Maiyahan September kali ini bertempat di rumah Mas Wira, di Jasem. Sepanjang perjalanan menuju lokasi, sound carnival terdengar di banyak tempat. Beberapa sedulur bahkan sempat terjebak dalam keramaian sebelum sampai di tempat Maiyahan. Satu per satu jamaah mulai berdatangan. Sambil menunggu yang lain, mereka saling bertukar kabar, bercakap tentang perjalanan, aktivitas, dan kehidupan yang sedang dijalani masing-masing.
Di tengah suasana malam yang riuh di luar sana, Maiyahan dimulai. Mas Jufri dan Mas Andi memimpin tawashshulan dan Mahallul Qiyam. Perlahan suasana berubah. Keramaian yang sejak perjalanan tadi menemani, seakan diberi jarak. Jamaah diajak berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia, memasuki suasana yang lebih hening dan khusyuk.
Sambil mempersilakan jamaah mengambil kopi dan jajanan, Mas Rizal membuka diskusi. Mengulas kembali mukaddimah, api setidaknya memiliki beberapa lapisan makna. Ia bisa dilihat sebagai unsur alam yang dapat membakar, sebagai metafora nafsu dan gejolak di dalam diri, sekaligus sebagai gambaran gejolak sosial yang sedang berlangsung di luar sana. Api adalah salah satu penemuan penting dalam perjalanan kehidupan manusia. Dari api, manusia mendapatkan kehangatan dan penerangan, dapat memasak, hingga mengenal teknologi peleburan logam yang kemudian membuka jalan bagi berbagai perkembangan peradaban. Namun api bukan hanya sesuatu yang berada di luar diri manusia.
Di dalam diri juga terdapat berbagai potensi yang seperti api. Bisa menjadi tenaga untuk hidup, tetapi bisa pula menjadi sumber kerusakan ketika tidak dikelola. Ia bisa menjadi semangat, daya hidup, dan kekuatan untuk berkarya. Tetapi ia juga bisa membakar diri sendiri maupun orang lain. Maka ketika berbicara tentang Pati Geni, kita tidak hanya sedang membicarakan api yang ada di luar sana. Kita juga sedang diajak melihat api yang ada di dalam diri. Keluarga menjadi ruang paling awal untuk menjaga dan mengelola diri. Quu anfusakum wa ahlikum naaran. Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.
Mas Hery Jun kemudian menambahkan bahwa leluhur Jawa memiliki kekayaan pencapaian spiritual. Ada berbagai macam lelaku, tirakat, dan puasa yang dijalani sebagai upaya mengolah diri. Lelaku puasa barangkali bukan hanya perkara menahan lapar dan haus. Laku pati geni, di dalamnya ada latihan untuk melihat dalam kegelapan. Melatih kembali sensitivitas menusia terhadap cahaya. Dalam laku Pati Geni, misalnya, manusia diajak berhadapan dengan dirinya sendiri. Ada api yang hidup dan membakar di dalam diri. Persoalannya, apakah kita menyadari keberadaan api tersebut atau justru terbakar didalamnya.
Dalam pandangan Jawa, manusia adalah jagat alit, mikrokosmos. Apa yang ada di alam semesta dapat menjadi cermin untuk membaca diri. Kalau alam memiliki api, manusia pun memiliki api. Api itu bisa menjadi semangat. Bisa menjadi daya hidup. Bisa menjadi kekuatan untuk berkarya. Tetapi kalau tidak dikelola, ia juga bisa menjadi sumber kerusakan.
Pembicaraan kemudian bergerak kepada kebakaran Gunung Arjuno. Kebakaran hutan dan gunung bukan persoalan yang selesai dalam sekali waktu. Relawan yang berada di lapangan menemukan adanya kondisi ketika api yang dianggap sudah padam ternyata dapat kembali menyala. Dari sini muncul pertanyaan yang sederhana tetapi mengganggu: padam kok bisa menyala lagi?
Kebakaran hutan sebagian besar berkaitan dengan aktivitas manusia. Karena itu, persoalannya tidak cukup hanya memadamkan api ketika kebakaran sudah terjadi. Perlu ada evaluasi tentang bagaimana manusia memperlakukan alam, bagaimana pencegahan dilakukan, dan siapa saja yang bertanggung jawab ketika kerusakan terjadi. Pemerintah, pengelola kawasan, relawan, masyarakat, dan berbagai elemen lainnya perlu duduk bersama memikirkan persoalan ini.
Sudah terdapat aturan pergub yang mengatur keterlibatan berbagai elemen dalam penanganan kebakaran. Aturan tentu penting, tetapi yang tidak kalah penting adalah bagaimana aturan tersebut benar-benar dijalankan secara efektif. Relawan dan masyarakat sekitar perlu dilibatkan karena mereka yang paling terdampak. Mereka punya ketulusan dan tekad untuk turun sukarela memadamkan api supaya tidak menyebar. Saat kebakaran hanya dipadamkan ketika sudah terjadi, sementara penyebabnya tidak pernah diselesaikan, barangkali kita akan terus berhadapan dengan masalah yang sama. Perlu ada kesadaran dan penanganan secara kolektif
Dalam diskusi, muncul pula kritik terhadap istilah pecinta alam. Bagaimana bisa disebut pecinta alam jika ketika alam terbakar kita tidak bergerak? Mungkin lebih tepat kalau kita mmemakai istilah penikmat alam saja. Tentu persoalannya bukan sekadar mengganti istilah. Yang sedang dipertanyakan adalah makna dari kata “cinta” itu sendiri. Mencintai alam tidak cukup dengan menikmati keindahannya. Cinta barangkali baru benar-benar terlihat ketika sesuatu yang kita cintai sedang membutuhkan pertolongan.
Mas Jufri kemudian membawa pembicaraan kembali kepada api. Api memiliki proses. Dalam ilmu kebakaran dikenal segitiga api: panas, oksigen, dan bahan bakar. Ketiganya bertemu, maka api dapat menyala. Jika salah satu unsur dihalangi atau dihilangkan, api tidak dapat terus berlangsung. Konsep sederhana ini ternyata bisa kita pakai untuk membaca diri sendiri. Kemarahan tidak selalu muncul begitu saja. Ada sesuatu yang menjadi pemicunya. Ada pikiran yang terus memberinya ruang. Ada bahan bakar yang membuatnya semakin besar. Demikian pula dengan berbagai gejolak lain dalam diri manusia.
Di era media sosial, orang semakin jarang mengambil jarak untuk menimbang apa yang sedang dihadapinya. Informasi datang begitu cepat dan begitu banyak. Kita kehilangan kemampuan untuk mengkurasi: mana yang benar-benar penting, mana yang perlu ditanggapi, mana yang hanya membakar emosi, dan mana yang sebenarnya lebih baik dilewati. Ketika manusia kehilangan kemampuan mengambil jarak, ia mudah dikuasai oleh apa yang sedang menyala di sekitarnya. Ia bereaksi sebelum memahami. Membenarkan sebelum menimbang. Bergerak sebelum mengetahui ke mana arah geraknya.
Mas Arif melihat gejala lain yang menyertai keadaan ini: kemampuan berpikir (IQ) dan menimbang yang melemah, sementara emosi justru semakin tinggi. Akibatnya, manusia mudah membenarkan apa pun yang sesuai dengan keinginannya sendiri. Dari sini pembahasan kemudian lebih diarahkan kepada peningkatan kualitas individu dan kesadaran setiap orang. Bukan berarti persoalan sosial dan negara kemudian tidak penting. Justru negara akan kokoh jika akarnya tidak busuk. Dan akar itu adalah manusia-manusia yang hidup di dalamnya. Mungkin energi kita perlu lebih banyak diarahkan untuk memperbaiki diri dan ruang lingkup yang berada di sekitar kita.
Sebab kerusakan besar bisa bermula dari sesuatu yang sangat kecil. Awalnya seseorang tidak korupsi. Kemudian sedikit demi sedikit mulai melakukan korupsi. Mungkin bermula dari pembenaran kecil. Lama-lama menjadi kebiasaan. Kebiasaan berkembang menjadi karakter. Dan karakter, ketika dilakukan oleh banyak orang, akhirnya dapat membentuk sistem. Maka perubahan juga bisa dimulai dari ruang lingkup yang paling dekat. Dari diri sendiri. Dari keluarga. Dari lingkungan sekitar.
Mbah Nun pernah menulis esai tentang Tuhan pun berpuasa. Mbah Nun menjelaskan bahwa Tuhan sebenarnya mencontohkan esensi utama dari puasa, yaitu mengendalikan diri dan menahan diri (imsak). Tuhan berpuasa dengan cara menahan murka-Nya terhadap manusia. Tuhan tetap setia menerbitkan matahari, memberikan oksigen, dan memelihara kesehatan manusia setiap detik. Hal ini tetap dilakukan-Nya tanpa peduli apakah manusia bersyukur atau justru terus melakukan pengkhianatan dan kemaksiatan.
Banyak nilai yang kami dapatkan malam ini. Pati Geni mengajarkan untuk mengendalikan api yang membakar dalam diri, mengembalikan sensitivitas, lalu menyalakan kembali api yang mencahayai dan bermanfaat bagi diri dan kehidupan. Salah satu yang kami bawa pulang adalah “ojo kepaten obor maiyah”. Jangan redup dan kehilangan nilai-nilai kesejatian yang sudah sudah ditanamkan oleh Simbah. Sulut dan nyalakan dalam aktivitas dan kehidupan sehari-hari
Bismillah, terus berjalan.








