Hujan turun sejak sore di Purwokerto. Tidak deras sekali, tapi awet. Seperti sengaja menemani orang-orang yang malam itu datang ke Hetero Space Banyumas. Juguran Syafaat tetap digelar, Jumat malam, 23 Januari 2026. Tidak ada yang menunda. Tidak ada yang pulang.
Diskusi dimulai sekitar pukul 20.00 dan baru selesai menjelang pukul 01.00 dini hari. Jamaah duduk melingkar. Tidak ada panggung. Tidak ada jarak yang perlu ditembus. Suasananya santai, tapi serius. Seperti obrolan panjang yang memang sudah lama ingin dibicarakan.
Tema malam itu diberi judul “Pohon Paternalisme”. Judul yang terdengar tenang, tapi sebenarnya menyimpan banyak kegelisahan. Obrolan diarahkan pada cara kita membangun organisasi, jamaah, komunitas, dan relasi antar-manusia di dalamnya.

Di awal, diskusi mengajak jamaah melihat ulang niat awal kita “bertani manusia”. Banyak ruang sosial lahir dengan niat baik, menjadi tempat tumbuh, belajar, dan saling menguatkan. Namun pelan-pelan, sering tanpa sadar, ruang-ruang itu berubah fungsi. Dari tempat menyemai kesadaran, menjadi tempat memanen loyalitas. Dari ruang tumbuh bersama, menjadi kebun kepentingan pribadi.
Harianto, Redaktur Maiyah dari Yogyakarta, membuka diskusi dengan membedah apa yang ia sebut sebagai anatomi penjajahan. Bukan penjajahan dalam bentuk lama, tetapi penjajahan yang bekerja halus. Masuk lewat selera. Lewat cara berpikir. Lewat arus globalisme yang membentuk cara kita memandang dunia.

Menurut Mas Har, penjajahan yang paling berbahaya adalah ketika manusia merasa bebas, padahal sedang diarahkan. Merasa memilih, padahal opsinya sudah disiapkan. Pola semacam ini, katanya, sering tanpa sadar kita tiru dalam organisasi dan komunitas sendiri. Ketergantungan dilanggengkan. Kepatuhan dirawat. Lalu dianggap sebagai bagian dari tradisi.
Mas Agus Sukoco, budayawan, menyambung dari sisi kebudayaan. Ia menyebut kita sebagai anak cucu rajawali. Bangsa besar dengan sejarah daya dan keberanian. Namun dalam perjalanan waktu, kita sering lupa pada kekuatan itu sendiri.
Menurut Mas Agus, banyak manusia hari ini lebih nyaman menjadi pengikut. Lebih aman tunduk daripada bertanggung jawab. Padahal keberanian untuk berpikir mandiri bukanlah sikap melawan, melainkan sikap dewasa. Bagian dari jati diri yang pernah kita miliki.

Diskusi kemudian ditambatkan pada contoh konkret oleh Pak Indra M. Kusumah, Penyuluh Pertanian Banyumas. Ia bercerita tentang sistem sosial masyarakat adat, salah satunya Kasepuhan Sinaresmi Ciptogelar. Di sana, kepemimpinan tidak memusatkan kehidupan pada satu figur.
Pemimpin hadir sebagai pengayom, bukan sebagai sumber segalanya. Warga didorong untuk mandiri, tetapi tetap berpegang pada nilai bersama. Sistem ini menunjukkan bahwa kebersamaan tidak harus mematikan kemandirian, dan kepemimpinan tidak harus melahirkan ketergantungan.
Obrolan semakin hidup ketika jamaah ikut masuk. Deka Aepama mengajukan pertanyaan dari kegelisahan generasi algoritmik. Generasi yang hidupnya banyak diarahkan oleh sistem digital. Dipilihkan. Ditentukan. Disederhanakan. Ia bertanya, bagaimana mungkin menciptakan “sabrang-sabrang kecil” di tengah arus besar yang serba mengatur.

Pertanyaan itu tidak dijawab dengan rumus. Ia dibicarakan. Dipikirkan bersama. Seperti memang seharusnya.
Di penutup, Mas Har menegaskan bahwa perubahan kaum dan bangsa selalu berawal dari perubahan nafs dan pribadi. Perubahan kecil, katanya, bisa menimbulkan dampak besar. Butterfly Effect. Tidak langsung terlihat, tapi nyata.
Mas Agus menambahkan bahwa tugas manusia adalah merespons panggilan hidup. Bukan menunggu keadaan ideal. Bukan menunggu siap sepenuhnya. Hadir, sadar, dan bertanggung jawab.

Pak Indra menutup dengan harapan agar Maiyah terus menjadi forum yang lebih luas. Bukan sekadar besar secara jumlah, tetapi luas secara makna. Ruang yang tetap membumi dan tidak mematikan pertumbuhan manusia.
Hujan masih turun ketika diskusi selesai. Jamaah bubar pelan-pelan. Tidak ada yang tergesa. Malam itu, Juguran Syafaat tidak sedang menawarkan jawaban. Ia sedang membuka ruang. Tempat orang-orang belajar menanam kembali manusia, dengan cara yang lebih jujur dan lebih dewasa. (Redaksi Juguran Syafaat)










