyalah interpretasi otak terhadap sinyal listrik, bukankah hidup ini pada dasarnya adalah ilusi yang disepakati? Bagaimana kita bisa yakin bahwa apa yang kita lihat, rasakan, dan yakini adalah “nyata”, bukan sekadar konstruksi pikiran yang rapuh? Ketika mimpi terasa lebih hidup dari kenyataan, atau ketika kenangan palsu bersemayam dengan mantap di benak, lantas di manakah garis pemisah sebenarnya antara dunia di luar dan dunia di dalam diri kita? Mungkinkah kita hidup dalam dua realitas sekaligus—satu yang dibangun oleh indra, dan satu lagi yang diciptakan oleh jiwa?
Mari melingkar bersama, Sinau bareng untuk mengobati rasa penasaran.
(Redaksi Paseduluran Maiyah Pasuruan)








