Sinau Bareng Jama’ah Maiyah Sulthon Penanggungan kembali digelar pada Sabtu malam, 31 Januari 2026, bertempat di OTES (Omah Tengah Sawah), Pasuruan. Forum bulanan ini berlangsung dalam suasana khidmat dan penuh keakraban, dengan jamaah yang hadir berasal dari beragam latar belakang usia dan profesi. Tema yang diangkat kali ini, “Mi’raj: Terapi dari Allah”, menjadi ruang refleksi bersama atas kegelisahan hidup modern dan kebutuhan manusia akan pemulihan batin.
Acara dibuka dengan tawashshul yang dipimpin oleh Ustadz Luqman. Lantunan doa tersebut menjadi penanda awal pertemuan, mengajak jamaah menata niat dan menghadirkan kesadaran kolektif sebelum memasuki sesi inti. Suasana semakin syahdu ketika pembacaan Surat Ar-Rahman dilantunkan oleh Cak Rohman, diikuti sholawat bersama yang dipimpin Cak Suliono, mengalirkan nuansa ketenangan di tengah hamparan sawah yang mengelilingi lokasi acara.

Memasuki sesi materi, Mas Luthfi menyampaikan pemaparan utama dengan menekankan bahwa Allah tidak semata hadir sebagai Dzat pemberi perintah, melainkan sebagai Dzat yang menyembuhkan. Dalam konteks peristiwa Mi’raj, perintah shalat dipahami bukan sebagai beban tambahan, tetapi sebagai bentuk terapi ilahiah bagi jiwa manusia yang letih. Mi’raj digambarkan sebagai momen ketika Allah “menjemput” Rasulullah di tengah tekanan hidup yang berat, sekaligus menghadirkan jalan pemulihan bagi umat manusia.
Lebih lanjut, Mas Luthfi mengajak jamaah melihat Mi’raj sebagai jawaban Allah atas kelelahan jiwa manusia. Ketika arah hidup terasa kabur dan doa-doa terasa singkat, Mi’raj hadir bukan sekadar kisah luar biasa, melainkan respon kasih Allah terhadap kondisi batin manusia. Kedekatan dengan Allah, menurutnya, menjadi inti penyembuhan yang tidak selalu dapat digantikan oleh solusi-solusi eksternal.

Dalam pemaparannya, Mas Luthfi menegaskan bahwa penyembuhan Nabi Muhammad SAW dalam peristiwa Mi’raj tidak dilakukan melalui penjelasan verbal yang panjang, melainkan melalui kedekatan yang sangat intim. Kehadiran Allah itulah yang memulihkan luka batin Rasulullah dan menguatkan kembali jiwanya. Pesan ini menjadi pengingat bahwa dalam kelelahan terdalam, manusia sering kali lebih membutuhkan kehadiran dan ketenangan daripada sekadar jawaban kata-kata.
Diskusi berlangsung hidup dengan partisipasi aktif jamaah. Sejumlah pertanyaan diajukan, mulai dari simbolisme Buraq, keistimewaan perintah shalat yang diterima langsung di langit, hingga cara dakwah yang lebih membumi dan mudah dipahami. Forum ini menegaskan tradisi Maiyah sebagai ruang belajar bersama, di mana bertanya dipandang sebagai tanda kehadiran akal dan hati yang hidup.

Pada sesi praktik, Cak Sule memeragakan rangkaian gerakan shalat yang dipandu langsung oleh Mas Luthfi. Jamaah diajak menyadari bahwa keseluruhan gerakan shalat membentuk sudut 360 derajat, yang dimaknai sebagai simbol keutuhan dan kesempurnaan siklus. Shalat dipresentasikan bukan sekadar rangkaian gerak, tetapi sebagai sistem terapi yang melibatkan tubuh, kesadaran, dan orientasi hidup secara menyeluruh.
Kehadiran jamaah baru turut mewarnai suasana, di antaranya Ali Imran, seorang mahasiswa Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan yang untuk pertama kalinya mengikuti Sinau Bareng Maiyah Sulthon Penanggungan. Ia mengaku terdorong oleh rasa ingin belajar yang besar terhadap dimensi keilmuan, spiritual, dan pengalaman hidup yang ditawarkan forum Maiyah. Hal ini menunjukkan keterbukaan Maiyah bagi siapa pun yang datang dengan niat belajar dan bertumbuh.

Menanggapi berbagai pertanyaan, Mas Luthfi menekankan pentingnya menyampaikan pesan agama dengan bahasa yang sesuai dengan kondisi audiens, merujuk pada Al-Qur’an Surat Ibrahim ayat 4. Dakwah, menurutnya, tidak cukup benar secara isi, tetapi juga harus tepat secara cara dan konteks, agar nilai-nilai agama hadir sebagai ajakan yang memanusiakan, bukan sebagai tekanan normatif.
Menjelang penutupan, jamaah bersama-sama melantunkan Hasbunallah yang dipimpin oleh Cak Suliono, menghadirkan suasana pasrah dan penuh pengharapan. Acara kemudian ditutup dengan doa oleh Ustadz Luqman, menandai berakhirnya Sinau Bareng malam itu. Forum ini kembali menegaskan Maiyah sebagai ruang teduh untuk belajar, berbagi, dan memulihkan diri, dengan shalat dipahami sebagai terapi ilahiah yang paling dekat dan penuh kasih. (Redaksi_SP)









