Sabtu malam, 14 Februari 2026, kami menjalani rutinan melingkar di Majelis ‘Ilmu Muhammad Ainun Nadjib, Paseduluran Maiyah Pasuruan. Bertempat di Toko AA, kediaman sekaligus tempat usaha Mas Wira, malam itu maiyahan diliputi cuaca cerah dan hangat. Hadir pula seorang sedulur Maiyah dari Malang yang sedang perjalanan pulang dari KKN di Jombang kemudian singgah dan melingkar bersama. Mas Rizal namanya, generasi muda calon guru madrasah yang berkuliah di UIN Malang, tertarik dan perdana merasakan suasana sinau bareng di lingkar kecil seperti ini. Terasa bahwa ghirahnya untuk berkumpul, berbagi rasa, dan menumbuhkan makna begitu besar menambah warna maiyahan malam itu.
Acara dibuka dengan tawashshulan oleh Mas Jufri. Dilanjut oleh Mas Rizal Mashuri sebagai moderator sebagai pemantik bahasan tema “Ngeduk Jero”. Tema ini terinspirasi dari video Mas Sabrang yang membahas tentang ground zero, sebuah gagasan yang menjelaskan bahwa untuk memecahkan masalah kompleks, kita perlu membongkar hingga ke titik nolnya, mendekonstruksi pemahaman hingga ke titik awal.
Merespon tema, Mas Wira membagi proses refleksinya dalam menjalani kehidupan akhir-akhir ini. Mas Wira mengaku merasakan ada yang tidak beres; bukan karena kekurangan capaian, melainkan karena kehilangan keinginan yang spesifik. Ia merasa tidak memiliki intensi sebagaimana kebanyakan orang yang selalu punya target dan ambisi.
Dalam percakapannya dengan AI, muncul istilah “disregulated system”: sistem biologis yang tidak stabil, gagal ke kondisi seimbang, ritme yang tidak selaras, dirasakan seperti ada yang “korsleting” di otak. Ternyata masalahnya bukan sekadar hilang motivasi, tetapi ketidakteraturan sistem biologis. Cara mengembalikannya dimulai dari hal mendasar: menyadari bahwa kita punya masalah. Lalu menyadari sinyal yang dirasakan tubuh seperti ritme tidur, energi, emosi, serta kembali menata diri mengikuti siklus sirkadian. Disiplin untuk menjaga kesadaran atas apa yang dilakukan menjadi kunci. Diri sini, tumbuh pemaknaan baru bahwa salat juga fungsional sebagai salah satu mekanisme reset, mengembalikan diri pada fungsi dan kondisi optimal dengan cara memberi jeda pada kesibukan, mendisiplinkan diri dengan taat sesuai waktu shalat.
Mas Ari menanggapi pengalaman itu sebagai “Platypus Effect”. Sebuah kondisi dimana seseorang memiliki banyak potensi dan kemampuan, tetapi bingung arah. Mengambil metafora dari hewan platipus; mirip bebek, tetapi berekor dan berkaki seperti berang-berang, dapat berenang, bertelur dan bisa menyusui anak-anaknya. Serba bisa, tetapi tidak tahu hendak ke mana.
Mbak Marhamah menambahkan untuk pentingnya noticing emosi/sensasi, menyadari sinyal dan gejala saat ada yang tidak beres. Orang yang reflektif lebih mudah mengenali gangguan dalam dirinya. Seseorang yang mengetahui ada masalah justru baik karena itu tanda masih memiliki growth mindset, tidak denial. Setiap emosi valid bagi yang merasakannya, mengenali sensasinya adalah langkah awal. Setelah itu, menentukan langkah yang tepat untuk me-regulasinya.
Obrolan berlanjut pada manajemen pikiran. Mas Wira menyampaikan saran AI untuk menghentikan pikiran yang membebani otak saat jam istirahat. Mas Ari mengingat ajaran Mbah Nun: masalah boleh dipikirkan sampai jam 10 malam saja, setelah itu serahkan kepada Allah. Diskusi pun melebar pada konsolidasi memori saat tidur dan pentingnya memberi ruang bagi tubuh dan pikiran untuk memulihkan diri.
Gus Ishom menambahkan bahwa kita sering mengalami masalah karena kita menjadi aktor di dalamnya, terlibat secara emosional dan terlalu menggenggamnya. Mas Rizal menambahkan, salah satu jalan keluarnya adalah setia pada petunjuk kecil yang diberikan Tuhan, meskipun hanya satu dua langkah didepan, dan melaksanakannya dengan kejujuran. Dari situ, tanda berikutnya akan datang.
Mas Ari menekankan bahwa manusia cenderung mengikuti dorongan biologis dan pengaruh lingkungan. Tanpa nilai, orang mudah tersesat. Fenomena hedonic treadmill membuat kesenangan yang terus diulang kehilangan sensasinya. Maka penting menemukan titik keseimbangan antara fisik, akal, dan belief system. Di situlah kesadaran menjadi fondasi. Hadits “innamal a’malu binniyat” dimaknai sebagai penegasan bahwa niat adalah bentuk kesadaran. Dua orang bisa mengalami hal yang sama tetapi memperoleh makna dan pengalaman yang berbeda karena niatnya berbeda.
Pembahasan kemudian melebar pada puasa. Mas Jufri memantik dengan pertanyaan-pertanyaan tentang manfaat puasa. Puasa dipahami sebagai metode push the limit, dimana tubuh dipaksa keluar dari pola biasa sehingga bereaksi dan bekerja lebih optimal. Mas Ubaid menambahkan bahwa puasa bukan hanya dialami manusia; ayam yang bertelur pun bisa tidak makan berhari-hari. Prinsipnya sederhana: makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Menanggapi fase jenuh kehidupan, Mas Ubaid mengajak untuk membaca kembali tulisan Mbah Nun berjudul “Ibu Tamparlah Mulut Anakmu”, rangkaian puisi yang reflektif.
Gus Ishom menambahkan bahwa ada fase ketika seseorang merasa gelisah dan kehilangan makna. Fase kekeringan ini sering terjadi saat terlalu larut dalam dunia sehingga ibadah menjadi rutinitas tanpa rasa. Pada titik tertentu, seseorang membutuhkan jalan disiplin spiritual, dengan berthariqah, agar hidup kembali menemukan kedalaman.
Pemaknaan menjadi kunci agar hidup dan ibadah tidak terjebak dalam siklus kosong.
Mas Ari menambahkan bahwa fase kekosongan bisa muncul dalam berbagai usia, seperti masa quarter life crisis maupun fase empat puluhan, sebagaimana riwayat perjalanan batin Kanjeng Nabi. Berkaitan dengan itu, Mas Ubaid kembali menguraikan surat favorit Mbah Nun, An-Nur ayat 35, tentang cahaya yang menerangi dari dalam.
Diskusi berlangsung hangat hingga pukul satu dini hari. Lingkaran ditutup dengan doa yang dipimpin Gus Ishom. Malam itu “Ngeduk Jero” tidak berhenti sebagai tema, tetapi menjadi pengalaman kesadaran bersama. Menata ulang sistem, membaca sinyal diri, dan belajar kembali setia menjalani petunjuk yang diberikan Tuhan. Kunci hidup yang banyak diantaranya dihadirkan dengan tak terduga di setiap Maiyahan.
Alhamdulillah, terus berjalan.[] (Redaksi Paseduluran Maiyah Pasuruan)








