Seperti biasanya, majelis diawali dengan tawashshulan yang dipimpin oleh Mas Oni. Malam itu cuaca cerah, terang rembulan juga membersamai kita, setelah sorenya langit Lamongan turun hujan. Suasana malam yang tenang itu dibersamai dua puluh tiga jamaah yang duduk melingkar. Tawashshulan dipanjatkan sebagai pengikat niat, mengkondisikan batin jamaah agar siap memasuki ruang belajar bersama. Menurut salah satu jamaah, kegiatan Sinau Bareng rutin digelar sebagai ikhtiar menjaga tradisi belajar bersama sekaligus mempererat silaturahmi. “Walaupun sederhana, kebersamaan seperti inilah yang membuat kami terus kembali,” ujarnya.
Mas Agus kemudian membuka “pintu belajar” sekaligus berperan sebagai moderator, mengalirkan suasana agar majelis berjalan dialogis dan hidup. Setelah itu, Mas Alvian membacakan mukadimah sebagaimana tradisi yang telah terjaga, menjadi pengantar menuju tema besar yang akan dikaji. Pemantik utama disampaikan oleh Mas Humam. Beliau mengawali dengan membedah kata-kata kunci yang melekat pada tema ‘Tabiat Inside: Genetika Akhlak’.
Akhlak, Watak, dan Adab
Pemantik diskusi disampaikan oleh Mas Humam dengan membedah sejumlah kata kunci yang berkaitan dengan tema, antara lain inside, watak, adab, dan akhlak. Ia menjelaskan bahwa secara bahasa, akhlak berkaitan dengan kata Khalaqa (mencipta), Khaliq (pencipta), dan makhluq (yang dicipta). Bahwa akhlak adalah hasil proses pembentukan—mencipta atau membentuk. Akhlak lahir dari watak yang dilatih, dibiasakan, dan diarahkan oleh nilai. Beliau membedakan antara akhlaqul karimah dan akhlaqul madzmumah, serta menekankan adanya dimensi “inside”, yaitu akhlak yang hidup di dalam diri, bukan sekadar tampilan luar.
Ia mencontohkan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Khalifah Umar bin Khattab, sebelum masuk Islam, Umar dikenal memiliki watak berani yang kasar dan keras. Namun setelah memeluk Islam, watak tersebut tidak lenyap, melainkan diarahkan dan dibingkai oleh aturan agama sehingga melahirkan akhlaqul karimah, menunjukkan bagaimana akhlak sejati lahir dari kedalaman batin.
Watak seperti minder atau percaya diri berlebih sama-sama membutuhkan penyaringan akhlak. Minder bisa menjadi penghambat, tetapi juga dapat berubah menjadi kehati-hatian dan kerendahan hati bila dikelola dengan tepat.
Dalam konteks ini, dibedakan pula antara akhlak dan adab. Akhlak adalah watak yang ada di dalam (apa adanya), sementara adab merupakan lapisan luar—ibarat topeng—yang sangat bergantung pada konteks sosial dan situasi.
Fenomena Sosial dan Penilaian Moral
Jamaah merespons, Mas Hari kemudian menyambung dengan kisah reflektif dari pengalaman sehari-hari. Ia menceritakan sebuah kejadian di warung kopi ketika seorang SPG menawarkan produk. Temannya secara spontan melontarkan penilaian yang merendahkan profesi tersebut, seolah pekerjaan itu tidak mulia. Mas Hari mencoba menetralisir suasana dengan mengajak untuk tidak mudah menghakimi, sebab penilaian cepat sering kali lahir bukan dari akhlak, melainkan dari prasangka.
Pandangan lain disampaikan oleh Mas Teguh, yang membagi akhlak ke dalam dua dimensi: vertikal dan horizontal. Menurutnya, akhlak vertikal berkaitan dengan hubungan manusia dengan Tuhan, sementara akhlak horizontal menyangkut relasi dengan sesama manusia, alam, hewan, dan lingkungan.
Ia menilai tantangan terbesar justru berada di wilayah horizontal. Banyak orang memahami nilai kebaikan, tetapi gagal menjalankannya ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi, kebutuhan hidup, atau tekanan sosial. Akhlak terbentuk dari dalam, sementara adab merupakan manifestasi luarnya. Jika hubungan vertikal relatif jelas arahnya, sedangkan relasi horizontal jauh lebih kompleks karena melibatkan banyak kepentingan dan perbedaan, sehingga membutuhkan kesadaran dan pemeliharaan terus-menerus.
Diskusi berkembang dengan refleksi tentang budaya Timur, ketegasan, dan fleksibilitas sosial. Jamaah menilai bahwa kesantunan tidak selalu berarti lembek, dan ketegasan tidak selalu berarti kasar. Dalam konteks tertentu, manusia perlu lentur tanpa kehilangan nilai. Adab, dalam pandangan ini, boleh berubah-ubah mengikuti ruang dan waktu, tetapi akhlak tidak boleh dikorbankan.
Genetika, Budaya, dan Peran Sosial
Bang Zali kemudian memperkaya diskusi dengan gaya bahasa sanepa yang khas. Ia mengaitkan akhlak dengan moral, aturan, dan budaya. Menurutnya, akhlak sering kali dibentuk—atau setidaknya dipengaruhi—oleh budaya yang masuk ke suatu wilayah adat. Akibatnya, terjadi pergeseran nilai dari adat asli. Dari sini muncul kesepakatan hukum dan norma sesuai dengan konteks budaya setempat.
Ia memantik kesadaran bahwa manusia sering memainkan peran tertentu—ibarat memakai topeng—demi menjaga keseimbangan sosial. Ia mencontohkan peran Sunan Kalijaga yang mampu merawat budaya lokal agar tetap lestari demi kebaikan jangka panjang.
Mas Fajar melanjutkan dengan menyinggung refleksi zaman sekarang. Ia menyoroti fenomena orang-orang yang tampil secara simbolik—misalnya menyerupai figur religius—namun akhlaknya belum mencerminkan keteladanan para pendahulu. Menurutnya, yang perlu dijaga bukan sekadar simbol atau identitas, melainkan spirit perjuangan dan nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Menanggapi hal tersebut, Bang Zali menyatakan bahwa modernitas kerap membuat manusia lalai melanjutkan “gen kebaikan” dari generasi sebelumnya, baik dalam nilai, sikap, maupun laku hidup.
Kebiasaan, Watak, dan Takdir
Mas Oni kemudian mengajak melihat dari sudut pandang kebiasaan. Ia mempertanyakan apakah kebiasaan yang dilakukan seseorang akan berpengaruh terhadap wataknya. Jika watak dianggap tidak bisa diubah, bagaimana dengan orang yang pendiam—apakah otomatis berakhlak baik? Atau sebaliknya?
Mas Inan menambahkan bahwa apa yang kita lakukan hari ini akan memengaruhi masa depan kita. Bahkan, apa yang kita masukkan ke dalam tubuh—makanan, minuman, dan sumber penghidupan—ikut memengaruhi kondisi gen dan watak di masa depan. Ia juga mengkritik fenomena zaman kini, ketika watak baik sering dipamerkan bukan sebagai laku, melainkan demi viralitas.
Mas Agus menanggapi dengan penegasan bahwa kebiasaan yang dilakukan harus dijaga agar tidak melenceng. Jalan menuju Tuhan jangan sampai justru membawa manusia ke posisi yang buruk. Proses membentuk akhlak harus selalu diarahkan pada kebaikan, bukan sekadar pembenaran diri.
Akhlak, Takdir dan Husnul Khatimah
Menjelang akhir, salah satu jamaah mengajukan pertanyaan tentang posisi ilmu dan adab. Pertanyaan tersebut direspons oleh Mas Humam dengan penegasan bahwa ilmu dan adab tidak dapat dipisahkan dan tidak bersifat hierarkis, melainkan saling berkaitan.
Mas Humam menjelaskan bahwa ungkapan al-adabu fauqal ‘ilm tidak dimaksudkan untuk merendahkan ilmu, tetapi menegaskan bahwa nilai pengetahuan terletak pada pengamalannya. Ia mengaitkan hal tersebut dengan ungkapan Jawa ngelmu iku kalakone kanthi laku—ilmu sejati hanya dapat ditemukan melalui praktik nyata. Pengetahuan yang tidak dijalani akan berhenti sebagai wacana, bahkan berpotensi melahirkan kesombongan intelektual. Karena itu, ketika seseorang telah memiliki pengetahuan, ia dituntut untuk segera menggerakkannya dalam tindakan.
Menurutnya, ilmu harus segera diamalkan—lekase lawan kas (harus segera dimulai dengan niat/usaha yang sungguh-sungguh/keras—jika niat sudah ada, pelaksanaan tidak perlu ditunda dan tidak dijadikan legitimasi diri, melainkan untuk diamalkan dan didistribusikan agar memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.
Orang berilmu, dalam kerangka ini, dituntut memiliki kemampuan menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu. Dalam istilah Jawa disebut Nyantosani (dalam bahasa Jawa) artinya memperkuat, meneguhkan, atau membuat sentosa/kokoh. Kata ini berakar dari santosa (sentosa/kokoh) dan sering digunakan dalam konteks membangun kekuatan batin, niat, atau tekad, serta Pangekese dur angkara, yang berarti penolak, pengekang, atau pengalah angkara murka (hawa nafsu jahat/perbuatan tercela). Secara utuh, frasa setya budya pangekese dur angkara bermakna ketulusan budi pekerti atau usaha keras yang mengalahkan sifat-sifat buruk dalam diri. Di Lamongan atau dalam khasanah Jawa, prinsip ini dikenal sebagai memayu raharjaning praja—mengupayakan ketenteraman dan kebaikan bersama, bukan sekadar kepentingan pribadi.
Tanpa laku semacam itu, adab mudah tereduksi menjadi formalitas. Perilaku yang tampak santun bisa berubah menjadi sekadar topeng sosial, alat legitimasi, atau sarana pencitraan. Dalam kondisi ini, adab belum mencapai makna sejatinya karena tidak berakar pada pengendalian diri dan kesadaran moral.
Mas Humam juga menceritakan kisah Dewa Ruci dalam khazanah spiritual Jawa kerap dijadikan contoh tentang ilmu kesejatian. Bima tidak memperoleh pencerahan melalui ceramah atau hafalan, melainkan melalui perjalanan batin dan disiplin lelaku. Pengendalian emosi, penyucian niat, hingga pengaturan pola hidup—termasuk menjauh dari hal-hal yang membangkitkan kekerasan dan nafsu—menjadi jalan untuk memahami hakikat ilmu.
Dengan demikian, ilmu bukan semata persoalan kecerdasan, dan adab bukan sekadar tata krama. Keduanya bertemu dalam laku hidup yang konsisten. Ilmu yang tidak dibingkai adab akan kehilangan arah, sementara adab tanpa ilmu berisiko menjadi kepalsuan. Di titik inilah genetika akhlak diuji: bagaimana watak bawaan manusia diolah melalui pengetahuan, ditempa dalam laku, dan diwujudkan sebagai kemaslahatan bersama.
Beliau mengibaratkan watak sebagai ruang yang terus diolah hingga menghasilkan akhlak. Pembiasaan memiliki peran penting, terlebih jika setiap aktivitas direspon dengan ilmu. Ia mengingatkan dawuh Mbah Nun dalam salah satu forum Sinau Bareng:
“Watak keras itu berbeda dengan watak kejam. Keras bisa lahir dari kesungguhan, sedangkan kejam (violence) lahir dari kehilangan ilmu dan rasa.”
Mas Humam menegaskan bahwa akhlak yang kita tanam hari ini akan membentuk takdir kita. Mengaitkan akhlak dengan konsep takdir sebagai qadar atau ukuran. Akhlak yang ditanam hari ini akan menentukan ukuran hidup di masa depan. Ia menegaskan bahwa husnul khatimah bukan sekadar harapan pasif, melainkan sesuatu yang bisa diupayakan melalui kebiasaan baik yang terus dirawat.
Sejalan dengan itu, Mbah Nun kerap mengingatkan:
“Takdir itu bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia dibangun pelan-pelan oleh pilihan, kebiasaan, dan kesungguhan manusia sendiri.”
Bahkan, menurutnya, husnul khatimah bukan sekadar harapan, melainkan sesuatu yang bisa dipelajari dan diupayakan melalui kebiasaan baik yang terus dilatih, hingga pada ujung kepastian kematian, manusia kembali kepada Allah dalam keadaan husnul khatimah.
Hasbunallah memungkasi kebersamaan malam itu, sinau bareng kali ini menjadi bahan refleksi kita, bahwa akhlak bukan sekadar wacana, melainkan laku hidup yang harus terus dirawat—di dalam diri, dalam relasi sosial, dan dalam perjalanan menuju Allah. Ini bagian dari langkah kita untuk terus melanjutkan persambungan genetika akhlak di masa yang akan datang. (Red./Semesta)









