Ada yang perlu diselesaikan oleh seseorang sebelum ia merasa sanggup menyelesaikan persoalan orang lain. Ada ego yang harus ditaklukkan sebelum ia dipercaya memimpin sebuah organisasi. Kepemimpinan bukan sekadar kemampuan mengatur orang, membagi tugas, atau menentukan arah perjalanan. Kepemimpinan menuntut kesanggupan untuk mengelola diri sendiri. Sebab organisasi dapat kehilangan arah ketika orang yang memimpinnya masih sibuk memenuhi ambisi pribadi, mempertahankan gengsi, dan merasa paling benar. Bagaimana hendak menuntaskan persoalan bersama jika urusan dengan dirinya sendiri saja belum selesai?
Istigfar mengajarkan manusia untuk mengakui keterbatasan dan kesalahannya. QS Hud ayat 52 menghubungkan permohonan ampun kepada Allah dengan pertobatan dan bertambahnya kekuatan. Istigfar bukan hanya perkara lisan yang berulang-ulang menyebut nama Tuhan. Ada kemauan untuk berubah di dalamnya. Ada keberanian untuk meminta maaf, mengakui kesalahan, serta melawan ego yang sering menyamar sebagai harga diri. Terkadang yang membuat seseorang sulit meminta maaf bukan karena ia tidak memahami kesalahannya, melainkan karena gengsinya lebih besar daripada keinginannya untuk memperbaiki keadaan.
Persoalan kepemimpinan di Indonesia pun layak dibaca dari sudut ini. Ketika pemimpin terlalu dikultuskan, manusia dapat kehilangan kemampuan untuk melihatnya secara jernih. Kritik dianggap sebagai permusuhan, ketidaksetujuan diperlakukan sebagai pembangkangan, dan jabatan seolah-olah memberikan kekebalan dari koreksi. Padahal pemimpin tetaplah manusia yang memiliki keterbatasan. Menghormati pemimpin tidak berarti meniadakan akal sehat, sedangkan mengkritik pemimpin tidak otomatis berarti membencinya. Organisasi, masyarakat, dan negara membutuhkan pemimpin yang bersedia mendengar, sekaligus warga yang tidak menyerahkan seluruh penilaiannya kepada figur yang dikagumi.
Lantas bagaimana sebuah revolusi kepemimpinan dapat dimulai? Jawabannya tidak selalu berupa pergantian orang di kursi kekuasaan. Revolusi juga menyangkut perubahan cara berpikir, cara memperlakukan sesama, dan cara menggunakan amanah. Pergantian pemimpin tanpa perubahan budaya hanya berisiko mengulang persoalan yang sama dengan nama dan wajah berbeda. Kita memerlukan kepemimpinan yang tidak menjadikan kekuasaan sebagai alat untuk meninggikan diri, melainkan sebagai tanggung jawab untuk menunaikan kepentingan bersama.
QS At-Taubah ayat 34 mengingatkan tentang penyimpangan dalam memperlakukan ketentuan agama demi kepentingan sendiri. Ayat ini memberi pelajaran bahwa sesuatu yang dibungkus legitimasi keagamaan tidak otomatis menjadi benar. Agama tidak semestinya diperalat untuk membenarkan kepentingan, sebagaimana simbol kesalehan tidak dapat menggantikan kejujuran dalam tindakan. Begitu pula ungkapan hasbunallah wa ni’mal wakil, yang mengajarkan ketawakalan kepada Allah, bukan alasan untuk melepaskan tanggung jawab manusia terhadap keadaan yang dihadapinya.
Kita hidup di dunia, tetapi orientasi hidup tidak harus berhenti pada urusan duniawi. Mengendarai dunia untuk akhirat berarti menempatkan jabatan, harta, ilmu, dan pengaruh sebagai sarana untuk menunaikan tanggung jawab, bukan sebagai tujuan yang membuat manusia kehilangan arah. Frekuensi ilahiah bukan semata-mata tentang pengalaman spiritual yang dirasakan seseorang, melainkan juga dapat direnungkan melalui keselarasan antara keyakinan dan perilaku. Seberapa jauh hubungan kita dengan Tuhan tercermin dalam cara kita memperlakukan orang lain? Seberapa nyata doa kita hadir dalam keputusan yang kita ambil?
Jadi salah satu makna Astagfirullah Indonesia yakni kita tidak cukup hanya mengeluhkan pemimpin yang bermasalah, sebab kepemimpinan juga tumbuh dari kebudayaan yang kita rawat bersama. Kita tidak cukup hanya meminta bangsa ini berubah, sebab perubahan membutuhkan manusia yang bersedia memeriksa dirinya sendiri. Istigfar harus menemukan bentuknya dalam keberanian mengakui kesalahan, kemauan meminta maaf, kesediaan menerima kritik, dan keteguhan menjalankan amanah.
Indonesia tidak hanya membutuhkan pemimpin yang pandai memberikan arahan. Indonesia membutuhkan manusia yang bersedia menundukkan egonya sebelum menundukkan orang lain. Sebab revolusi yang tidak menyentuh batin manusia mudah berubah menjadi perebutan kekuasaan belaka. Astagfirullah bukan akhir dari percakapan tentang kesalahan, melainkan awal dari kesediaan untuk memperbaiki kehidupan.





