WAJAH-WAJAH BARU DAN SEMANGAT TERBAHARUKAN

Malam itu saya kaget. Besok pagi, sebuah pertemuan agung akan digelar. Di sana, akan ada banyak orang dari seluruh pelosok negeri yang berkumpul, bercengkerama, dan kembali bersua setelah dua tahun mereka tak saling jumpa. Mereka adalah orang-orang yang saling mengikatkan diri dengan tali hablullah, dalam simpul al mutahabbina fillah, di ruang kebersamaan Maiyah.

Sudah dua minggu lalu pesan dari koordinator simpul (korsim) mendarat di surel akun yang saya bawa. Spontan, muncul dua respons dalam pikiran, antara mangan gedhen atau geger gedhen. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang terbendung di kepala ketika pembacaan surat itu rampung: “Silatnas Maiyah, kira-kira ngapain aja? Siapa saja yang berangkat? Tema apa ini? Apa itu reorganisme?” dan pertanyaan-pertanyaan lain yang terus berputar-putar di kepala. Saya tak sabar menunggu jawaban dari seluruh pertanyaan itu.

Sehari sebelum itu, hampir-hampir saya tak bisa tidur. Tidak, hal ini belum untuk dan karena Maiyah. Agaknya pertandingan sepakbola antara Maroco dan Portugal itu benar-benar sayang untuk dilewatkan. Bersama beberapa teman kampus, kami merencanakan untuk nonton bareng di salah satu warung kopi sekitar Jalan Kaliurang. Kami ingin menyaksikan performa Ronaldo, apakah ia dapat mengalahkan doa sejuta umat muslim. 

Ketika sedang asyik menyaksikan sundulan maut Youssef En-Nesyri yang tingginya sundul langit, HP saya bergetar. Tertulis nama “Mas Humaidi” dalam notifikasi itu. Dia mengirimkan sebuah pesan “Sesok kowe mangkat neng Silatnas. Awakku rodok gak penak (besok kamu berangkat ke Silatnas, aku sedang gak enak badan). Saya langsung tertegun, apa Cak Komed gak nonton jihad akbar sepak bola ya? Bisa-bisanya dia kirim pesan di tengah situasi epik. Sedetik kemudian baru saya sadar, “Lho, berarti nasib simpul Blitar ada di tangan saya, anak kecil ingusan ini?”. Atas penghormatan kepada senior, mau tak mau, saya harus jawab “syap”.

Silatnas, Ngapain aja?

Minggu (11/12) pagi, tepat pukul 07.33 saya tiba di Rumah Maiyah, Kadipiro untuk melaksanakan perintah. Saat itu suasana masih sepi. Hanya ada beberapa mobil yang mungkin sudah tiba sewaktu dini hari atau bahkan malamnya, sebab jauhnya jarak perjalanan yang mereka tempuh. Sepuluh menit saya duduk di bangku warung SyiniKopi, orang-orang mulai berdatangan: beberapa dari mereka adalah orang yang saya kenal dan lebih banyak dari mereka yang asing.

Ada beberapa yang mungkin sudah hilang dari kebiasaan saya yang ternyata hal ini masih dapat ditemui. Jabat tangan keliling ala tahlilan di kampung kelahiran, salah satunya, tak lupa dengan senyum, salam, dan sapa hangat dari masing-masing personalia. Sungguh pemandangan yang indah.

Forum dimulai ketika Mas Fahmi mulai mengetuk-ngetuk mikrofon, memberikan sinyal agar seluruh hadirin memadati lokasi acara. Seperti forum Maiyah pada umumnya, acara diawali dengan pembacaan shalawat yang kali ini dipimpin oleh Mas Faqih, putra dari almarhum Mas Zainul KiaiKanjeng. Performa Mas Faqih betul-betul mengingatkan seluruh jamaah akan mendiang ayahnya.

Lepas prosesi munajat dan ungkap rasa cinta kepada Nabi Muhammad Saw., Mas Hari memimpin acara selanjutnya, yaitu Sharing Simpul Maiyah. Dalam sesi ini, setiap simpul dari berbagai penjuru dipersilakan untuk mengungkapkan ihwal keadaan dari tiap-tiap simpul, baik ketika pandemi maupun pasca pandemi. Mulai dari Medan hingga Sulawesi, hampir seluruh simpul mengirimkan perwakilan mereka untuk mengungkapkan kondisi, capaian, serta problem-problem yang mereka hadapi. Banyak sekali ide-ide genuine yang muncul, di antaranya: (1) Sakinahan, sebuah piagam bergilir yang dihadiahkan untuk penggiat simpul Magelang yang berhasil melampaui masa jomblo; (2) Upaya kedaulatan pangan yang dilakukan oleh simpul Gugur Gunung dengan pengawalan kepada petani, mulai dari awal pembibitan hingga proses penjualan; (3) Berbagi nasi bungkus kepada polisi sebagai bentuk rasa kasih yang meluap oleh simpul Rembang.

“Saya melihat wajah-wajah baru yang hadir di Silatnas kali ini,” ujar Mas Fahmi. Ini merupakan sebuah pertanda bahwa simpul-simpul telah berhasil melakukan regenerasi dengan baik. Awal mula, saya mengira bahwa hanya saya yang belum pernah ikut Silatnas. Ternyata, mereka juga sama.

Silatnas kali ini diadakan selama satu hari. Untuk menjaga performa tiap penggiat atas kepadatan jadwal, korsim menyediakan makan siang setelah lelah berbagi cerita. Setiap orang mendapatkan jatah nasi kotak dan juga berbagai macam wedang yang dapat dipilih sesuai selera, mau teh, kopi, atau secang. Beberapa camilan juga tersedia sejak pagi, ada kacang rebus, pisang rebus, juga jagung rebus.

Tenaga kini kembali terisi. Pukul 13.45, forum kembali dimulai. Kali ini, Pak Toto Rahadjo hadir untuk memberikan tambahan perspektif mengenai diskusi yang akan dijalankan sore nanti. Kyai Tohar, sapaan akrabnya, menekankan aspek pemaknaan atas laku bermaiyah yang tidak hanya sebatas forum cangkruk dan diskusi sampai larut malam. Bermaiyah harus bermakna luas. Mengusahakan kedaulatan pangan adalah bermaiyah, bekerja dengan baik adalah bermaiyah, menyisihkan duri dari jalan adalah bermaiyah. Maiyah harus di angkat hingga ke tingkat pandangan nilai universalnya.

Usai salah satu Marja’ itu memberikan beberapa paradigma berpikir Maiyah, kini tiba saatnya sesi re-organisme. Mas Hari kembali memimpin forum. Pada sesi ini, dibentuk sebuah koordinator simpul yang berfungsi sebagai pelapis korsim terdahulu, untuk memudahkan proses koordinasi. Para tetua bergerilya mendatangi calon-calon potensial untuk dipilih bergabung dalam korsim. Sebelas orang terpilih dihadapkan ke muka hadirin dan mereka sepakat untuk memberikan amanah koordinasi kepada sebelas orang tersebut.

Pembekalan dari Mas Sabrang mengiringi terpilihnya susunan korsim baru. Beberapa materi yang substansial dan agak njelimet dibagikan dengan cuma-cuma. Kriteria, beliau menjelaskannya dengan agak sedikit tampak masih capek, sebab, baru saja Mas Sabrang kembali dari perjalanan dakwahnya. Sesuatu dapat dikenali bukan karena fisiknya. Ia dikenali karena kriteria. Kucing disebut kucing karena ia masuk dalam kriteria kucing, dan begitu seterusnya. Persoalan ini dapat dibawa ke ranah yang lebih tinggi. Orang baik bisa disebut baik karena ia termasuk dalam kriteria orang baik. Oleh sebab itu, pemahaman tentang kriteria adalah sesuatu yang sangat penting sebagai pintu awal mengenali segala sesuatu. Mendengar penjelasan itu, saya bergumam dalam hati, “Dalam kondisi capek saja penjelasan Mas Sabrang masih bisa se-runtut ini, apalagi kalau prima ya?”

Uraian analitik panjang itu berakhir. Soto dihadirkan untuk menambah tenaga setelah seluruh daya kemampuan otak dicurahkan sembari leyeh-leyeh sejenak mengistirahatkan raga.

Titik Darah Penghabisan

Malam hari tiba. Mas Fahmi menyampaikan, sesudah sesi Pak Edy Junaidisesi, sesi malam itu akan bersama Mbah Nun yang malam itu akan menerima penyerahan pusaka Keris Kyai Sengkelat. Namun, ternyata saya sudah tidak kuat untuk mengikuti acara selanjutnya. Uraian panjang selama setengah hari itu cukup membuat tubuh saya merasakan letih. Hampir-hampir saya tak dapat menangkap apa yang disampaikan oleh Mbah Nun kecuali beberapa poin saja, yaitu miskonsepsi tentang kata percaya. Orang sering kali mengatakan bahwa ia percaya kepada dokter. Padahal, proses percaya baru muncul ketika orang tersebut mengetahui ilmu kedokteran dan dapat memberikan verifikasi atas pengetahuan dokter itu. Artinya, selama ini, manusia tidak pernah percaya kepada segala hal. Ia hanya memasrahkan berdasarkan niatan yang itu juga merupakan prasangka dari dirinya sendiri.

Acara Silatnas ditutup dengan qiyam yang dipimpin langsung oleh Mbah Nun. Setelah itu, para jamaah pulang ke daerahnya masing-masing dengan membawa bekal-bekal dari Silatnas untuk menyongsong masa depan Maiyah yang lebih cerah. Agar setiap penggiatnya mampu mengabil bekal untuk menuju ke akhirat. Tujuan kita bukan dunia. Tujuan kita adalah akhirat yang bekalnya adalah akhirat pula.

Kaliurang, 14 Desember 2022

Lihat juga

Back to top button