Atas kemurahan hati Mas Helmi Mustofa (redaksi caknun.com), saya dihadiahi sebuah buku sakral nan langka. Sakral karena buku tersebut berisi tulisan-tulisan para manusia adiluhung. Orang-orang pilihan. Figur bertalenta. Langka karena memang dicetak secara terbatas. Sependek pengetahuan saya, buku tersebut tidak diperjualbelikan secara bebas di gerai toko buku offline maupun online.
Selain sakral dan langka, buku berjudul METIYEM, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi tersebut juga terasa berat. Berat secara fisik maupun kandungan isinya. Buku itu sendiri dicetak menggunakan kertas art paper dengan permukaan halus, licin, dan mengkilap (glossy). Berbentuk persegi dengan panjang sisi 24 cm. Terdiri 250an halaman, dan berat kurang lebih 1,2 kg.
Perihal isinya, saya benar-benar berat untuk mencernanya. Saya butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu lamanya untuk berulang-ulang membacanya, lebih-lebih lagi memahami seturut mendalami intisari dalam buku yang sudah saya anggap semacam “kitab suci” itu. Dan sampai pada saat menulis tulisan ini, saya sendiri merasa belum selesai (bahkan mungkin tak ada kata selesai) untuk meng-Iqrai-nya.
***
Dalam upaya merawat ingat, melestarikan kekayaan intelektual, cum mengeti lima tahun kepulangan Umbu Landu Paranggi (6 April 2021) ke huma sejati, penulis mencoba memetik hikmah, memungut ilmu, serta memeras (meski tak mungkin tuntas) nilai-nilai laku hidup di buku Metiyem yang ditulis dan dicatat oleh para adik, murid, dan sahabat dekat Umbu Landu Paranggi.
Buku Metiyem dipilah menjadi beberapa bagian, yaitu 1) Prolog, 2) Catatan para almarhum, 3) Catatan dari Malioboro, 4) Catatan para sahabat, 5) Puisi Umbu Landu Paranggi, 6) Puisi-puisi Umbu Landu Paranggi di mata sahabat, 7) Catatan sastrawan-seniman-budayawan Bali–NTT, 8) Epilog.
Di bagian pengantar penyusun, menjelaskan bahwa buku “Metiyem, Pisungsung Adiluhung untuk Umbu Landu Paranggi” ini sebenarnya merupakan pengembangan buku “Orang-orang Malioboro” yang naskahnya disiapkan sejak 2007. Dengan landasan pemikiran untuk mendokumentasikan peristiwa sejarah bersastra Yogyakarta, khususnya di Malioboro, yang terjadi pada era 1969 – 1979.
Buku ini dipresentasikan sebagai wujud kecil dari ucapan matur suksma kepada guru sekaligus saudara tua Umbu Landu Paranggi yang telah memberikan bertumpuk momentum bersastra serta ajaran mengenai kearifan hidup.
Penyair agung Sapardi Djoko Damono, dalam prolognya menyebut Umbu adalah lembaga tempat belajar (studi). Dari kamar sempit di tepi Malioboro, di sebuah ruang terbatas di media, Umbu menyiarkan berita bahwa di dunia yang lain itu ada bait, larik, rima, aliterasi, asonansi, repetisi, metafor, dan simbol-simbol yang bisa membantu kita (manusia) menciptakan alam yang lebih luas dan lebih bebas dari sekadar tetek bengek yang ada di sekitar kita.
Dengan sabar dan istiqomah, Umbu menggoda orang-orang muda untuk membangun sebuah negeri yang bernama puisi. Dan mereka (Orang-orang Malioboro) bersama-sama mengubah ruang sempit di sebuah media (Pelopor) menjadi dunia yang menampung segala angan, impian, dan cita-cita.
***
Di buku Metiyem terdapat 55 penulis yang masing-masing menorehkan tulisan berdasarkan pengalaman personal bersentuhan langsung maupun tidak langsung dengan Umbu Wulang Landu Paranggi. Nama-nama yang sudah tidak asing di jagat sastra nasional. Mereka memposisikan Umbu sebagai guru, teladan, mentor, sekaligus orang tua.
Dari sekian banyak persaksian para penulis, dengan segala keterbatasan, saya mencoba merumuskan menjadi beberapa poin penting yang mewakili sebagian besar tentang persona, pemikiran, peran, hingga laku hidup seorang Umbu Landu Paranggi.
Pertama, sebagai guru, Umbu tidak pernah mendikte anak asuhnya. Para calon penyair dibiarkan mencari gaya, bahasa, jalan kehidupan, dan penguatan rohaninya sendiri. Umbu hampir tidak pernah mengajar dengan teori, tetapi dengan kehadiran dan keteladanan. Seperti yang pernah dikisahkan oleh Mbah Nun (Emha Ainun Nadjib) salah satu murid kesayangan Umbu. Di mana pada malam gulita, Umbu kerap mengajak Em (panggilan Umbu kepada Emha muda) jalan kaki berkilo-kilo meter, menyusuri jalanan kota, gang-gang kampung, tanpa tujuan, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut Umbu. Menjelang subuh, barulah mereka berhenti, duduk-duduk, dan Em muridnya disuruh mencari sendiri “makna” dari perjalanan malam yang telah ditempuh.
“Umbu mengajak saya “mlaku”, bukan “mlaku-mlaku”, “jalan” bukan “Jalan-jalan”. Ada beda sangat besar antara “ngepit” dengan “pit-pitan”, antara naik sepeda dengan bareng-bareng bersepeda gembira. Kalau pakai konsep waktu: yang satu menghayati, lainnya melompat. Yang satu mendalami, lainnya menerobos. Yang satu merenungi, lainnya memenggal.” demikian pengakuan Mbah Nun.
***
Kedua, Umbu disebut Presiden Malioboro bukan karena kekuasaan, akan tetapi karena cinta dan kepeduliannya pada anak-anak kata, anak-anak jalanan, dan anak-anak harapan.
Anak-anak muda yang ingin belajar sastra dibina, dididik sedemikian rupa. Karya mereka yang dikirim ke surat kabar mingguan Pelopor dibaca Umbu satu persatu. Bahkan Umbu menulis catatan di kolom khusus sebagai bentuk respons terhadap karya yang dimuat maupun yang tidak dimuat.
Karya yang belum atau tidak dimuat, sebagai redaktur sekaligus kurator, biasanya Umbu rajin memberikan saran, masukan, hingga kritik bernada membangun untuk memacu gairah mereka agar terus belajar, berlatih lebih gigih untuk mempersembahkan karya yang lebih baik.
Gaya pengasuhan Umbu yang simpatik itulah yang membuat para calon penyair muda termotivasi, tidak kapok, dan patah semangat untuk menempa diri guna melahirkan karya baru yang lebih kaya, sublim, dan mendalam.
“Cara Umbu memotivasi jarang ditemui di bangku sekolah atau kuliah. Umbu dengan potensi alamiahnya yang demikian menonjol mencoba mengakrabkan para penyair muda dengan berbagai masalah kehidupan yang bertebaran di sekitarnya.” ungkap Teguh Ranusastra Asmara.
***
Ketiga, etos Umbu mirip dengan etos petani. Kapan dan di mana pun yang diimpikan adalah menanam dan menanam. Kemudian memeliharanya–menyemainya. Namun, setelah tanamannya tumbuh subur, tak terbersit sedikit pun keinginan untuk memanen dan menjual hasil panennya. Begitu masa panen tiba, Umbu cenderung menghindar. Cukup menikmatinya dari gubuk pinggiran, sekalian menikmati kisah perjalanan hidupnya sendiri.
Demikianlah persaksian Iman Budhi Santosa terhadap kakak sekaligus gurunya, Umbu Landu Paranggi.
Bersama tujuh tokoh proklamator (termasuk Romo Iman), Umbu mendirikan klub atau wadah sebagai sarana belajar sastra bernama Persada Studi Klub (PSK). PSK pun menjelma kawah candradimuka bagi para calon penyair muda di Yogya. Dan Umbu setia menggembleng mereka berproses menggeluti sastra selama rentang tahun 1969 – 1977. Uniknya, setelah anak didik Umbu kian matang dan dewasa, Umbu justru meninggalkan mereka. Mereka dibiarkan mekar dan membesar sendirian untuk menjadi dirinya sendiri.
Dalam kamus Umbu tak mengenal kata pamrih. Yang ia lakukan sebatas nandur dan memupuk. Tak lebih. Umbu seorang “petani” tulen. Sejati. Setelah “tanaman padi” di Yogya mulai menguning, ia memilih hijrah menyeberang ke pulau Bali. Dan apa yang ia lakukan di pulau Dewata (Bali) tetaplah sama. Menanam, memupuk, menyemai bibit-bibit baru.
***
Keempat, Umbu selalu menekankan kepada murid-muridnya menjadi manusia yang bermanfaat. “Kalian jangan cuma jadi ilalang, tapi jadilah pohon beringin. Kalau hanya jadi ilalang untuk apa menggerombol ubyang-ubyung tanpa guna. Tidak produktif. Tanpa menghasilkan apa-apa. Jadilah pohon beringin. Besar dan rindang. Yang bisa hidup sendiri, di tengah alun-alun atau hutan belantara. Pohonnya yang rindang bisa untuk berteduh para pengembara. Atau bertenggernya burung-burung. Menjadi bermanfaat bagi siapapun yang butuh.” demikian pesan adiluhung Umbu.
Dan Umbu adalah pohon beringin itu. Ia kokoh dan kukuh. Ia mandiri. Ia mampu hidup di bumi mana pun. Dan keberadaannya sanggup mengayomi sesiapa saja yang berada di sekitarnya.
“Burung-burung kecil” Malioboro yang menclok dan bertengger di pohon beringin Umbu, sangat-sangat merasakan arti keteduhan.
Dalam kehidupan nyata, tentu kita semua sepakat bahwa sebaik-baik manusia adalah yang memberi manfaat bagi manusia lainnya. Itulah esensi hidup bersosial–bebrayan—bermasyarakat. Dan sampai hari ini, rupanya kita masih terus mereguk kemanfaatan nilai-nilai hidup yang diwariskan (diajarkan) Umbu Landu Paranggi.
***
Sebagai penutup, saya ingin mengutip beberapa petuah indah dari begawan Sumba yang pada tanggal 6 April 2021 silam menutup lembaran puisinya di dunia.
“Kesunyian adalah ruang suci bagi penyair untuk menemukan dirinya.”
“Menjadi penyair bukan tentang menulis indah, tetapi tentang hidup yang jujur.”
“Makin banyak membaca langit, makin tajam kata-kata yang turun ke bumi.”
“Kata-kata yang paling kuat bukan yang teriak, tetapi yang menggugah.”
“Puisi tidak untuk dijelaskan, tetapi untuk direnungkan.”
Saya nukil satu bait puisi karya Umbu yang menjadi favorit saya, berjudul Melodia.
Cintalah yang membuat diri betah untuk sesekali bertahan.
Karena sajak pun sanggup merangkum duka gelisah kehidupan.
Baiknya mengenal suara sendiri dalam mengarungi suara-suara luar sana.
Sewaktu-waktu mesti berjaga dan pergi, membawa langkah ke mana saja.
Puisi yang sangat bagus bukan? Bukan hanya bagus secara susunan pemilihan kata, bunyi, dan rima, tetapi juga bagus secara makna. Bahkan kalau diresapi, nama Umbu itu sendiri adalah puisi. Coba ucapkan: Umbu Landu Paranggi. Sekali lagi. Umbu Landu Paranggi. Lagi. Ulangi lagi. Satu kali lagi. Umbu Landu Paranggi. Terasa melodius. Membius. Ditulis bagus, diucap, dan didengar juga bagus. Mungkin itu menjadi syarat dasar sebuah puisi.
***
Demikianlah sosok manusia unik dan otentik bernama Umbu Wulang Landu Paranggi. Kemunculan, kehadiran, serta perannya selalu berselimut misteri. “Sulit dipikirkan, Umbu yang bukan guru ngaji, bukan pendeta, dan bukan apa-apa itu mendidik orang dalam prinsip yang sama dengan anjuran hadist, man arafa nafsahu, faqad arafa Rabbahu (bagi siapa yang mengenal dirinya, ia menemukan Rabbnya)”. Kenang Riki Dhamparan Putra, anggota Sanggar Minum Kopi, Bali, asuhan Umbu Landu Paranggi.
Lewat jalan puisi dan sastra, Umbu mengenalkan tentang keindahan. Melalui keindahan puisi dan sastra, Umbu mengajarkan nilai-nilai kehidupan. Hidup itu indah. Indahnya kehidupan.
Kalau sampai kini, kita masih saja gagal memahami persona dan peranan Umbu, coba tengok dan camkan kalimat pamungkas bagian epilog buku Metiyem yang ditulis oleh Mbah Nun. “Umbu bukan penyair, ia pejalan kehidupan puisi. Jangan menunggu mana setoran kata-kata puisinya. Masukilah sunyi “kehidupan puisi”nya. Kalau tidak, cukup sapa ia dengan cinta, letakkan ia di wadah hati yang percaya. Atau lupakan, anggap ia tak ada, justru agar ia renyah tertawa.” [ ]
Gemolong, April 2026








