Sejak pagi hingga sore hari, hujan mengguyur Ponorogo tanpa jeda. Seolah langit ingin memastikan bahwa sesuatu yang akan dimulai kembali harus lebih dulu dibasuh. Bukan untuk menghalangi, melainkan untuk menjernihkan niat dan menyiapkan ruang.
Setelah sempat vakum sejak pandemi korona, Sinau Bareng Waro’ Kaprawiran akhirnya kembali digelar. Tema yang dipilih adalah Kawitan—sebuah ikhtiar untuk ngawiti maneh, mengawali kembali rutinan ngaji bareng, bukan hanya sebagai agenda, tetapi sebagai laku bersama.
Rutinan ini diselenggarakan setiap tanggal 21 kalender Jawa. Tahun ini bertepatan dengan tahun Jawa 1959, yang kemudian ditandai dengan candrasengkala:
Trusthaning Indrya Nduwaraning Jagad.
Sengkalan ini tidak hanya menjadi penanda waktu, tetapi juga doa dan pengingat.

Meski hujan masih menyisakan basah di tanah, sedulur penggiat dan personel Gamelan Kiai Iket Udheng tetap bersemangat menata tempat dan mempersiapkan acara. Ada yang kehujanan, ada yang licin sandalnya, tetapi tidak ada yang licin tekadnya.
Tepat pukul 19.30, acara dimulai. Mas Koko membuka dengan ucapan terima kasih dan selamat datang-hangat dan bersahaja—seperti menyambut tamu di rumah sendiri. Acara dilanjutkan dengan tawashshulan yang dipimpin oleh Gus Hilmi dan Ustadz Arif, diiringi Gamelan Kiai Iket Udheng.
Tawasulan berlangsung khidmat dan khusyuk. Meski tidak secara utuh, namun tetap menghadirkan keteduhan, seolah jamaah sedang mengisi ulang energi batin—pelan, tanpa gaduh.
Selesai tawashshulan, hadir pula sedulur dari Katolik. Mbak Naring, seorang penganut Katolik yang taat dan sering membersamai sedulur Gamelan Kiai Iket Udheng dalam kegiatan Lintas Iman, malam itu turut duduk bersama. Mas Koko kemudian meminta Gamelan Kiai Iket Udheng mengiringi Mbak Naring melantunkan Doa Bapa Kami dalam balutan lagu yang syahdu.
Yang terjadi bukanlah pencampuradukan ritus agama, melainkan penghormatan atas ruang iman. Setiap keyakinan diberi kesempatan menghadirkan pemahaman masing-masing akan Tuhan dalam kebersamaan. Kali kedua Gamelan Kiai Iket Udheng membersamai Mbak Naring membawakan satu lagu lagi, “Ngandol Gusti”, karya Pendeta Yusak Sujarwo. Lagu ini mengingatkan bahwa, mau tidak mau, siang dan malam, kita semua menggantungkan hidup kepada Gusti—Yang menjaga kita dalam sedih dan gundah. Pilihan kata Gusti yang universal membuat setiap jamaah dapat memaknainya sesuai keyakinannya.

Acara semakin hidup ketika teman-teman dari Sanggar Sindu Warah bersama para seniman pelukis Ponorogo melukis on the spot dengan tema yang sama dengan Sinau Bareng malam itu. Kegiatan ini memang rutin digelar dalam setiap pertemuan Waro’ Kaprawiran. Karya-karya yang dihasilkan dikumpulkan, dan kelak—setelah genap satu tahun—akan dipamerkan dalam pameran lukisan Waro’ Kaprawiran.
Mas Koko kemudian memandu sesi berikutnya dengan menghadirkan Mas Viki Tan, seorang generasi muda yang tekun mendalami kebudayaan Jawa. Ia diminta mengupas tentang candrasengkala yang dipilih malam itu. Mas Viki menjelaskan bahwa trustha berarti bahagia, indrya adalah seluruh indra, nduwara bermakna gerbang, dan jagad adalah jagad—baik jagad cilik dalam diri, maupun jagad gedhe semesta.
Dari rangkaian itu, Mas Viki mengajak jamaah memaknai sengkala sebagai ajakan batin: dalam kegembiraan seluruh indra, kita membuka gerbang untuk mengenali kawitan—asal mula diri kita, jalan hidup kita, dan Tuhan yang kita tuju. Ia juga menambahkan bahwa candrasengkala dapat bermakna ramalan, bukan ramalan nasib yang kaku, tetapi doa yang dititipkan pada waktu. Semoga, Trusthaning Indrya Nduwaraning Jagad menjadi ramalan yang baik.
Sebagai penutup sesi, jamaah diajak menyanyikan tembang “Mingkar Mingkuring Angkara”, diiringi Gamelan Iket Udheng. Tembang itu terasa seperti wirid bersama—lirih, jujur, dan menembus ke dalam.
Dalam pembukaan acara, hadir pula Kiai Bahrun Nasihin, seorang purnawirawan Perwira Polri yang setelah purna tugas aktif dalam membangun Majlis Ta’lim. Mas Koko memohon nasihat agar rutinan Sinau Bareng Waro’ Kaprawiran dapat terus istiqomah berjalan. Pesan yang disampaikan sederhana namun menguatkan: istiqomah bukan soal ramai atau sepi, melainkan kesediaan untuk terus hadir dan menjaga niat.

Mas Koko kemudian mempersilakan Mas Tyok, pengampu Sanggar Panengen dari Ngawi, untuk berbagi pengalaman membangun kebersamaan dan menghidupkan kembali tradisi-tradisi yang mulai jarang dilaksanakan, seperti sedekah bumi. Dengan gaya bertutur penuh canda, Mas Tyok membuat suasana semakin regeng—mengajak jamaah tersenyum, sekaligus merenung.
Gamelan Kiai Iket Udheng kembali memainkan beberapa nomor lagu. Di tengah suasana yang cair, Mas Koko meminta jeda sejenak—sekitar lima menit—untuk bebarengan melantunkan “Ya Allah Ridho”, tanpa iringan musik. Hanya suara bersama. Yang semula ramai mendadak hening. Jamaah larut dalam harap, berharap ridho Allah dengan sepenuh hati.
Puncak acara diisi oleh Kiai Sunartip Fadlen, yang kembali menekankan pentingnya niat. Jangan sampai salah niat. Ngawiti apa pun hendaknya selalu bersama Tuhan, dengan keyakinan bahwa setiap kesulitan pasti dibarengi kemudahan.
Waktu menunjukkan pukul 00.00. Mas Koko memohon maaf karena sesi tanya jawab belum dapat dilaksanakan. Jamaah kemudian berdiri bersama, dipimpin Kiai Iket Udheng, melantunkan Shohibu Baiti. Di sela lantunan itu, terdengar bisikan lirih:
Trusthaning Indrya Nduwaraning Jagad.
Seolah dimaknai ulang: bahwa Shohibul Baiti adalah pemimpin hidup, penuntun iman, matahari dan rembulan bagi hati, penyejuk mata, penolong nasib, muara perjuangan, dan cakrawala rindu.
Itulah trusthaning indrya—kegembiraan seluruh indra.
Dan babu akhiroti adalah nduwaraning jagad—gerbang perjalanan.
Tengah malam berlalu, hari baru telah tiba dan hujan telah benar-benar reda. Yang tersisa bukan lagi riuh, melainkan kelelahan yang tenang—seperti orang yang sudah berjalan jauh, lalu duduk sejenak tanpa ingin cepat pulang. (Redaksi Waro` Kaprawiran)








