Manusia adalah makhluk lemah penuh kekurangan di satu sisi, tetapi diciptakan dengan potensi paling sempurna di sisi yang lain. Yang jelas manusia adalah bagian terpenting dari keluarga besar alam semesta. Muhammad Zuhri dalam sebuah puisinya menuliskan lirik berikut:
Bermilyar tahun
Semesta dalam keadaan tak sadar akan dirinya
dan ketika ia sadar akan dirinya
manusialah wujudnya.
Kecerdasan semesta adalah jalan untuk menulusuri hentakan “irama” semesta yang menyatu dalam cipta, rasa, dan karsa manusia. Supaya kita mampu menghadapi, mengolah, serta legawa atas peristiwa apa saja yang di luar kontrol kehidupan kita. Kecerdasan semesta akan membantu anda mengaktifkan dan menyingkap potensi-potensi terpendam yang selama ini terabaikan dan tidak kita berdayakan.
Salah satu rujukan utama metode ini, selain Alkitab dan Assunnah adalah beberapa karya Imam Al Ghazali, seperti Kimya’ al-saadah, Al Maqsid al Asna dan lain sebagainya. Imam Al-Ghazali dalam kitab Kimya-nya, misalnya, mengatakan:
ليس شيء أقرب إليك،
من نفسكك
فإذا لم تعرف نفسك, فكيف تعرف ربك؟
Tak ada sesuatu yang lebih dekat denganmu melebihi dirimu sendiri. Jika pada (diri) yang paling dekat saja engkau belum mengenal, bagaimana bisa engkau mengenali Rabb-mu.
Logika sederhana yang diusung Al-Ghazali itu bukan tanpa dasar. Beliau mengutip ayat ke-53 dari surat Fushilat:
سنريهم آياتنا في الآفاق وفي أنفسهم
Akan kami tunjukkan bukti-bukti (kebenaran) kami di atas ufuq-ufuq (cakrawala) dan pada anfus mereka.
Imam Al-Thabari dalam tafsirnya menjelaskan bahwa makna afaaq adalah langit, matahari, dan bintang gemintang, sedangkan makna anfus adalah jalan (lubang) keluarnya kotoran manusia, baik yang depan maupun belakang. Petikan ayat dalam surat Fushilat itu seakan menyiratkan segurat pesan bahwa antara benda langit yang hanya bisa di terawang dengan indera penglihatan (dalam ayat terwakili oleh kata afaaq) dan benda-benda bumi yang bisa diraba (anfus) terdapat hubungan yang sangat erat, yakni sama-sama menjadi media petunjuk Allah (ayat) bagi umat manusia.
Selain itu, Al-Ghazali juga mengutip sebuah riwayat masyhur yang mengatakan:
من عرف نفسه فقد عرف ربه
Barang siapa yang telah mengenal dirinya maka sungguh ia akan mengenali Rabb-nya.
Kata Rabb tidak hanya bermakna Tuhan sebagaimana terjemahan yang selama ini kita kenal, tetapi Rabb dalam bahasa Arab bermakna pengelolaan, pengasuhan, pengendalian dan penyelarasan. Artinya, manusia seharusnya bisa meneladani keselarasan semesta dalam pengabdianya kepada Tuhan.
Langit yang begitu tinggi menjulang rela mengalirkan airnya untuk bumi. Begitu juga bumi yang rela diinjak, diludahi, bahkan diberaki, telah sekian juta tahun menjadi pusat penanaman, pertumbuhan, serta pembuahan yang hasilnya dinikmati oleh hewan dan manusia.
Manusia adalah khalifah Tuhan di alam semesta. Pada dirinya ada mandat yang harus ia jalankan sebagai makhluk paling sempurna. Nah, mandat itu adalah tetesan pengelolaan yang Tuhan anugerahkan padanya sebagai bekal pengembaraanya yang sementara di jagat raya ini. Bagaimana sebenarnya seni mengelola diri ala kecerdasan kosmik? Bagian mana saja dari “diri” kita yang menjadi medan kelolanya?
Kecerdasan Kosmik
Kecerdasan kosmik atau kecerdasan semesta adalah seni mengelola dan mengolah sisi dalam manusia yang akhir-akhir ini mulai terasing dan tinggalkan. Saat manusia tersibukkan oleh apa yang menyilaukan matanya, saat itu pula ia telah terhalang dari kesejatian dirinya. Ingin cepat viral, ingin lekas sukses, ingin segera bahagia dan lain sebagainya. Itu wajar. Sebagai manusia, kita pasti tidak lepas dari keinginan, cita-cita, dan harapan di masa depan. Akan tetapi kita sering lupa bahwa keinginan adalah sumber kekecewaan; keinginan adalah biang ketakutan; keinginan adalah pangkal kesedihan. Berapa juta manusia yang kecewa gegara keinginanya tak terwujud? Berapa ratus orang yang berkonflik karena perebutan kepentingan? Berapa puluh orang yang meregang nyawa karena putus asa?
Fenomena di atas adalah potret dari dampak keinginan yang liar, ugal-ugalan, dan tanpa pengelolaan. Kecerdasan semesta adalah seni mengenali diri agar kita tidak hanya berani berkeinginan, tapi juga siap gagal. Kecerdasan semesta adalah cara untuk mengenali rasa agar kita mampu menerima apa saja yang di luar kontrol kita. Kecerdasan semesta akan menyingkap potensi-potensi terpendam kita yang selama ini kita abaikan dan tidak kita berdayakan.






