SETIA MENJADI MANUSIA

Tasyakur 70 Tahun Mbah Nun

Semakin menua usia, semakin nyaman dengan keheningan. Tak jenak pada keramaian. Menghindari kebisingan. Dan jauh-jauh menjauhi ingar-bingar. Apakah teman-teman juga merasakan demikian? Atau perasaan ini hanya menghinggapi diri saya sendiri? Ataukah ini manusiawi terjadi pada manusia rentang usia tiga puluh ke atas?

Kalau manusiawi, syukurlah. Sayup-sayup,  nasihat bijak Mbah Nun terngiang-ngiang di telinga. “Menyepi itu penting. Supaya kamu benar-benar bisa mendengar apa yang menjadi isi dari keramaian.” Iya, benar. Hanya dengan ketenangan—kesunyian, kita akan mendengar dan mendapati apa yang sejati. 

Manusia sejatinya sendirian. Menempuh takdir hidupnya masing-masing. Dan kelak dipertanggungjawabkan atas dirinya sendiri. Abot enteng timbangan, tergantung amal perbuatan selama kiprah hidup di dunia. 

Masih ingat lagu kotak berjudul “Manusia Manusiawi”? Di lagu tersebut Tantri cs berkesempatan untuk kolaborasi dengan Mbah Nun. Dalam penggalan lirik yang liris itu, kita diingatkan kembali oleh Simbah tentang hakikat manusia. 

 

Manusia mengembarai langit

Manusia menyusuri cakrawala

Tidak untuk menguasainya

Melainkan untuk menguji dirinya

Apakah ia bertahan menjadi manusia

 

Tidak untuk hebat, kuasa, atau perkasa

Melainkan untuk setia sebagai manusia

 

Menurut saya, poin value-nya ada di kata manusia. Bertahan menjadi manusia. Setia sebagai manusia. Pesan Simbah tegas. Jelas. Dunia seisinya ini ujian. Ujian bagi seluruh manusia. Pahit-manis, hitam-putih, suka-duka, menerpa setiap diri manusia. Apakah ia tahan dan bertahan atas ujian itu? Setiap individu punya cara dan respons yang berbeda-beda. Bahkan beragam. 

Marah, anyel, sambat, sabar, syukur, kecewa, sedih, bungah, was-was, khawatir, takut, pasrah, legowo, itu semua bagian dari ekspresi (respons) manusia terhadap ujian yang menimpa. Dan itu manusiawi. Sangaaat manusiawi. Semua orang pasti mengalami. Itulah kemudian yang (seyogianya) menggugah kesadaran kita bahwa manusia aslinya tak berkuasa apa-apa atas dirinya. Apalagi dunia seisinya. 

Sayangnya, banyak manusia yang lupa atas keberadaannya. Klendran dari mana ia berasal. Semua anak cucu Adam berasal dari tanah, dan akan kembali ke tanah. Tanah itu rendah. Mestinya manusia bersikap rendah hati. Namun atribut keduniaan sungguh melenakan, dan melambungkan. Gelar, pangkat, harta, nyatanya mampu mengubah pola pikir dan perilaku manusia. Seolah perangkat tersebut bisa membuat manusia menjadi hebat, kuasa, dan perkasa. Padahal tidak! Menghitung bulu alis sendiri saja tidak mampu. Apanya yang hebat? 

Dan sepanjang tujuh puluh tahun, Mbah Nun menemani kita (anak-cucu Maiyah) untuk setia sinau menjadi manusia. Manusia yang eling sangkan paran. Manusia yang menginjak bumi, menjunjung langit. Manusia yang tememplek dengan Rabb Penciptanya. Manusia yang sesuai fitrahnya. Manusia yang manusiawi. Mau di atas atau di bawah, disanjung atau dirundung, ditakdzimi atau didhalimi, tetap panggah menjadi manusia yang memanusiakan manusia. 

Simbah pun tak lelahnya mengajak kita mencintai seraya meneladani (semampu-mampunya) manusia berbudi luhur, berakhlak mulia. Sosok idola. Figur panutan. Junjungan dan rahmat semesta alam. Baginda Nabi Muhammad Saw. 

Laqod jaaa-akum rosuulum min angfusikum ‘aziizun ‘alaihi maa ‘anittum hariishun ‘alaikum bil-mu-miniina ro-uufur rohiim. fa ing tawallau fa qul hasbiyallohu laaa ilaaha illaa huw, ‘alaihi tawakkaltu wa huwa robbul-‘arsyil-‘azhiim. 

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.”

“Maka jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah (Muhammad), “Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy (singgasana) yang agung.” (At-Taubah, ayat 128-129)

Ya Rabbi, Ya Nabi, sayangilah Simbah kami, seperti beliau menyayangi kami. Tanpa pamrih. Tanpa henti. 

Gemolong, Malam 27 Mei 2023

Lihat juga

Lihat juga
Close
Back to top button