Ada perjalanan yang membutuhkan kaki untuk melangkah, ada perjalanan yang membutuhkan kendaraan untuk berpindah. Tetapi, ada pula perjalanan yang hanya cukup dengan menyendiri dan menepi, sebab yang ditempuh adalah kedalaman diri sendiri.
Malam itu, Jumat, 25 September 2026, di sebuah basemen Masjid Agung Baitul Makmur Daegu, Korea Selatan. Jemaah berkumpul membawa satu tema: “Ziarah Batin”.
Sebuah tema yang sejak awal sudah memancing pertanyaan di antara jemaah TQ.
Secara definitif, ziarah berarti berkunjung. Lalu, siapa yang kita kunjungi jika yang diziarahi adalah batin kita sendiri?
Kalau ziarah berarti perjalanan dan batin sebagai tujuannya, maka bagaimana cara kita menempuh perjalanannya, kendaraannya apa, rutenya bagaimana, dan jika batin adalah sebuah ruang, maka keadaan ruangnya itu seperti apa?

Malam dimulai dengan pembacaan tawassulan yang dipimpin Mas Akrom. Bacaan-bacaan itu menjadi semacam pintu masuk untuk menyatukan frekuensi antarpara jemaah ke dimensi maiyah yang berarti kebersamaan.
Mas Syaiful sebagai moderator dalam acara diskusi tersebut bertugas mengelola, membuka, dan memulai jalannya diskusi. Tentu, karena formatnya diskusi, kita tidak sedang mencari mana yang benar dan mana yang salah. Kita berdiskusi agar bersama-sama menyalakan lentera di ruang batin masing-masing.
Mas Argo merespons tema melalui sosok Kanjeng Nabi Muhammad saw. Nabi yang tidak hanya dibicarakan sebagai nama yang kita sebut dalam selawat atau sebagai sejarah yang kita baca dalam kitab-kitab. Mas Argo berpendapat bahwa Nabi adalah energi bagi batin kita masing-masing. Sebuah energi yang membuat manusia tidak kehilangan arah ketika dunia menyediakan rute-rute kesesatan. Sebab, manusia bisa memiliki banyak pengetahuan, tetapi kehilangan kebijaksanaan. Bisa memiliki banyak harta, tetapi kehilangan kebermanfaatan. Bisa memiliki banyak relasi, padahal hakikatnya dia seorang yang kesepian. Pada saat itulah Nabi relevan sebagai teladan seperti yang tersirat dalam QS At-Taubah ayat 128.

Mas Argo kemudian membawa pembicaraan kita ke kehidupan sehari-hari: bisnis dengan iman. Jika dilandasi dengan keimanan, bisnis itu bukan hanya soal mencari keuntungan, karena bisnis yang berbasis keimanan atau tuntunan batin itu berlandaskan moral. Batin dan keimanan kita memberi tahu tentang batas antara boleh dan tidak, baik dan buruk, bahkan sampai ke halal dan haramnya. Dengan adanya iman dalam batin kita, akan ada kesadaran bahwa keuntungan tidak boleh membuat manusia kehilangan kemanusiaannya. Sebab, ketika iman benar-benar hidup, berbisnis atau menjadi karyawan pabrik pun bisa menjadi ruang ibadah. Pekerjaan menjadi jalan pengabdian dan uang tidak lagi dipertuhankan.
Mas Fendi kemudian mengaitkan ajaran falsafah Jawa dengan tema ziarah batin. Dari sini percakapan seperti bergerak dari luar menuju ke dalam lagi. Mas Fendi menerangkan bahwa manusia mempunyai berbagai tanggung jawab. Ada sesuatu yang cukup dikerjakan, tetapi ada yang harus dibalut dengan pengabdian. Pada akhirnya semua itu akan kembali kepada satu pertanyaan: “Siapa pengendali sebenarnya yang berada dalam diri kita? Apakah ego? Apakah ambisi? Apakah kebutuhan untuk dipuji? Ataukah ada kesadaran yang lebih dalam bahwa semua yang kita lakukan hanyalah titipan?” Ziarah batin barangkali dimulai ketika seseorang mulai berani memeriksa motif-motif di balik tindakan. Bukan hanya bertanya _apa yang saya lakukan_, tetapi juga _untuk apa dan untuk siapa_ saya melakukannya.

Mas Galih kemudian menyampaikan ayat: “Inna shalati wa nusuki wa mahyaya wa mamati lillahi rabbil ‘alamin.” Sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Bacaan iftitah ini seperti mempertemukan dua ujung kehidupan: kehidupan dan kematian. Seolah-olah bacaan yang berada dalam salat itu sedang mengingatkan bahwa kematian tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari perjalanan kehidupan. Kalau hidup untuk Allah, maka mati pun untuk Allah. Jika awal perjalanan itu dari Allah, tujuan akhirnya pun kembali kepada Allah. Maka, manusia sesungguhnya bukan sedang berjalan menuju ketiadaan atau kematian, justru sedang berjalan menuju kepulangan atau tempat asal kita, yaitu rahmat Tuhan.
Mas Roni menyampaikan pendapat yang mengundang perenungan: “Malaikat Jibril adalah akhlak dan Nabi Muhammad adalah batin.” Kalimat tersebut tidak berhenti sebagai susunan kata. Ia seperti batu kecil yang dilemparkan ke permukaan air, lalu menimbulkan riak ke berbagai arah. Sebab, agama bukan hanya sesuatu yang diketahui, agama harus menjadi sesuatu yang hidup. Ketika ia hidup, agama menjadi akhlak. Manusia tidak cukup hanya mengetahui kebaikan, tetapi perlu menjadi baik. Tidak cukup mengetahui tentang kasih sayang, tetapi wajib menjadi penyayang. Tidak cukup hanya membaca kisah tentang sejarah Nabi, tetapi harus berjalan dengan jalan yang disinari cahaya keteladanan Nabi, yang memengaruhi cara kita memperlakukan sesama. Di situlah batin mulai mempunyai bentuk dalam kehidupan nyata.

Mas Firyal membawa pembicaraan kepada firman Allah dalam QS Al-Fajr ayat 27-30: “Ya ayyatuhan-nafsul-muthmainnah, irji’i ila rabbiki radhiyatan mardhiyyah, fadkhuli fi ‘ibadi, wadkhuli jannati.” Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai. Ada kata yang terasa sangat kuat di sana: irji’i — kembalilah! Ternyata tujuan perjalanan bukan selalu menemukan sesuatu yang baru. Kadang tujuan perjalanan justru kembali, kembali kepada awal, kembali kepada kesadaran, dan kembali kepada rahmat Allah. Mas Firyal juga mengaitkan tema ziarah batin dengan rumus π (pi) dalam fisika. Lingkaran memiliki pusat. Manusia pun demikian. Seberapa jauh ia berputar, seberapa luas ia menjelajah, seberapa banyak dunia yang ia datangi, selalu ada pusat yang harus ditemukan. Mungkin pusat itu adalah kesadaran tentang siapa dirinya di hadapan Allah, yang bahkan setitik debu pun terlalu besar sebagai perbandingan (Allahu Akbar).
Mas Munawir kemudian seolah mengaitkan batiniah itu seperti keadaan orang mati dengan kalimat yang sederhana: “Jangan takut kematian.” Jasad bisa mati, tetapi batin hidup terus. Kematian kemudian tidak hanya dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan, tetapi sebagai sebuah kenyataan yang justru perlu dikenali, seperti istilah _mati sakjroning urip_. Manusia sering takut akan kematian karena merasa akan kehilangan segalanya, padahal dunia sejak awal memang tidak pernah berjanji untuk tinggal dan abadi. Yang datang akan pergi, yang hidup akan kembali kepada Ilahi. Maka, persoalannya mungkin bukan bagaimana menghindari kematian, tetapi bagaimana mempersiapkan kepulangan.
Mas Aris kemudian membawa lagi ke tema awal dengan memulai dari definisi ziarah dan batin. Beliau menceritakan sebuah lakon dalam pewayangan Bima Suci. Dalam pakeliran tersebut, Bima menempuh perjalanan batinnya yang pada akhirnya bertemu dengan Dewa Ruci, yang wujudnya adalah Bima itu sendiri dalam bentuk yang lebih kecil dari dirinya. Kemudian, Bima melakukan perjalanan batinnya ke dalam diri Dewa Ruci melalui telinganya, di mana Bima menemukan pencerahan, iluminasi, dan mengalami ekstase kesadaran puncak di sana, seolah tersingkaplah hijab sehingga dia merasa betah di dalam diri Dewa Ruci. Namun, Mas Aris mengajak kita tidak berfokus di situ. Kita diajak mendalami perjalanan sebelum Bima mendapatkan Tirta Pawitra Sari itu. Perjalanan yang dimulai dari keinginan kuat untuk mencari ilmu kesempurnaan, yang seolah-olah asalnya dari tipuan Resi Drona, yang kemudian memang benar adanya tempat-tempat yang dikunjunginya. Beliau juga menerangkan falsafah _Kayu Gung Susuhing Angin, Alas Polosoro, Rukmoko,_ dan _Rukmukolo_ yang ternyata menggambarkan secara jelas tentang ziarah batin.
Mas Aris juga mengutip sebuah kalimat “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” yang malah dia edit menjadi “Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa syaitanu” dengan argumen: “Kadang mungkin karena kesombongan, seolah-olah yang ada dalam diri kita itu Tuhan, seperti QS An-Nur ayat 35, tanpa kita mau berkaca pada diri sendiri siapa kita itu. Jangan-jangan jika kita mengenal diri kita sendiri, mungkin yang paling banyak kita lihat adalah sosok kesetanan kita ketimbang sifat keilahian.”

Mas Akrom kemudian membawa pembicaraan kepada persiapan menghadapi kematian. Salah satu gagasan yang mengemuka adalah bahwa seseorang akan meninggal sesuai dengan kebiasaannya. Kematian sebenarnya tidak hanya terjadi pada hari ketika napas terakhir berhenti. Ia harus dipersiapkan jauh-jauh hari. Kebiasaan kecil hari ini bisa menjadi arah kehidupan esok hari. Apa yang selalu kita pikirkan, apa yang selalu kita lakukan, apa yang selalu kita cintai, apa yang selalu kita kejar, dan kepada siapa hati kita biasa berpulang, semua itu akan menentukan bagaimana cara kita mati nanti. Maka, kalimat “Dari Allah, bersama Allah, untuk Allah” menjadi seperti kompas. Dari mana kita datang, dengan siapa kita berjalan, dan kepada siapa semuanya kita persembahkan.
Mas Dedi kemudian merespons tema ziarah batin dan menyimpulkannya secara lebih spesifik. Dari seluruh percakapan malam itu, perlahan terlihat bahwa ziarah batin bukanlah perjalanan yang membutuhkan tiket, tidak perlu paspor, tidak perlu koper, tidak pula perlu berpindah negara. Sebab, tempat yang hendak dikunjungi ternyata ada di dalam diri sendiri. Seorang manusia bisa berada ribuan kilometer dari tanah kelahirannya, seperti jemaah yang malam itu berada di Daegu, yang tetap akan menempuh perjalanan pulang ke kampung halaman suatu hari nanti. Namun, ziarah batin itu tentang pulang yang bukan kepada sebuah alamat atau negara asal, melainkan pulang kepada kesadaran, pulang kepada fitrah, pulang kepada Allah.

Malam bergeser menjadi dini hari. Percakapan sebenarnya diisi banyak dialektika tanya-jawab, sanggahan, dan banyak hal yang tidak bisa tertulis di sini. Barangkali ziarah batin justru baru dimulai, sebab tema seperti ini tidak selesai ketika moderator menutup diskusi. Ia ikut pulang bersama jemaah. Ia berjalan ke tempat kerja, masuk ke kamar, menemani seseorang ketika sendirian, dan muncul kembali ketika manusia hendak mengambil keputusan.
Apakah aku sedang hidup dengan kebenaran? Apakah batinku masih hidup dan suci? Apa yang sebenarnya sedang aku cari?
Sadar atau tidak, selama ini kita terlalu sibuk melakukan perjalanan keluar. Kita mengunjungi banyak tempat, bertemu banyak manusia, mengejar banyak cita-cita, mengumpulkan banyak pengalaman, tetapi ada satu tempat yang sering kita abaikan: diri sendiri.
Barangkali itulah maksud terdalam dari ziarah batin. Bukan perjalanan untuk menemukan dunia yang baru, melainkan perjalanan untuk melihat kembali dunia yang selama ini jarang kita kunjungi. Sebab, boleh jadi manusia tidak sedang mencari jalan pulang, ia hanya sedang belajar menyadari bahwa jalan pulang itu sejak awal sudah ada di dalam dirinya sendiri.
Dari Allah, bersama Allah, menuju Allah.









