Sudah lama kami tak mendengar langkahmu, Simbah..
Tak melihat engkau duduk bersila di tengah lingkaran malam.
Membuka percakapan seperti membuka jendela,
agar udara segar masuk ke dada yang pengap.
Hari-hari terasa lebih berat tanpa kehadiranmu.
Seperti jalan panjang yang kehilangan penunjuk arah.
Seperti perahu yang masih berlayar,
namun samar melihat mercusuar.
Kami masih berjalan, Simbah..
Namun sering tersandung oleh kesimpulan yang tergesa.
Oleh kemarahan yang dipelihara.
Juga kebisingan yang menyamar sebagai pengetahuan.
Dulu, ketika engkau hadir,
kami belajar bahwa kebenaran tidak selalu harus berteriak.
Bahwa ilmu tidak harus duduk di singgasana istana gading.
Bahwa mencintai manusia
lebih penting daripada memenangkan perdebatan.
Engkau bukan guru yang mengumpulkan pengikut,
melainkan penanam benih peradaban.
Engkau tidak membangun pagar,
namun membuka jalan-jalan kecil
agar setiap orang menemukan dirinya sendiri.
Betapa banyak “anak cucu”-mu
yang tumbuh dari kata-kata sederhana.
Dari obrolan yang mengalir hingga dini hari.
Dari kesabaranmu mendengarkan kegelisahan orang kecil.
Dari keyakinanmu bahwa manusia
selalu layak dimanusiakan.
Bukan hanya orangtua, engkau adalah teman sejati.
Engkau habiskan waktumu untuk menemani kami
dalam menemukan arah.
Menemani mereka yang jatuh agar berani berdiri.
Menemani mereka yang marah agar belajar memahami.
Menemani mereka yang merasa sendiri agar tahu
bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan siapa pun.
Sementara banyak orang sibuk membangun nama,
engkau memilih membangun jiwa.
Sementara banyak orang mengejar panggung,
engkau justru turun ke tanah,
menjadi sahabat bagi petani,
buruh,
santri,
seniman,
dan siapa saja yang datang membawa luka.
Kini, ketika jarak memisahkan perjumpaan.
Kami merasakan betapa berharganya kehadiran itu.
Kami rindu pada tawa yang membongkar kesombongan.
Rindu pada petuah yang tidak menggurui.
Rindu pada cara pandang yang selalu menemukan cahaya
di balik segala gelap.
Rindu pada malam-malam panjang
yang membuat kami pulang dengan hati lebih lapang,
pikiran lebih jernih,
dan cinta yang bertambah luas.
Simbah,
jika doa memiliki sayap,
biarlah ia terbang mencarimu.
Sampaikan bahwa di banyak sudut negeri,
masih ada “anak-cucu” yang menunggu.
Bukan untuk memujamu,
bukan pula untuk menggantungkan hidup padamu.
Kami hanya rindu
kepada seorang guru
yang telah menghabiskan umurnya
untuk menjaga agar manusia tetap menjadi manusia.
Dan sampai hari perjumpaan itu tiba,
kami akan menjaga api yang pernah engkau nyalakan.
Meski kecil.
Meski tertiup angin zaman.
Agar ketika engkau kembali menyapa,
engkau mendapati bahwa benih-benih itu
masih tumbuh,
masih hidup,
dan masih menyebut namamu dalam doa dan cinta..
Sugeng Ambal Warsa, Simbah..
Mugi tansah pinaringan kesehatan, kawilujengan tuwin karaharjan..
Sendhon Waton Rembang, 27 Mei 2026






