Hujan deras mengguyur hampir di seluruh wilayah Kabupaten Gresik. Udara dingin, gelap malam hari, dan derasnya butiran air hujan mengaburkan pandangan mata. Namun, cuaca tak menjadi penghalang bagi dulur Damar Kedhaton Gresik untuk istiqomah sinau bareng.
Jumlah kehadiran pun bukan alasan untuk surut, melainkan justru menguatkan tekad istiqomah menggelar rutinan sinau bareng. Bulan Februari 2026, Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-110 bertempat di Balai Desa Raci Kulon, Kecamatan Sidayu. Tema “Isyarat Fatwa Hati” disinaui dalam edisi kali ini.
Majelis Ilmu Telulikuran yang digelar pada Selasa, 10 Februari 2026, ditemani hawa dingin sepanjang acara berlangsung. Lokasinya yang cukup jauh dari pusat kota benar-benar terasa menenangkan, jauh dari hiruk-pikuk keramaian. Yang terdengar hanya suara mesin diesel tak jauh dari Balai Desa Raci Kulon, serta gemericik air hujan.
Secara geografis, akses menuju Desa Raci Kulon cukup jauh dari jalan raya. Perjalanan menyusuri area pertambakan dan persawahan di sepanjang jalan menuju lokasi. Lampu penerangan memang ada, tetapi tertelan gelapnya langit malam ditemani rintik hujan. Area tambak dan sawah nyaris berada di kiri-kanan jalan poros desa menuju tempat majelis diselenggarakan.
Seperti biasa, majelis diawali satu juz Al-Qur’an. Cak Farid menugasi dirinya untuk menuntaskan juz 19, dimulai pukul 21.00 WIB. Setelah Cak Farid menuntaskan juz 19, dilanjut pelantunan wirid, sholawat, dan tawashshulan yang bergantian dipandu Kamituwa Damar Kedhaton Wak Syuaib, Cak Fauzi, dan Cak Arif. Pukul 23.00 WIB, tuntas ditunaikan penghaturan cinta kepada Allah, Kanjeng Nabi Muhammad, beserta para guru.
Tak heran bila diskusi atau sesi elaborasi tema berlangsung mencair. Maiyah sendiri adalah forum egaliter. Bagi Cak Fauzi, ia menyebutnya sebagai keberlimpahan bonus sinau bareng dalam maiyahan. Selalu ada hal-hal di luar konteks tema yang dielaborasi sepanjang diskusi berlangsung.
“Saya menyebutnya ini sebagai bonus, meskipun konteks pembicaraan melebar dari kerangka tema kita malam ini,” ujarnya dengan nada syukur dan gembira.

Dari suasana cair itulah, obrolan pelan-pelan bergeser dari tema hati menuju ruang yang lebih luas: negara dan posisi kita di dalamnya. Pembahasan malam itu melebar pada topik struktur negara: bagaimana memosisikan diri sekaligus menata kesadaran berpikir dalam kerangka harapan kita kepada negara. Tak kalah menarik, beberapa dulur yang hadir berbagi pengalaman hidup masing-masing.
Dalam merespons kegelisahan tentang masa depan bangsa itu, forum pun mengingat kembali dhawuh para guru sebagai pijakan bersikap. Seperti yang sering didhawuhkan Mbah Nun: bagaimana memosisikan diri—jamaah Maiyah—dalam memberi perhatian, cinta kasih, dan pelayanan kepada Indonesia. Artinya, kita tidak dalam posisi “wajib” memberikan jawaban atau solusi atas kompleksitas persoalan bangsa, melainkan dengan kesadaran shodaqoh.
Cak Fauzi melambari pendapatnya dengan kalimat “Indonesia Bagian dari Desa Saya”, buah pemikiran Mbah Nun sejak era 1970-an. Topik ini mengemuka ketika Cak Nanang menaruh perhatian pada harapan masa depan kita di Indonesia.
Pembahasan topik negara cukup menguras energi dulur Damar Kedhaton yang hadir. Sorot mata tampak antusias, fokus pada perbincangan Cak Nanang dan Cak Fauzi, hingga mengalir pada inisiatif gerakan yang konsen di wilayah itu: Sekolah Negarawan.
Setelah pembahasan negara cukup menguras energi dan membuka banyak perspektif, forum perlahan dikembalikan ke rel utama tema malam itu. Diskusi kemudian dikerucutkan kembali pada konteks tema “Isyarat Fatwa Hati” oleh Kamituwa Wak Syuaib. Beliau melanjutkan amanah pesan dari Abah Hamim Ahmad—salah satu sahabat karib Mbah Nun di Berlin, Jerman, dan Patangpuluhan—terutama pada kata “fatwa”.
Bukan sebuah kebetulan pula Wak Syuaib mendapat bekal sangu dari Abah Hamim berupa cerita lisan. Sebelum majelis ilmu berlangsung, Wak Syuaib beserta rombongan—Cak Gogon dan Cak Arif—terlebih dulu sowan ke Abah Hamim Ahmad di ndalemnya: Desa Campurejo, Kecamatan Panceng.
Beberapa waktu lalu, lanjut cerita dari Wak Syuaib, Abah Hamim disowani para guru yang hendak ziarah ke Pasuruan, salah satunya ke pesarean Kiai Abdul Hamid. “Para guru itu nyari bekal fatwa. Bekal fatwa untuk sangu urip,” tutur Wak Syuaib.

Menanggapi arah pembahasan yang kian dalam, beberapa dulur mulai mengurai tema dari sudut pengalaman batin masing-masing. Cak Ateng Ngabehi kemudian menambahkan perspektif: berbicara tentang “fatwa hati”, hati itu molak-malik.
Lalu disambungkan dengan konteks lingkungan masing-masing yang pasti memiliki gradasi kompleksitas, skala, dan level daya juang berbeda. Maka perlu diperjelas arah, maksud, duduk perkara, serta konteks dari hati yang berbolak-balik itu. Karena situasi lingkungan berbeda, keputusan hati untuk berjuang pun niscaya berbeda.
Wak Syuaib lalu masuk pada konteks tematik secara lebih mendasar. Menurut beliau, secara akar kata dalam Al-Qur’an, “hati” memiliki beberapa level makna: sadr, qalb, fu’ad, dan lubb.
Sadr dimaknai sebagai dada, lapisan paling luar.
Qalb dimaknai sebagai tempatnya Al-Qur’an bersemayam.
Fu’ad dimaknai sebagai sisi emosional manusia, wilayah harapan dan gejolak rasa.
Lubb dimaknai sebagai inti terdalam, paling dalam dari kesadaran manusia.
Dari pembahasan lapisan-lapisan hati itu, diskusi kemudian bergeser pada ancaman yang diam-diam menggerus kejernihan hati dan akal manusia hari ini. Dalam tadabburnya atas tema “Isyarat Fatwa Hati”, Wak Syuaib mengajak dulur Damar Kedhaton untuk belajar, meguru, dan meneladani Kanjeng Nabi Muhammad.
Karena itu, beliau membuka catatan di buku saku kecil yang setia dibawa ke mana-mana. Dalam momen itu, Wak Syuaib sempat lupa letak ayat Al-Qur’an yang hendak dijadikan ikhtiar dan ijtihad tadabbur bersama malam itu.
Di tengah beliau membuka lembar demi lembar catatan, diskusi tetap berlanjut. Lazimnya maiyahan dalam kerangka sinau bareng forum egaliter, elaborasi tema kerap melebar dari prolog yang telah dibuat.
Cak Fauzi kemudian masuk kembali ke ruang diskusi. Ia teringat momen ketika diminta Pak Dul menjadi fasilitator tentang teknologi masa kini: bahaya gadget pada anak, rentang fokus perhatian manusia yang terbatas, dampak kecanduan gadget, hingga fenomena video pendek di media sosial yang mengarah pada istilah brain rot.

Di tempat yang sama—Balai Desa Raci Kulon—Cak Fauzi pernah menyampaikan materi tersebut kepada anak-anak dan para orang tua. Ia mengajak sinau bareng bahwa brain rot adalah istilah yang menjelaskan penurunan kemampuan kognitif, fokus, dan berpikir kritis akibat paparan berlebihan terhadap konten digital singkat, dangkal, dan berkualitas rendah.
Fenomena ini menyebabkan kejenuhan otak, memicu kelelahan mental, kecemasan, serta ketergantungan pada rangsangan digital. Konsumsi hiburan berstimulus tinggi namun berdaya pikir rendah membuat otak tidak tertantang berpikir mendalam. Gejalanya: kesulitan berkonsentrasi pada tugas panjang, mudah terdistraksi, malas berpikir mendalam, dan merasa kosong setelah scrolling.
Dampaknya: fungsi kognitif menurun, produktivitas kerja merosot, bahkan berpotensi memicu gangguan kesehatan mental seperti cemas atau depresi. Ada pula riset yang menyebut pengetahuan tak lagi terserap utuh dan jernih.
Otak yang dianugerahi “software” berupa akal, serta hati yang menjadi tema “Isyarat Fatwa Hati”, perlahan bisa rusak tanpa disadari jika tak memberi ruang jeda. Dalam khazanah Jawa dikenal dengan istilah meneb.
Di tengah kegelisahan atas kondisi batin manusia modern itu, forum kembali menoleh pada sumber utama petunjuk dalam hidup-kehidupan: Al-Qur’an. Tak lama kemudian, Wak Syuaib menemukan kembali catatan ayat yang dimaksud, yakni Surat Asy-Syu’ara ayat 52:
“Demikianlah Kami mewahyukan kepadamu (Nabi Muhammad) ruh (Al-Qur’an) dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidak mengetahui apakah Kitab (Al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami menjadikannya cahaya yang dengannya Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Sesungguhnya engkau benar-benar membimbing (manusia) ke jalan yang lurus.”
Bahwa Al-Qur’an adalah ruh. Lalu apa itu ruh? Mengapa Al-Qur’an disebut ruh oleh Allah dalam firman-Nya? Di situlah inti pemaknaan tema “Isyarat Fatwa Hati”. Sinau bareng kita menegaskan kembali dhawuh Mbah Nun: terus belajar kepada Al-Qur’an, dan kepada Kanjeng Nabi Muhammad. Karena sadar diri tidak memiliki kapabilitas dan kompatibilitas ilmu untuk langsung menyelami Al-Qur’an secara utuh, maka ikhtiarnya adalah lewat jalan tadabbur.

Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Gresik dipungkasi dengan pembacaan sholawat “Maulana maulana siwallah” dan “Allah Allah ya Rabbi shalli ‘alal mukhtar tibbil qulub”. Majelis diakhiri dengan doa oleh Wak Syuaib tepat pukul 01.45 WIB, Rabu dini hari, 11 Februari 2026.[]
Jagad Jawi, Cerme, 14 Februari 2026
(Febrian Kisworo/Redaksi Damar Kedhaton)








