Malam Sabtu Legi, 23 Januari 2026, menjadi penanda Tadabbur Suluk Surakartan pertama di tahun ini. Edisi ke-102 terasa istimewa dengan hadirnya dua Redaktur Maiyah, Mas Jamal dan Mas Helmi. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan, tetapi menjadi momentum sambung rasa dan sambung asa bagi jamaah suluk surakartan dalam ruang sinau bareng yang hangat serta penuh keterbukaan.
Mengusung tema “Munkar Kesingsal”, Alan selaku moderator membuka ruang perenungan sejak awal. Bahwa munkar tidak selalu berbentuk kesalahan besar yang terlihat oleh mata, melainkan sering hadir sebagai hal-hal kecil yang luput dari perhatian. Dari situlah diskusi mengalir: kemunkaran bisa tumbuh dari sikap abai, dari kebiasaan kecil yang dibiarkan, hingga dari ketidakpekaan terhadap nilai yang sebenarnya telah kita sepakati bersama.

Merujuk potongan dawuh Mbah Nun di Kenduri Cinta, Pak Munir menambahkan bahwa banyak sisi dari kata munkar yang bisa ditadabburi lebih dalam. Sesuatu yang bertentangan dengan nilai bersama, meski tampak sepele, tetaplah bagian dari kemunkaran. Lebih jauh lagi, munkar bisa dipahami sebagai kegagalan dalam menjaga adab, seperti halnya: tidak menghargai orang lain, tidak menjaga sikap, serta tidak jernih dalam memandang persoalan. Maka upaya menghindari kemunkaran bukan hanya soal melarang, tetapi melatih diri melihat dengan lebih teliti dan hati-hati.

Pada kesempatan yang sama, Mas Jamal dan Mas Helmi mengajak jamaah untuk sejenak mundur dan bertanya ulang: mengapa Mbah Nun mengajak kita sinau bareng? Mas Didik menanggapi dengan mengingat tulisannya di Majalah Sabana, bahwa sinau bareng adalah cara mendistribusikan ilmu secara lebih merata dan efektif. Kemudian Mas Jamal menambahkan, bahwa rutinan tadabbur di setiap simpul Maiyah pun menjadi ikhtiar menjaga tradisi, merawat sanad keilmuan leluhur, serta menumbuhkan harapan agar hidup kita pelan-pelan mengalami perubahan. Seperti halnya dengan rutinitas shalat yang begitu-begitu saja setiap waktu, akan tetapi yang membedakan adalah kualitasnya. Alfatihah..









