SYAWALAN SABAMAIYA SINAU BARENG TENTANG HARKAT KAUM PEREMPUAN

SabaMaiya Wonosobo Jawa Tengah edisi Mei 2023 dilaksanakan pada sore hari Minggu 7 Mei 2023. Acara yang dilaksanakan di D’Yoga Kp. Kusuma Baru Wonosobo ini menjadi momen silaturahmi, kumpul-kumpul sekaligus syawalan. Setelah saling sapa, acara dimulai dengan tawashshulan pada pukul 16.30 sampai menjelang waktu shalat maghrib.

Bakda maghrib forum dilanjutkan dengan diskusi dan sinau bareng. Edisi kali ini mengangkat tema “Feminist Thought”, tentang pemikiran feminis. Meskipun topik itu telah muncul berabad lalu, tema ini masih relate untuk di-sinauni.

Diskusi dimulai dengan mengulik mukadimah feminist thought atau pemikiran feminis. Feminisme adalah sebuah paham yang memperjuangkan kebebasan bagi perempuan untuk tidak dieksploitasi, tidak dimarginalisasi, dan tidak dijadikan objek kekerasan laki-laki.

Selanjutnya mukaddimah direspona oleh jamaah perempuan dan para istri. Mereka bercerita tentang kehidupan berumah tangga, bagaimana dinamika itu dijalani, tentang pembagian tugas dan peran antara suami dan istri.

Lihat juga

Ada sebagian dari kita yang hidup dalam lingkungan patriarkhi, lingkungan yang meyakini urusan dapur, memasak, mencuci, menjemur, bersih-bersih dan beres-beres rumah mutlak menjadi tanggung jawab seorang istri.

Pada dasarnya, apa yang diperjuangkan oleh feminisme itu memiliki persamaan dan prinsip-prinsip dengan apa yang diperjuangkan oleh Islam.

Di dalam Islam, feminisme dipandang sebagai upaya untuk melakukan penyetaraan dan perlakukan yang adil terhadap kaum perempuan sebagai makhluk Allah Swt.

Banyak yang berpendapat bahwa feminisme tidak menjadi masalah bagi Islam. Pasalnya, prinsip yang diperjuangkan oleh feminisme memiliki titik temu dengan cara pandang Islam. Terutama dalam menciptakan kehidupan yang adil dan setara antara laki-laki dan perempuan. Meski ada hal-hal yang tidak bisa ditawar, seperti perempuan tidak diperbolehkan menjadi imam shalat bagi laki-laki.

Sudah barang tentu ada aspek-aspek di mana feminisme menjadi persoalan dan masalah dalam menjalankan agama. Masalah terjadi apabila feminisme berkehendak untuk melakukan supremasi dan eksploitasi terhadap lawan jenis kelamin, yang dalam hal ini adalah kaum laki-laki. Cara pandang Islam menginginkan antara laki-laki dan perempuan berinteraksi secara adil dan manusiawi.

Berangkat dari sejarah, tidak berlebihan rasanya kalau kita katakan bahwa Nabi Muhammad adalah seorang feminis atau pelopor gerakan perempuan. Rasulullah menggunakan prinsip keadilan dan persamaan dalam menata dan membangun masyarakat Islam di Madinah.

Prinsip-prinsip itu jugalah yang digunakan dalam melihat relasi laki-laki dan perempuan. Kehidupan masyarakat sebelum Islam datang sangat patriarkhi yaitu lebih mengutamakan laki-laki dan menilai rendah perempuan.

Kanjeng Nabi sebagai seorang feminis juga dapat dilihat dari bentuk penghormatan terhadap ibu atau perempuan. Di saat beliau ditanya siapa orang yang paling dihormati, beliau menjawabnya ibu. Bahkan beliau sampai mengatakannya tiga kali, baru yang keempat kalinya adalah bapak. Hal ini bukan berarti Kanjeng Nabi membedakan kedudukan laki-laki dan perempuan baik di mata Allah, di masyarakat atau di keluarga, tetapi hal ini disampaikan guna merespons budaya saat itu yang tidak menghargai perempuan terutama ibu yang telah mengandung anaknya selama sembilan bulan. Dengan mengatakan penghormatannya ke ibu tiga kali dan baru ke bapak, beliau menekankan bahwa perempuan adalah sosok manusia yang terhormat, bernilai serta bermartabat.

SabaMaiya edisi ini dihadiri kurang lebih 35 orang dan ditutup tepat pukul 22.00 dengan doa dan salam-salaman.

(Redaksi SabaMaiya)

Lihat juga

Back to top button