Siapa sangka, akan ada dua kegiatan yang berlangsung bersamaan hingga menimbulkan “noise”. Cak Fauzi, selaku tuan rumah Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton, pun tidak mengetahui hal itu sebelumnya. Begitu pula tetangga rumahnya—seorang pendekar PSHT—juga tengah menggelar agenda Halalbihalal bersama para pendekar lainnya.
Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-112 digelar di Rumba (Rumah Baca) Nusantara, Perumahan Alam Singgasana Blok I-14, Cerme, Gresik, pada Jumat, 10 April 2026. Tepat di halaman rumah Cak Fauzi. Sementara itu, Halalbihalal para pendekar PSHT dilaksanakan di lapangan yang berjarak sekitar lima meter dari Rumba Nusantara.

Menariknya, Cak Fauzi justru datang seperti “tamu” di rumahnya sendiri. Saat ia tiba, Cak Hariono dan Mas Jhon sudah lebih dulu duduk di atas gelaran banner yang difungsikan sebagai alas. Keduanya adalah Cak Hariono dari JM Paseduluran Nyambung Roso dan Mas Jhon, JM asal Surabaya.
Cak Hariono dan Mas Jhon tak mempersoalkan hal tersebut. Keduanya justru menikmati sajian yang telah disiapkan Mbak Wenda, istri Cak Fauzi. Sementara itu, dulur-dulur lain mulai berdatangan.
Mbak Sita hadir bersama suaminya, Gus Ainul. Disusul Mas Darta, pria berusia 31 tahun yang tinggal di Perumahan De Naila, Driyorejo. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton, setelah mengetahui jadwal pelaksanaannya melalui akun Instagram Damar Kedhaton, @damarkedhaton.

Majelis kali ini terasa cukup spesial, sebab beberapa di antaranya turut mengajak keluarga. Seperti Cak Yayak yang hadir bersama istri dan anaknya yang masih bayi. Begitu pula Cak Faris yang datang bersama istri dan kedua anaknya.
Sebelum Majelis Ilmu Telulikuran dimulai, tampak dua forum kecil yang berlangsung terpisah. Para bapak berkumpul di area halaman Rumba Nusantara, sementara para ibu berada di ruang tamu lesehan yang dipenuhi rak buku dengan aneka rupa genre.
Sembari menunggu kedatangan dulur-dulur lainnya, nderes Al-Qur’an juz 21 diawali oleh Giri, putra Cak Fauzi. Sebuah meja kecil digunakan sebagai alas Al-Qur’an, dengan kursi lesehan sebagai sandaran punggung agar nyaman membaca.

Giri tidak sendirian. Ketika suaranya yang terdengar melalui sound system portable dengan napas yang mulai tersengal, saya pun menggantikannya, melanjutkan nderes Juz 21. Di hadapan saya, anak-anak kecil tampak ceria dengan dunianya sendiri. Giri pun ikut bergabung di sana, menyatu bersama para ibu.
Sementara itu, suasana lain tetap berjalan beriringan tanpa saling mengganggu. Di luar, acara Halalbihalal para pendekar PSHT tetap berlangsung. Di halaman Rumba Nusantara, para bapak terlibat obrolan ringan. Di ruang tamu, para ibu berbincang sambil momong putra-putrinya.
Juz 21 tuntas dibaca pada pukul 22.00, kemudian dilanjutkan dengan persiapan memasuki sesi tawashshulan. Sesi ini dipandu secara bergantian oleh Kamituwa Damar Kedhaton Wak Syuaib, Cak Fauzi, dan Cak Huda. Di tengah suasana yang khidmat, Arka, putra Cak Faris, tampak gembira turut serta dalam momen tersebut.
Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton kali ini terasa semakin gayeng. Saling lempar gagasan, ilmu, dan pengetahuan mengalir tanpa jeda, membuat forum jauh dari kesan hambar. Beragam perspektif hadir dari dulur-dulur yang datang, dengan latar belakang dan disiplin ilmu yang berbeda-beda. Semua itu berpadu dalam kenduri ilmu Majelis rutin sinau bareng Damar Kedhaton, yang pada kesempatan ini mengusung tema “Jalan Syukur.”
Cerme, 13 April 2026









