Bagi sebagian yang terlatih dengan optimis hingga menjadikan dirinya apatis, sering kali melihat linieritas suatu fakta sebagai kebenaran tunggal yang berlaku mutlak. Maka tidak mengherankan bila dengan keyakinan tersebut menganggap bahwa dalam suatu pencapaian, posisi adalah kunci utamanya hingga secara totalitas meyakini bahwa posisi menentukan prestasi. Sehingga baginya adalah wajar kiranya bila posisi yang dianggap sebagai representasi nilai, menjadi daya tawar selayaknya sebuah komiditi.
Tapi benarkah posisi adalah faktor utama penentu prestasi? Bagi sebagian yang terlatih dengan skeptis yang menumbuhkan jiwa antusias, dengan lapang hati akan lebih menyadari bahwa fakta tidaklah selalu linier dan bersifat mutlak akan kebenarannya. Sehingga dalam dirinya meyakini bahwa masih banyak faktor yang menjadi penentu keberhasilan lebih dari sekedar posisi.
Bahkan pada sebagian yang berpikir skeptis, sering kali posisi menajdi faktor yang sangat diabaikan dalam membangun sebuah keberhasilan melalui prestasi. Bukan karena apa, upaya memfokuskan pada suatu posisi justru hanya akan mengkaburkan faktor komposisi yang tidak kalah pentingnya dalam mencapai prestasi. Hal tersebut seringkali membuat efek traumatik sehinga respon dalam dirinya terhadap posisi hanyalah menganggap sebagai faktor penghalang dan berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya.
Dan bilamana posisi dan komposisi saling melengkapi dalam suatu prestasi, maka untuk apa posisi yakin mengejar prestasi tanpa suatu komposisi? Dan untuk apa pula membangun segundang komposisi tanpa pernah beranjak untuk mengambil posisi dalam menggapai prestasi? Namun daripada itu, benarkah bahwa posisi benar-benar mampu berdiri membangun prestasi dengan mengabaikan komposisi? Dan jikalau memang harus dengan prestasi, maka sepadankah langkah untuk menghindar dari segala posisi dengan kematangan komposisi?
(Redaksi Segi Wilasa Agung)








