Minggu malam, 27 September 2026, menjadi malam yang berbeda bagi keluarga besar Sulthon Penanggungan. Untuk pertama kalinya, Sinau Bareng diselenggarakan di Gazebo SP, sebuah ruang baru yang berada di Dusun Sumberingin, Desa Sumbersuko, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tempat yang sederhana itu menjadi saksi pertemuan sembilan jamaah yang hadir membawa semangat yang sama: belajar bersama agar tetap waras di tengah zaman yang semakin gaduh.
Langit malam tampak terang. Udara terasa bersahabat. Meski jumlah jamaah tidak sebanyak beberapa edisi sebelumnya, suasana justru terasa lebih intim. Ada rasa penasaran sekaligus kebahagiaan karena ini merupakan kali pertama Gazebo SP digunakan sebagai tempat Sinau Bareng. Setiap orang seakan sedang mengenali rumah baru bagi perjalanan belajar yang akan terus bertumbuh.
Namun ada hal lain yang membuat malam itu terasa istimewa. Para pegiat sepakat untuk tidak menggunakan pengeras suara selama acara berlangsung. Bukan karena keterbatasan fasilitas, melainkan karena di seberang jalan terdapat warga yang masih dalam suasana berkabung. Sebuah keputusan sederhana, tetapi mengandung pelajaran besar tentang bagaimana nilai kemanusiaan dan empati tetap harus hadir dalam setiap aktivitas.
Malam itu Sinau Bareng tidak hanya berbicara tentang waras di zaman yang gila, tetapi juga mempraktikkannya.
Acara dibuka dengan pembacaan tawashshul yang dipimpin oleh Cak Taufiq, dilanjutkan pembacaan Surat Ar-Rahman oleh Cak Rochim. Setelah itu, para pegiat Sulthon Penanggungan melantunkan sholawat secara koor tanpa iringan alat musik. Tidak ada terbang, darbuka, bass, maupun kecrek. Hanya suara manusia yang menyatu dalam pujian kepada Rasulullah SAW.
Justru dalam kesederhanaan itulah suasana terasa lebih khusyuk. Tidak ada yang perlu ditinggikan volumenya, sebab setiap orang hadir dengan kesiapan untuk mendengar dan didengar.
Dalam pengantar tema malam itu disampaikan sebuah gagasan yang cukup menggelitik:
“Idealisme penting sebagai kompas yang menunjukkan arah dan tujuan. Namun dalam melangkah, kita tetap membutuhkan sikap realistis agar tidak berbenturan dengan kenyataan. Di tengah zaman yang semakin gaduh, menjaga idealisme adalah keharusan, tetapi menghayatinya secara realistis adalah kebijaksanaan agar kita tidak hanyut dalam kegilaan zaman.”
Kalimat tersebut menjadi pintu masuk menuju diskusi tentang bagaimana manusia menjaga kewarasan di tengah derasnya perubahan zaman, banjir informasi, tekanan sosial, dan berbagai standar hidup yang terus bergeser.

Mas Luthfi sebagai pengantar materi mengajak jamaah melihat bahwa manusia tidak mungkin menghentikan perubahan zaman. Dunia akan terus bergerak, teknologi akan terus berkembang, dan tantangan hidup akan terus berubah bentuk. Yang dapat dilakukan manusia adalah membangun fondasi yang membuat dirinya tetap kokoh di tengah perubahan itu.
Beliau menyampaikan lima sikap yang dapat menjadi pegangan: tabayyun, tafakkur, sabar, qanaah, dan muhasabah.
Tabayyun mengajarkan manusia untuk tidak mudah percaya pada segala informasi yang diterima. Tafakkur mengajak manusia meluangkan waktu untuk berpikir dan merenung. Sabar menjadi kekuatan untuk menghadapi keadaan yang tidak sesuai harapan. Qanaah membantu manusia merasa cukup tanpa kehilangan semangat untuk berusaha. Sedangkan muhasabah menjaga manusia agar tidak lupa mengevaluasi dirinya sendiri.
Salah satu kalimat yang paling mengena malam itu adalah:
“Hidup bukan seberapa banyak yang kita miliki, namun seberapa sadar kita mensyukurinya.”
Diskusi kemudian berkembang pada perbedaan antara ilmu dan pengetahuan. Di era digital saat ini, memperoleh pengetahuan menjadi sangat mudah. Dalam hitungan detik seseorang dapat menemukan jawaban dari berbagai pertanyaan melalui internet dan media sosial. Namun jamaah sepakat bahwa pengetahuan belum tentu menjadi ilmu.
Pengetahuan dapat disimpan di kepala, sedangkan ilmu harus hidup dalam laku kehidupan.
Pembahasan lain yang cukup menarik adalah bagaimana membimbing anak-anak menghadapi sesuatu yang dianggap wajar oleh lingkungan, tetapi sebenarnya mengandung keburukan. Dari berbagai pengalaman yang dibagikan jamaah, muncul kesadaran bahwa mendidik anak tidak cukup hanya dengan larangan dan nasihat. Orang tua juga harus menjadi contoh nyata dari nilai yang ingin diajarkan.
Pada sesi tanya jawab, Cak Lukman mengajukan pertanyaan yang mengundang refleksi mendalam:
“Bagaimana mengetahui seseorang benar-benar berilmu, karena yang mampu menasihati ternyata saat mengalami sendiri tidak mampu mengaplikasikannya?”

Jawaban yang muncul menjadi salah satu inti pelajaran malam itu. Pengetahuan memang dapat dicari dan dipelajari oleh siapa saja. Namun ilmu baru benar-benar terlihat ketika seseorang diuji oleh kehidupannya sendiri.
Saat seseorang menghadapi kehilangan, kesulitan, tekanan, atau kegagalan, di situlah terlihat apakah apa yang selama ini diucapkan benar-benar telah menjadi bagian dari dirinya. Karena itu, ukuran ilmu bukanlah banyaknya kata-kata yang mampu disampaikan, melainkan sejauh mana seseorang mampu menjalani dan mempertahankan nilai-nilai tersebut dalam kehidupannya.
Tanpa terasa waktu terus berjalan hingga mendekati tengah malam. Tidak ada suara pengeras yang menggema. Tidak ada musik yang mengiringi diskusi. Namun justru kesederhanaan itu menghadirkan suasana kontemplatif yang sulit dilupakan.
Menjelang pukul 00.15 WIB, acara ditutup dengan lantunan wirid Maulan Siwallah oleh Cak Sule, kemudian doa dipimpin oleh Cak Taufiq. Setelah sesi foto bersama, para jamaah segera beranjak pulang. Hari Senin telah menunggu dengan segala aktivitas dan tanggung jawabnya masing-masing.
Malam itu meninggalkan pelajaran yang sederhana namun mendalam: menjadi waras bukan berarti menjauh dari zaman, melainkan mampu hidup di dalamnya tanpa kehilangan arah. Tetap terbuka terhadap perubahan, tetapi tidak kehilangan nilai. Tetap mengikuti perkembangan, tetapi tidak kehilangan kesadaran.
Karena pada akhirnya, kewarasan bukanlah tentang siapa yang paling banyak tahu, melainkan siapa yang terus belajar menjaga hati, akal, dan syukurnya di tengah dunia yang sering kali mengajak manusia berlari tanpa sempat memahami ke mana ia sedang menuju.
Pesan yang dapat dibawa pulang dari malam itu adalah: jangan biarkan kebisingan zaman mengambil alih ketenangan hati kita. Teruslah belajar, teruslah bertanya, dan teruslah merawat kesadaran bahwa setiap langkah hidup sejatinya adalah perjalanan untuk kembali kepada Allah SWT.








