Seperti edisi sinau bareng yang sudah-sudah, malam ini diiringi dengan gerimis yang jatuh perlahan. Agaknya suasana hari ini terasa lebih was-was daripada biasanya, lantaran sebagian wilayah Kabupaten Kendal tengah bergulat dengan banjir yang datang dan pergi. Sehari banjir sepaha, hari berikutnya surut. Dalam dua minggu sudah terjadi dua kali. Belum lagi Pantura yang sedang rajin berbenah. Ruas demi ruas jalan dibetonisasi sehingga mau tidak mau warga Kendal harus beradaptasi dengan dua ujian ini: air yang meluap dan jalan yang belum selesai.
Sinau bareng kali ini mengambil tema: Manusia Seluas Daratan dan Manusia Seluas Samudra. Ada dua karakteristik manusia yang menjadi pijakan diskusi: daratan dimaknai sebagai simbol keterbatasan manusia dalam berpijak pada realitas, sedangkan samudra sebagai lambang keluasan hati yang bersedia menampung warna-warni kehidupan.
Sinau bareng malam itu dihadiri delapan orang: Abdur, Bahrul Ulum, Muslikan, Sutris, Saiqul Huda, Yahya, Zizi, dan penulis. Jumlah yang tidak banyak, tetapi diskusi tetap berjalan dengan khidmat.
Acara dimulai pukul 21.48 WIB dengan tawasulan yang dipimpin oleh Bahrul Ulum. Lantunan ayat-ayat Allah memenuhi ruang Kopi Sufi. Tempat ini sendiri adalah cita-cita Bahrul Ulum: sebuah kedai kopi yang diniatkan sebagai ruang bermaiyah dan bertukar pengalaman hidup. Meski belum beroperasi secara resmi, ruhnya sudah lebih dulu hadir.
Diskusi diawali dengan pembacaan mukadimah, lalu dilanjutkan dengan bertukar pemaknaan atas tema. Zizi menyoroti bahwa “seluas daratan” dan “seluas samudra” tidak cukup dimaknai dari rentang atau ukuran, tetapi juga dari isi. Luas tanpa isi hanya menjadi hamparan kosong, sedangkan isi tanpa keluasan menjelma ruang yang sempit.
Pembahasan kemudian mengarah pada daratan sebagai simbol kehidupan sosial. Di daratan manusia berdialektika, berinteraksi, dan mengumpulkan pengetahuan. Muncul perumpamaan tentang menghitung jumlah pasir di Sahara. Manusia bisa saja menghabiskan umur untuk menghitung dan memahami berbagai hal, tetapi tetap tidak akan pernah menuntaskan seluruhnya. Dari sini muncul kesadaran bahwa keterbatasan adalah bagian dari hakikat manusia. Keluasan di daratan sering kali justru melahirkan rasa paling tahu, yang tanpa disadari menjadi “batu besar” dalam dada.
Sutris dan Muslikan kemudian membawa diskusi pada istilah pasemon, bahasa perumpamaan untuk menyampaikan pesan moral tanpa menggurui. Daratan dan samudra dipahami sebagai pasemon, bukan sekadar istilah geografis, melainkan cara untuk membaca diri sendiri.
Pembahasan tentang samudra berkembang lebih dalam. Saiqul Huda menyampaikan bahwa jika daratan adalah ruang gerak sosial, maka samudra adalah ruang kesadaran. Semakin seseorang menyelam, semakin ia menyadari bahwa yang tidak diketahuinya jauh lebih luas daripada yang telah ia pahami.

Di titik ini forum menyinggung firman Allah dalam Surah Al-Kahfi ayat 109:
قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا
“Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk menuliskan kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum selesai kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu pula.”
Ayat tersebut menjadi penegas bahwa seluas apa pun pengetahuan manusia, tetap ada batas yang tidak mampu ditembus. Samudra dalam konteks ini bukan sekadar luas, tetapi mengingatkan manusia pada keterbatasannya sendiri.
Gagasan tentang manusia ruang dan manusia perabot pun mengemuka. Manusia perabot memenuhi dirinya dengan klaim dan kepastian, merasa telah menguasai daratan dan menaklukkan samudra. Sementara manusia ruang menyediakan kelapangan dalam dirinya. Ia sadar bahwa belajar tidak pernah selesai.
Arah diskusi malam itu tidak berhenti pada pilihan antara daratan atau samudra. Justru muncul kesimpulan bahwa manusia hidup di daratan, tetapi perlu memiliki jiwa samudra. Berpijak pada realitas sosial, namun tetap menyadari kedalaman yang membuatnya rendah hati. Keterlibatan dalam hablun minannas harus dibarengi kesadaran dalam hablun minallah. Tanpa keseimbangan itu, keluasan hanya menjadi kebanggaan kosong.
Sebelum sinau bareng ditutup, Bahrul Ulum mengingatkan agar kita tidak melupakan tempat kita bernaung, yakni Allah. Kelapangan hati tidak mungkin hadir tanpa kesadaran akan kehadiran-Nya.
Gerimis masih turun ketika diskusi usai. Kendal mungkin masih akan menghadapi banjir dan perbaikan jalan. Namun malam itu, delapan orang di Kopi Sufi belajar satu hal sederhana: keluasan bukan tentang seberapa banyak yang kita kuasai, melainkan seberapa lapang ruang yang kita sediakan di dalam diri. (Redaksi Tembang Pepadhang)








