Pada Kamis malam 24 September 2026 lalu, Sekolah Negarawan Partai X bekerjasama dengan Rumah Maiyah dan kelompok musik Gamelan KiaiKanjeng menggelar acara Tafsir Nadjibiyah bertajuk “Serambi Peradaban Nusantara-Persia” bertempat di Rumah Maiyah Kadipiro Yogyakarta. Kurang lebih 150-an orang jamaah Maiyah berpartisipasi mengikuti acara ini. Sementara itu, yang hadir dari Sekolah Negarawan adalah Mas Prayogi R. Saputra, Mas Erick Karya, Mas Rinto Setiyawan, Mbah Dil (Adil Amrullah), dan Dik Al-Fatih.
Suasana penuh keakraban tampak di area Pendopo Rumah Maiyah. Setiap jamaah yang hadir dipersilakan mengambil teh hangat yang telah disediakan dan mengambil posisi duduk lesehan yang nyaman. Jarak yang tidak jauh dengan KiaiKanjeng dan narasumber menjadikan atmosfer kedekatan semakin terasa. Acara berlangsung informal dan rileks, dengan dipandu oleh moderator Mas Helmi Mustofa dari Rumah Maiyah.
Berbarengan segera dimulainya acara, Dr. Yahya Jahangiri, Atase Kebudayaan Kedubes Republik Islam Iran di Indonesia, sebagai keynote speaker tiba di Kadipiro dan segera menyalami hadirin serta disambut teman-teman Sekolah Negarawan. Kehadiran tepat waktu ini menjadikan Doktor Yahya—demikian panggilan akrabnya—bisa menikmati persembahan musik KiaiKanjeng sejak awal. Acara dibuka dengan pembacaan Surat Al-Fatihah, dan segera disambung dengan rangkaian nomor pembuka gamelan KiaiKanjeng. Pada segmen awal ini, di antaranya, KiaiKanjeng menghadirkan nomor Allah Allah Ma Lana Maulan Siwallah, Hubbu Ahmadin, dan puisi yang dibacakan Pak Joko Kamto. Dr. Yahya yang sudah duduk di antara narasumber dan vokalis KiaiKanjeng, menikmati sajian musik KiaiKanjeng dengan penuh perhatian.
Tafsir Nadjibiyah kali ini memang diselenggarakan untuk menandai salah satu buah perjalanan yang telah dilakukan oleh Sekolah Negarawan. Beberapa waktu lalu, Sekolah Negarawan berkunjung ke Iran selama dua minggu, dan mengagendakan beberapa kunjungan dan pertemuan. Mengunjungi masjid-masjid bersejarah seperti Masjid Jamkaran dan Masjid Sayyidah Fatimah Ma’shumah di kota Qum, mengunjungi kota Isfahan, menghadiri konferensi dan dialog di kampus, dan bertemu sejumlah tokoh di antaranya Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. Hal ini mereka laksanakan sebagai wujud napak tilas perjalanan dan pemikiran Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib).
Bagi jamaah Maiyah yang sejak awal membaca tulisan-tulisan Mbah Nun akan menjumpai bahwa Mbah Nun termasuk salah seorang yang mengagumi Ayatullah Imam Khomeini, pemimpin revolusi Islam Iran. Dalam pandangan Mbah Nun, sosok seperti Imam Khomeini adalah tipikal pemimpin yang lahir dari proses-proses yang otentik. Iran memiliki pelembagaan sosiologis-religius yang memungkinkan pemimpin-pemimpin lahir dari bawah dengan kualitas yang terjaga.
Terlebih kita juga mengerti bahwa bangsa Iran tak lain adalah bangsa Persia yang di masa lalu dikenal sebagai salah satu peradaban besar di dunia. Bahkan hingga saat ini, Iran memperlihatkan sikap tegasnya terhadap kesewenang-wenangan Zionis Israel dan Amerika dan tegak membela Palestina sebagai bangsa yang ditindas oleh Israel-Amerika. Iran menunjukkan diri sebagai negara dan bangsa yang berdaulat dengan kecanggihan teknologi militer dan kemajuan ilmu dan pengetahuan yang dikembangkannya.
Sebagai bentuk nguri-nguri dan pengembangan ilmu yang telah diwedar Mbah Nun, teman-teman Sekolah Negarawan ingin menjadikan apa yang dirasakan Mbah Nun tentang kepemimpinan dan peradaban di Iran sebagai inspirasi untuk belajar secara langsung ke Iran. Mengenal secara lebih dekat kehidupan masyarakatnya, merasakan suasana dunia pendidikan di sana, serta melihat jejak-jejak peradabannya yang masih terjaga dengan baik hingga saat ini. Malam itu, oleh-oleh perjalanan ke Iran itu, sebagian disampaikan Mas Prayogi R Saputra ketika memberikan pengantar kepada Dr. Yahya Jahangiri. Salah satu oleh-oleh penting itu adalah terbentuknya jalinan persahabatan antara Sekolah Negarawan dengan sejumlah tokoh Iran, termasuk Dr. Yahya Jahangiri.

Melampaui Misrepresentasi Media
Dalam bingkai persahabatan itulah, Tafsir Nadjibiyah malam itu lebih memfokuskan diri pada mengingat jejak persambungan antara peradaban Nusantara dan Persia serta bagaimana ke depan melanjutkan persambungan peradaban dan kebudayaan itu. Karena itulah, Sekolah Negarawan menggandeng KiaiKanjeng untuk menghadirkan kekayaan musikal Nusantara.
Dalam kerangka yang sama pula Dr. Yahya Jahangiri menyampaikan uraiannya.. Setidaknya kita dapat mengambil tiga hal penting dari paparan Dr. Yahya Jahangiri. Pertama, kita diajak untuk selalu sadar bahwa apa yang muncul di (dan terbentuk oleh media) tidak selalu sama persis dengan realitas atau kenyataan yang ada. Diberikan contoh, Iran selalu identik dengan Syiah. Padahal, kata Dr. Yahya, kalau bicara negara yang paling dominan Syiahnya adalah justru Azerbaijan, bukan Iran.
Poin pertama ini mengingatkan kita pada pembahasan dalam ilmu Hubungan Internasional bahwa kerap terjadi suatu kawasan digambarkan secara tidak sesuai dengan adanya karena bercokolnya kepentingan dari pihak yang menggambarkan sehingga menghasilkan pengetahuan yang tidak objektif dan bahkan menyesatkan. Misrepresentasi semacam ini perlu diatasi melalui interaksi lebih dekat, persaudaraan, dan koeksistensi antar bangsa dan peradaban sehingga menghasilkan pengenalan yang lebih akurat dan sesuai kenyataan. Dari sudut pandang inilah, Dr. Yahya mengapresiasi langkah dan program Sekolah Negarawan dengan berkunjung ke Iran.
Kedua, Dr. Yahya menyebut sahabat Nabi yang bernama Salman Al-Farisi, yang bukan orang Arab, melainkan orang Persia. Meskipun berasal dari Persia, tetapi, Nabi menyebutnya “Salman Minna Ahlal Bait” (Salman adalah bagian dari keluargaku). Dr. Yahya menegaskan ucapan Nabi ini sebagai pelajaran bahwa siapapun saja, baik dari Persia maupun negeri manapun, sepanjang mau mengikuti jalan/ajaran Nabi Muhammad dan keluarganya, maka dia termasuk “keluarga” Nabi. Hal ini Dr. Yahya kemukakan merespons pemantik Mas Helmi Mustofa pada saat awal memberikan pengantar. Mas Helmi merasa berbicara tentang peradaban Persia, yang apabila dikaitkan sejarah awal Islam, membuatnya selalu ingat sosok Salman Al-Farisi.
Salman Al-Farisi adalah sahabat Nabi yang sebelum masuk Islam beragama Majusi. Tetapi ia selalu terdorong untuk mencari kebenaran. Ia meninggalkan agama Majusi, mencari petunjuk-petunjuk baru, sampai Ia mendapatkan informasi bahwa akan datang seorang Nabi akhir zaman yang memiliki beberapa tanda kenabian. Salman Al-Farisi ditakdirkan berkesempatan melihat satu di antara tanda kenabian itu yaitu tanda yang berada di antara dua pundak Nabi Muhammad. Ia pun kemudian masuk Islam. Salman Al-Farisi merupakan salah satu gambaran sosok yang memiliki dorongan kuat akan pencarian kebenaran.
Dr. Yahya lantas melengkapi pengantar tentang Salman Al-Farisi ini dengan mengingatkan pada ungkapan Nabi di atas yaitu Salman Minna Ahlal Bait. Ini sekaligus menegaskan pentingnya menguatkan narasi yang mampu melintasi sekat-sekat kelompok dan madzhab. Persahabatan antar umat Islam hanya dimungkinkan bila kita mampu menghidupkan kembali spirit di balik sikap Nabi Muhammad kepada Salman Al-Farisi.
Ketiga, Dr. Yahya mengungkapkan impresinya atas penampilan musik KiaiKanjeng. Baginya, musik KiaiKanjeng bukan sekadar seni, tetapi musik yang mendorong orang membangun peradaban dan musik yang mendidik masyarakat. Dr. Yahya berjanji akan menceritakan pengalaman bersama KiaiKanjeng ini kepada orang-orang Iran. Sebelumnya, Mas Helmi Mustofa telah menerangkan kepada Dr. Yahya bahwa Mbah Nun dan KiaiKanjeng telah melakukan lawatan dan tampil di banyak negara di dunia termasuk negara-negara muslim seperti Maroko, Abu Dhabi, Malaysia, dan Mesir. “Tetapi belum ke Iran. Bisa dimengerti, sebab Iran sebagai bangsa yang tangguh belum butuh bala bantuan dari Indonesia hehehe,” kelakar Mas Helmi disambut gerrr hadirin. Dr. Yahya pun kemudian berharap suatu saat KiaiKanjeng bisa tampil di Iran.

Membawa Pulang Kacang Rebus
Acara Tafsir Nadjibiyah malam itu lebih berjalan sebagai suatu silaturahmi ketimbang talkshow atau seminar. Selain teh hangat, hadirin dan narasumber juga mendapatkan suguhan berupa makanan tradisional nusantara seperti jagung dan kacang rebus. Di sela-sela menikmati musik KiaiKanjeng dan paparan Mas Prayogi, Dr. Yahya juga menikmati hidangan yang disuguhkan. Malahan, karena terkesan dengan nikmatnya kacang rebus khas Nusantara ini, Dr. Yahya meminta dibungkuskan kacang rebus yang dihidangkan supaya bisa dibawakan untuk sang istri di hotel. Inilah salah satu suasana kultural yang indah malam itu. Mas Gun dari Rumah Maiyah pun segera menyiapkan kacang rebus tersebut untuk beliau bawa.
Sayangnya, Dr. Yahya tidak bisa mengikuti acara hingga selesai, karena padatnya acara yang telah diikutinya sejak pagi di Jogja sehingga beliau perlu segera istirahat. Namun, pokok pikiran yang disampaikannya dalam bahasa Inggris itu telah menegaskan prinsip-prinsip dalam merajut persahabatan antar peradaban khususnya antar umat Islam dan menyemaikan pemahaman bagi hadirin. Saat Dr. Yahya bersiap pamitan dan berfoto bersama Sekolah Negarawan dan Cak Zakki, Dik Al-Fatih bersiap berkolaborasi dengan Mas Doni KiaiKanjeng untuk membawakan lagu Fix You.
Selain Dr. Yahya Jahangiri, Mas Erick Karya dan Mbah Dil ikut mengutarakan refleksi. Mas Erick berbicara tentang Iran sebagai salah satu contoh negara yang memiliki kedaulatan data. Hal ini penting, sebab di masa kini kedaulatan merupakan salah satu isu penting dalam politik global. Kedaulatan tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer dan kecanggihan alutsista semata, tetapi juga bagaimana sebuah negara mampu melindungi dan berdaulat secara data di hadapan ancaman-ancaman dari luar.
Sementara itu, Mbah Dil mengingatkan kita bahwa sebenarnya interaksi antara Nusantara dan Persia itu sudah berlangsung lama yang dibuktikan oleh adanya makam Leran di Gresik yaitu Makam Siti Fatimah binti Maimun yang merupakan penyebar Islam dari Persia. Makam Leran itu sendiri bertarikh tahun 1101 Masehi. Tetapi, persambungan antara Nusantara-Persia itu sendiri menurut Mbah Dil banyak terputus-putusnya. Mbah Dil menceritakan pada tahun 80-an atau 90-an, Mbah Nun pernah diundang dalam suatu acara diskusi dan diminta berbicara tentang kepemimpinan menurut konsep Imam Khomeini. Ini menunjukkan pada waktu itu, khasanah tentang Iran cukup menempati ruang pemikiran Islam di Indonesia. Tetapi kemudian seiring perjalanan waktu serta faktor-faktor lain seakan interaksi itu tenggelam kembali. Dalam konteks ini, Sekolah Negarawan dengan konteks peradaban dan kebudayaan berupaya menyambung kembali interaksi tersebut.

Dalam Tafsir Nadjibiyah malam itu, Dik Al-Fatih tidak hanya mempersembahkan lagu Fix You, tetapi juga diinterview oleh Mas Prayogi perihal Pancasila dan kebangsaan. Ini dimaksudkan sebagai informasi bahwa Sekolah Negarawan sangat concern pada penumbuhan calon-calon pemimpin bangsa yang dididik sejak kecil. Mereka dilatih untuk memiliki mindset kepemimpinan dan bernegara dengan baik.
Di penghujung acara, Cak Zakki ikut memberikan sedikit catatan bahwa acara Tafsir Nadjibiyah yang sudah berlangsung 30-an episode lebih ini sejatinya merupakan bentuk ikhtiar untuk memahami ilmu dan pemikiran Mbah Nun dan salah satunya ikut melatarbelakangi lahirnya Sekolah Negarawan yang kemudian banyak mencurahkan perhatian untuk menggali dan mengembangkan penafsiran atas pemikiran Mbah Nun dalam bidang politik dan kepemimpinan.
Pukul 22.30, acara telah tiba di penghujung. Kebersamaan yang indah itu telah menuntaskan empat segmen musikal KiaiKanjeng yang disela-selai dengan paparan para narasumber. Para hadirin kembali ke tempat masing-masing, namun sebagian masih ada yang bertahan untuk melanjutkan obrolan di antara mereka. Demikianlah malam itu, Sekolah Negarawan telah mempersambungkan hadirin jamaah Maiyah dengan Dr. Yahya Jahangiri, Atase Kebudayaan Kedubes Republik Islam Iran di Indonesia—mempersambungkan peradaban Nusantara dengan peradaban Persia. []









