Malam sinau bareng di Maiyah Cirrebes, 31 Januari 2026—hari lahir Maiyah Cirrebes yang kedelapan—dibuka dengan tawashulan dan sebuah flashback. Om Heru Nugraha, penggiat maiyah Cirrebes yang paling sepuh, mengajak jamaah untuk mengenang kembali kehadiran Ki Rastani pada ulang tahun tahun lalu (2025). Kehadiran yang rupanya masih terasa hingga kini, jauh melampaui sekadar momen seremonial.
Ia adalah peristiwa ilmu yang layak kita pelajari bersama. Pantun-pantun cerita dengan bahasa sunda Ki Rastani yang waktu itu terdengar seperti dongeng kesenian biasa—ternyata menyimpan pengetahuan dan hikmah yang belum benar-benar diilmiahkan oleh zaman. Apa yang beliau sampaikan tentang berbagai keadaan kini terasa nyata, dan mungkin tepat seperti yang akan terjadi.
Kebenaran, rupanya, sering hadir lebih dulu dalam laku dan penghayatan—sebelum sempat ditangkap oleh nalar akademik. Mungkin inilah yang kita sebut ngelmu: ilmu yang tidak cukup didengar, tetapi harus dipelajari, direnungi, dan dijadikan bekal hidup.

Namun jalan menuju ngelmu itu tidak selalu terbuka lebar. Penghalang terbesar justru bukan di luar—melainkan di dalam diri sendiri. Ketika hati enggan menerima, permata kebenaran yang terbentang tepat di depan mata pun tak akan pernah tersentuh. Maka sikap andap asor—kerendahan hati yang tulus, mengakui bahwa kita belum tahu—menjadi kunci untuk membuka pintu itu.
Dari sikap itu, kesadaran tumbuh. Segala sesuatu—bukan hanya benda-benda yang terlihat—bermula dari sana: kesadaran akan Allah, akan diri sendiri, dan akan sesama. Dengan pemahaman itu, dunia bukan lagi sekadar ruang fisik tempat kita menjalani hari-hari, melainkan ladang eling—tempat kita terus mengingat dari mana berasal dan ke mana akan pulang. Ya, itulah daur kehidupan.
Dari kesadaran itu, rasa ingin tahu tumbuh. Bukan sebagai sikap untuk membantah atau menolak—tetapi sebagai katalisator yang mendewasakan. Ia bekerja pelan namun dalam: membongkar pola pikir lama lalu menyusunnya kembali menjadi lebih jujur, lebih manusiawi, dan lebih bertauhid. Inilah proses sinau—belajar tanpa merasa paling benar.

Malam itu, banyak jamaah yang mengeluh tentang keadaan pendidikan formal kita saat ini. Sistem yang ada tampak terlalu sibuk mengejar pengetahuan dan angka—dan lupa akan fungsi yang lebih mendasar: membentuk manusia yang utuh. Tujuan belajar, pada hakikatnya, bukan sekadar menjadi pintar. Tetapi menjadi selamat—secara batin, akhlak, dan kehidupan jagad alam.
Yang paling mengejutkan dari malam itu adalah sebuah penemuan yang tidak direncanakan. Pengalaman dan penghayatan pribadi jamaah—khususnya tentang pentingnya keseimbangan antara kehidupan pra-modern dan modern—ternyata sejalan dengan yang pernah disampaikan pada Silatnas Maiyah 2025. Ilmu yang lahir dari hati dan pengalaman ternyata bukan sesuatu yang terpisah dari ilmu yang tertuang dalam karya-karya yang tertulis; keduanya saling melengkapi.

Dan muara dari semua ilmu itu adalah pengabdian—bukan hanya dalam ibadah mahdloh, tetapi dalam seluruh laku hidup: bekerja, bermasyarakat, berkeluarga, dan berbangsa. Tiga tangga akal yang disebutkan malam itu—Ulul Albab, Ulul Abshar, dan Ulun Nuha—menjadi peta perjalanan: titen berpikir dengan jernih, tajam melihat dengan tembus.
Karena pada akhirnya, ilmu yang sejati bukan berakhir pada data atau informasi. Ia naik menuju kebijaksanaan. Hati adalah wadahnya, dan kesucian batin-lah yang menentukan apakah ilmu itu akan menyelamatkan atau justru mencelakakan.

Maka doa yang sama, yang selalu kita ucapkan sebelum sinau bareng, menjadi fondasi terakhir:
“Subhanaka la ‘ilma lana illa ma ‘allamtana.”
Semua ilmu yang sejati—hanya dari Allah. (Redaksi Maiyah CirRebes)








