Langit Purwokerto belum juga mengizinkan. Hujan turun sejak sore dan baru benar-benar reda menjelang pukul 21.30 WIB. Tapi jamaah yang sudah memenuhi halaman Kantor Pusat Kampus 1 Universitas Muhammadiyah Purwokerto tidak kemana-mana. Mereka menunggu. Sekitar lima ratus orang dari berbagai daerah duduk bertahan — ada yang berteduh di tepi, ada yang memilih basah seadanya — menanti malam yang sudah mereka nanti-nantikan: Juguran Syafaat edisi ke-157 dengan tema Algoritma Muhammad.
Tepat ketika hujan pamit, forum pun dimulai.
Peacetall: Sebelum Kata-Kata
Jauh sebelum diskusi dibuka, Peacetall sudah lebih dulu hadir menghangatkan halaman kampus. Lima nomor pembuka mereka sajikan — bukan sekadar pengisi waktu tunggu, melainkan semacam undangan: mari masuk ke malam ini dengan hati yang lapang. Suara mereka menyelimuti jamaah yang masih basah oleh sisa hujan, perlahan mengubah suasana yang menggantung menjadi sesuatu yang terasa siap.

Rumah Pangiyongan
Ketika forum resmi dibuka, Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Jebul Suroso, menyampaikan sesuatu yang terasa seperti pelukan. UMP, katanya, adalah rumah pangiyongan — rumah bernaung bagi siapa saja, terbuka untuk mengekspresikan kegiatan apapun yang membawa kebaikan. Juguran Syafaat, dalam pandangannya, adalah salah satu wujud nyata dari semangat itu.
Kalimat itu disambut hangat. Kolaborasi antara Juguran Syafaat dan UMP malam itu terasa bukan sekadar pinjam-meminjam tempat, melainkan persandingan yang wajar antara dua entitas yang berbagi semangat — ilmu, kebersamaan, dan kemanusiaan.
Obat Anti-Overthinking ala Pak Titut
Salah satu momen paling menghangatkan datang dari Titut Edi Purwanto, budayawan Banyumas yang sudah menjadi salah satu wajah paling akrab di forum ini. Di usianya yang tidak lagi muda, Pak Titut mengaku bersyukur dan bersukacita bisa duduk bergabung bersama anak-anak muda dalam lingkaran Juguran Syafaat.
“Orang seusia saya biasanya sudah tidak lagi proaktif berkegiatan,” ujarnya, dengan nada ringan yang khas. Tapi dirinya justru semakin bersemangat. Dan rahasianya, kata Pak Titut, sederhana saja: berada bersama-sama dalam keindahan Maiyah. Itulah, menurutnya, salah satu obat paling mujarab dari overthinking — bukan menyendiri dengan pikiran, melainkan bergerak bersama dalam kehangatan komunitas.
Jamaah tertawa kecil. Tapi di balik tawa itu, banyak yang mengangguk dalam.

Soal Nama dan Martabat Rakyat
Giliran Agus Sukoco berbicara, forum langsung masuk ke wilayah yang lebih tajam — menyentuh persoalan yang tampak sederhana tapi menyimpan kedalaman.
Agus membawa perhatian jamaah pada program Makan Bergizi Gratis. Bukan pada substansi programnya, melainkan pada cara pemerintah membingkai dan menamakannya. Kata gratis, menurutnya, adalah akar dari masalah.
“Itu bukan gratis. Itu uang rakyat,” tegasnya. Jika program yang dibiayai oleh pajak dan kontribusi rakyat masih juga disebut gratis, maka yang sedang terjadi bukan pemberian — melainkan pengaburan. Rakyat seolah-olah ditempatkan sebagai penerima belas kasihan, bukan sebagai pemilik sah dari uang yang diputar kembali untuk kepentingan mereka sendiri.
Bagi Agus, soal penamaan ini bukan perkara sepele. Nama adalah kerangka. Kerangka membentuk cara pandang. Dan cara pandang yang salah akan melahirkan kebijakan yang keliru, hubungan kekuasaan yang timpang, serta rakyat yang terus-menerus merasa berutang pada negara — padahal justru sebaliknya.
Dari titik ini, kata Agus, semua permasalahan bermula.

Roro Suhartini: Blues di Antara Kata-Kata
Di sela-sela sesi diskusi yang kadang padat dan menghunjam, Roro Suhartini hadir sebagai jeda yang indah. Ia mengisi ruang-ruang antara dengan nomor-nomor blues — beberapa di antaranya berlirik Banyumasan, yang langsung disambut senyum lebar jamaah. Ada sesuatu yang terasa pas ketika nada blues bertemu dengan bahasa ibu: kedalaman yang tidak dibuat-buat, kesedihan yang tidak malu-malu, dan kehangatan yang sangat lokal.
Roro bukan sekadar pengisi jeda. Ia adalah bagian dari ritme malam itu sendiri.

Sabrang dan Seni Berpikir
Malam itu, Sabrang Mowo Damar Panuluh hadir bukan hanya sebagai narasumber, tapi sebagai teladan cara berpikir.
Ketika satu per satu jamaah mengajukan pertanyaan — ada yang ingin tahu, ada yang menguji, ada yang mendebat — Sabrang tidak tergesa-gesa. Ia menjawab satu demi satu dengan sabar, menggunakan dialektika: mempertemukan gagasan, menguji logika, membangun kesimpulan bersama. Suasana yang sempat menegang di beberapa titik justru menjadi semakin hidup. Klimaks bukan karena konfrontasi, melainkan karena kecerdasan yang dikelola dengan tenang.
Dalam sesi diskusi, Sabrang menyampaikan beberapa gagasan yang membekas:
Pertama, soal framework. Menurutnya, ada banyak kerangka berpikir yang bisa dipakai untuk mencapai tujuan. Tidak ada satu pun yang paling benar untuk semua orang. Pada akhirnya, setiap orang akan — dan harus — menemukan framework-nya sendiri, yang lahir dari pengalaman dan proses berpikirnya masing-masing.
Kedua, soal membaca pola. Sabrang mengajak jamaah untuk melihat fenomena yang berbeda dengan lensa yang sama. Ia mencontohkan: rudal balistik dalam perang fisik adalah alat penghancur. Dalam perang ekonomi, ada konsep yang bekerja dengan cara serupa — menghancurkan dari jarak jauh, tanpa peluru terlihat. Jika kita bisa membaca persamaan pola seperti itu, kita akan jauh lebih siap memahami dunia yang sesungguhnya sedang terjadi.
Ketiga, melatih otak dengan pertanyaan. Cara paling sederhana untuk mempertajam pikiran, kata Sabrang, adalah dengan bertanya kenapa sebanyak tiga kali. Bukan sekali, bukan dua kali — tiga kali. Karena jawaban pertama biasanya permukaan. Jawaban kedua mulai menyentuh isi. Jawaban ketiga membawa kita ke akar masalah yang sesungguhnya.

Menjelang penghujung sesi, Sabrang melakukan sesuatu yang tidak diduga banyak jamaah: ia naik ke panggung bukan untuk berbicara, melainkan untuk bernyanyi. Dua nomor hits Letto — Fatwa Hati dan Sandaran Hati — ia bawakan, dan halaman kampus yang sudah larut malam itu mendadak berubah suasana. Jamaah yang tadi serius mencerna argumentasi, kini larut dalam nada. Beberapa ikut bersenandung pelan. Beberapa hanya memejamkan mata.
Mungkin itulah cara Sabrang menutup malam dengan caranya sendiri — bahwa berpikir dan merasa bukan dua hal yang bertentangan. Keduanya perlu dilatih, dan keduanya perlu dijaga.
Malam yang Panjang, Pulang dengan Penuh
Pukul 01.30 dini hari, Juguran Syafaat edisi ke-157 resmi ditutup. Enam jam perjalanan — dari menunggu hujan, menikmati Peacetall sebelum forum dibuka, mendengarkan blues Banyumasan Roro Suhartini di sela-sela diskusi, hingga menyimak gagasan yang kadang ringan kadang menghunjam dalam — semuanya mengalir tanpa terasa.
Lima ratus jamaah yang duduk melingkar malam itu pulang membawa sesuatu. Mungkin sebuah cara pandang baru. Mungkin pertanyaan baru yang belum selesai. Atau mungkin cukup dengan perasaan: bahwa malam tadi, kita tidak sendirian berpikir.
Dan barangkali, itulah algoritma yang paling penting dari seorang Muhammad — bukan sekadar rumus, melainkan cara hidup yang terus bertanya, terus bergerak, dan terus bersama.








