Dunia hari ini seperti kehilangan kompas batin. Arah ada, tetapi tak lagi dipercaya. Kepemimpinan berdiri megah, namun kosong dari kesadaran terdalam manusia. Di sanalah kegelisahan itu bermula. Jauh sebelum manusia memimpin bangsa atau menentukan nasib dunia, setiap jiwa sejatinya telah bersaksi. Di alam Sulbi. Sebuah perjanjian purba yang kini terasa terlupakan.
Jejak Awal: Kepemimpinan dari Alam Sulbi
Jumat malam, 13 Maret 2026, kegelisahan itu dirawat dalam lingkaran Juguran Syafaat. Bertempat di Hetero Space Banyumas, Purwokerto, sekitar enam puluh jamaah hadir. Mahasiswa, masyarakat umum, dan penggiat duduk melingkar tanpa sekat. Forum dimulai pukul 20.00 dan berakhir pukul 01.00 dini hari. Lama. Namun terasa singkat bagi mereka yang tenggelam dalam percakapan. Sebagai bagian dari Majelis Ilmu Muhammad Ainun Nadjib, Juguran Syafaat bukan sekadar forum diskusi. Ia ruang tadabbur. Tempat mengurai simpul-simpul batin yang kerap luput dari perhatian. Malam itu, tema “Kepemimpinan Sulbi” menjadi pintu masuk perenungan yang dalam.
Mukadimah diskusi mengajak jamaah menengok jauh ke belakang. Sebelum raga hadir di bumi, manusia telah mengikat janji tauhid. “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Dan manusia menjawab, “Betul, kami bersaksi.” Di situlah akar kepemimpinan bermula. Memimpin diri agar tetap setia pada jalur kepulangan. Ketika kesadaran ini hilang, lahirlah krisis global yang kita saksikan hari ini. Konflik antarnegara. Ambisi kekuasaan. Semua bergerak tanpa kendali batin.

Amnesia Kolektif dan Krisis Dunia
Kepemimpinan tanpa kesadaran Sulbi berubah menjadi mesin raksasa yang dingin. Dholum. Jahul. Ia berjalan dengan logika kuasa, bukan nurani. Dalam konteks itu, Ramadhan hadir sebagai ruang kalibrasi. Puasa bukan sekadar menahan lapar. Ia latihan menahan ekspansi ego yang rakus. Seorang pemimpin sejati bukan yang paling kuat menekan lawan. Tetapi yang paling mampu menahan diri dari dorongan merusak. Lapar menjadi jembatan empati. Menghubungkan diri dengan penderitaan manusia lain di belahan dunia.
Diskusi kemudian mengalir melalui berbagai perspektif jamaah. Reza, seorang pecinta alam dan pemerhati lingkungan, berbagi perjalanan personalnya. Ia mengenal pemikiran Maiyah melalui kanal digital. Lalu menemukan ruang hidupnya di Juguran Syafaat. Pengalamannya dalam aksi demonstrasi menolak proyek panas bumi di Gunung Slamet menjadi refleksi nyata. Bahwa kepemimpinan juga berarti keberanian bersuara.

Suara Jamaah dan Realitas Kepemimpinan
Kukuh merespons dengan kritik terhadap kebijakan publik. Ia menyoroti program pemerintah yang terkesan tergesa dan kurang matang. Keputusan diambil cepat, tetapi miskin kedalaman. Dalam perspektif kepemimpinan Sulbi, tindakan tanpa kejernihan batin hanya akan melahirkan masalah baru. Cepat. Namun rapuh.
Isu global turut disinggung. Konflik antarnegara sering dibungkus narasi agama. Padahal motif dasarnya kerap ekonomi. Jamaah diajak tidak mudah terjebak pada benturan semu. Sunni dan Syiah hanyalah salah satu contoh. Realitas jauh lebih kompleks dari sekadar label. Kepemimpinan menuntut kejernihan membaca, bukan sekadar reaksi spontan.
Di sela diskusi, suasana dihidupkan oleh musik. Arif dan Gonank membawakan “Anyer 10 Maret”. Lalu disusul nomor dari Powerslave. Nada-nada itu seperti jeda yang bermakna. Mengendapkan pikiran yang terlalu padat. Memberi ruang bagi rasa untuk ikut berbicara. Bunda KLC membacakan puisi karya Andika Satria. Kata-kata mengalir pelan. Menyentuh sisi batin yang sering tersembunyi.

Dari Keluarga Menuju Dunia
Titut Edi Purwanto kemudian membawa diskusi pada lingkup terdekat. Keluarga. Ia menegaskan bahwa kepemimpinan paling nyata dimulai dari sana. Bukan di panggung besar. Tetapi di ruang-ruang kecil yang sering diabaikan. Cara seseorang hadir di rumah mencerminkan kualitas kepemimpinannya. Nilai tidak diajarkan lewat pidato panjang. Ia tumbuh dari laku harian.
Beberapa jamaah turut menyampaikan perspektif tentang kepemimpinan Sulbi. Beragam sudut pandang muncul. Namun semuanya mengarah pada satu kesimpulan. Kepemimpinan bukan soal jabatan. Ia soal kesadaran yang hidup di dalam diri. Tanpa itu, kekuasaan hanya menjadi ilusi.

Penutup: Kembali ke Diri
Menjelang akhir forum, Pak Titut membagikan refleksi batin setelah memasuki usia senja. Tenang. Dalam. Ia tidak lagi berbicara tentang konsep besar. Tetapi tentang perjalanan hidup yang perlahan menemukan maknanya. Kepemimpinan pada akhirnya kembali pada diri sendiri. Seberapa jujur seseorang menjalani hidupnya.
Malam kian larut. Namun suasana tetap hangat. Tak ada yang benar-benar ingin segera beranjak. Ada sesuatu yang tertinggal di dalam diri masing-masing jamaah. Bukan sekadar pengetahuan. Tetapi kesadaran yang pelan tumbuh. Juguran Syafaat malam itu mengingatkan satu hal mendasar. Krisis dunia bukan semata soal politik atau ekonomi. Ia berakar dari krisis manusia dalam memimpin dirinya sendiri.
Pelan. Namun pasti.








