1. Dalam perjuangan, manusia memerlukan empat hal, yaitu:
- Ideoware
- Brainware
- Software
- Hardware
2. Posisi Shahibu Baiti adalah pada wilayah ideoware.
Ideoware merupakan wilayah gagasan, nilai, visi, orientasi, dan spirit yang menjadi dasar bagi seluruh kerja perjuangan.
3. Ideoware/theoware—spiritual war perjuangan Mbah Nun—dapat dilacak melalui hakikat dan fungsi Islam, antara lain:
- Islam sebagai agama fitrah.
- Islam sebagai agama kebenaran.
- Islam sebagai agama kebaikan.
- Islam sebagai agama kesejahteraan dan kemakmuran.
- Islam sebagai agama keadilan.
- Islam sebagai agama keselamatan.
- Islam sebagai agama perdamaian.
- Islam sebagai agama ilmu.
- Islam sebagai agama publik.
- Islam sebagai agama pembebasan.
- Islam sebagai agama kesucian dan keindahan.
- Islam sebagai agama peradaban.
- Islam sebagai agama penumbuhan dan kemajuan.
- Islam sebagai agama nilai dan makna.
4. Dalam konteks kekinian, Shahibu Baiti lebih dekat dengan perjuangan untuk memosisikan Islam sebagai agama pembebasan.
5. Islam sebagai agama pembebasan bergerak dalam berbagai wilayah pembebasan, antara lain:
- Minadh-dhulumāti ilan-nūr — dari kegelapan menuju cahaya.
- Minal-munkari ilal-ma‘rūf — dari kemungkaran menuju kebaikan.
- Minal-bāthili ilal-haqq — dari kebatilan menuju kebenaran.
- Minal-‘usri ilal-yusr — dari kesulitan menuju kemudahan.
- Minal-mafsadati ilal-mashlahati wan-naf‘ — dari kerusakan menuju kemaslahatan dan kemanfaatan.
- Minasy-syarri ilal-khair — dari keburukan menuju kebaikan.
- Minal-itsmi wal-‘udwāni ilal-birri wat-taqwā — dari dosa dan permusuhan menuju kebajikan dan ketakwaan.
- Minal-jū‘i ilat-tha‘ām — dari kelaparan menuju ketercukupan pangan.
- Minal-khaufi ilal-amān — dari ketakutan menuju keamanan.
- Minadh-dhalāli ilal-hudā — dari kesesatan menuju petunjuk.
- Minal-‘ailati ilal-ghinā — dari kefakiran menuju kecukupan atau kekayaan.
6. Itulah wilayah yang menjadi ruang kerja pembebasan Islam.
Pembebasan bukan sekadar slogan, melainkan proses konkret untuk memindahkan manusia dan kehidupan dari berbagai keadaan negatif menuju keadaan yang lebih baik, sebagaimana tercermin dalam prinsip-prinsip tersebut.
7. Cara membaca, memahami, serta mema’rifati Shahibu Baiti antara lain sebagai berikut:
- Menghadirkan kata Allah pada posisi fungsional dalam setiap barisnya.
- Kata atau lafaz Allah kerap disembunyikan oleh Mbah Nun sebagai penyair.
- Metode ini dapat digunakan untuk menerapkan ilmu balaghah, yang memiliki tiga dimensi dengan energi sastranya masing-masing, yaitu:
- Dimensi badi’, yaitu dimensi keindahan.
- Dimensi ma’ani, yaitu dimensi kedalaman makna.
- Dimensi bayan, yaitu dimensi penjelasan.
Ketiga dimensi tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pemikiran secara rasional sekaligus fungsional.
8. Setelah ideoware terpetakan, barulah kita dapat membedah brainware, yaitu struktur penalaran, pemikiran, filsafat, pitutur, dan harapan yang terdapat dalam setiap baris Shahibu Baiti.
Apa yang disampaikan Mbah Nun melalui pengajian, pitutur, maupun rumusan gagasan tertulis pada dasarnya merupakan penjabaran dari brainware perjuangan yang diperjuangkan melalui Shahibu Baiti.
9. Software-nya adalah rumusan teknis, taktis, strategis, dan spiritual dari hal-hal tersebut, yang kemudian dilembagakan dan dijalankan melalui struktur organisasi Maiyah, mulai dari Simpul Maiyah hingga NM.
10. Hardware-nya adalah bentuk-bentuk konkret gerakan dan kelembagaan, seperti Progress, GERBANG, serta berbagai institusi atau perangkat perjuangan lainnya.
11. Anatomi spirit perjuangan Mbah Nun dalam melakukan berbagai liberasi dapat digali dari baris demi baris teks Shahibu Baiti, khususnya teks yang dibahas dalam pertemuan NM pada 9 Oktober di masjid depan rumah Akhid.
Dengan demikian, Shahibu Baiti dapat dibaca bukan semata-mata sebagai teks puitik, melainkan juga sebagai salah satu pintu masuk untuk menemukan ideoware, brainware, software, dan hardware dari spirit perjuangan Mbah Nun.








